GORESAN SEORANG AMATIR

Temukan harmoni dalam dirimu

Semakin tumbuh umurnya seseorang, maka rasa ingin tahunya mulai berkurang.

Mengetahui lebih jauh tentang Entrepreneur Thinking

Cara menjadi entrepreneur adalah dengan menggunakan prinsip "be like monkey"

Perbanyaklah ilmu, kelak itu semua akan menolongmu

Segala disiplin ilmu yang ada di dunia pasti akan bermuara ke kondisi khusus

Jangan mudah putus asa

Bila dirimu lelah, ambil wudhu, lalu sholat lah. kapan lagi berbisik ke bumi tapi didengar oleh langit

Mengenal lebih jauh tentang penulis

Alief Karunia, seorang yang selalu bertanya tentang kebenaran dan keberadaan. apakah eksistensi kita sudah memberi manfaat pada dunia lugu ini?

Jumat, 04 Maret 2022

Pohon Mangga dan Kupu-kupu

Lihatlah pengorbanan pohon mangga, ia berhasil berbuah setelah dipotong banyak dahannya. 

Lihatlah seekor ulat, yang harus bersusah-payah digenangi air liurnya sendiri, dalam kepompong yang menjadikannya elok.

Lihatlah seorang manusia, yang rela menghabiskan waktunya, ia belajar, berjuang keras, tapi tak kunjung merasa puas dan dapat meraih kesuksesannya.

Apakah 3 hal diatas merupakan analogi yang bisa disandingkan? jika ditarik kesimpulan maka untuk meraih kesuksesan kita butuh kerja keras, bahkan kita perlu mengorbankan bagian diri kita agar melangkah lebih jauh. 

Sayangnya kalimat motivasi di atas hanyalah sekadar kata belaka, tidak semua hal bisa dianalogikan.


Motivator goblok! pendusta!


Jutaan orang mengikuti seminar untuk mengembangkan diri, kepercayaan diri, semangat, motivasi, mereka lalu kembali dan tak menjadi apa-apa.

ada yang pulang ke rumah, bekerja keras lalu tetap menjadi pecundang

ada yang pergi ke kantor, ia berusaha keras dan tetap menjadi pecundang

ada yang tidak pulang-pulang lalu berhura-hura tentunya dia seorang pecundang

tidak ada yang pulang ke rumah, bermimpi, lalu menjadi seorang pemenang?


Ketika seseorang lahir, mereka tidak dikenal sebagai laki-laki atau perempuan, melainkan seorang pemenang atau pecundang. Dalam hidup, kedua hal tersebut harus ada kawan, rasionya pun 1:100. bukan, tidak sesedikit  itu, bahkan mungkin 1:1.000.000 keren bukan? seorang taipan memiliki 1.000.000 karyawan yang bisa ia perintah sesukanya.


Apa mungkin ada pohon mangga yang memang tidak ingin berbuah? ia lebih senang dengan menjadi rindang yang dapat membuat orang teduh karenanya?

Apa mungkin ada ulat yang tak berniat menjadi kupu-kupu yang indah, karena pikirnya ulat jauh lebih enak dan tak membuang tenaga?

Apa mungkin ada ulat yang memang tak berniat menjadi kupu-kupu yang beterbangan, karena tetap menjadi ulat itu asik karena tak akan menjadi tumbuh dewasa?


Tapi, apakah pohon mangga yang tidak berbuah itu lebih banyak dari yang berbuah? berarti rasio pohon mangga yang sukses daripada yang gagal 1.000.000:1 ?

Apa benar ulat yang berkembang jadi kupu-kupu lebih sedikit daripada yang gagal keluar dari kepompongnya?

Apakah manusia yang berhasil tumbuh dewasa itu manusia yang gagal?


Motivator tidak pendusta!

Motivator tidak goblok!

(nb: tidak pendusta belum tentu berarti jujur, tidak goblok bukan berarti pintar. Sebagaimana tidak kurus bukan berarti gendut tapi bisa berotot, berisi, gemuk dll)

Barangkali sukses dan gagal itu hanyalah bayangan semu

mungkin istilah pecundang dan pemenang itu hanyalah akal-akalan orang tua saja


Mengapa ada orang yang berhasil?

sepertinya motivator tidak sepenuhnya bohong, apalah arti rasio itu, sukses: gagal = 1:1000.000 dan pecundang : pemenang adalah 1 banding sejuta.

Hei, pemenang dan pecundang itu tidak ada kawan, tidak ada yang namanya kalah atau menang.

Pohon mangga yang berbuah dinilai berhasil karena hasrat manusia yang ingin memakan buahnya.

kupu-kupu dipandang indah karena sebagian besar manusia menyukai hal yang indah dipandang.

Bisa jadi pohon atau ulat tersebut tidak menghendaki untuk berbuah atau bertumbuh, namun manusia lah yang ingin membuatnya seperti itu

Bisa jadi manusia yang sudah berkembang dan menyayat dirinya itu tidak menginginkan berbuah, dirinya hanya ingin menjadi rindang di sekitar orang lain. 

Mungkin saja manusia yang telah tumbuh rindang tidak perlu berbuah dan telah mencapai tujuan hidupnya.

Boleh saja manusia tak menyadari bahwa ia telah rindang den meneduhkan, tapi dituntut berbuah.

Bisa jadi manusia tidak ingin menjadi kepompong dan tetap ingin menjadi bangsa ulat yang terus bergeliat di tanah.

Kesuksesan dan kegagalan itu hanyalah tolak ukur yang dibuat manusia, sedangkan gagal dan sukses tak lebih dari sekedar kata adjektif belaka.

Saya yakin, ketika seseorang dilahirkan, ia tidak dipandang sebagai entitas yang disebut laki-laki atau perempuan, bukan juga seorang pemenang atau pecundang. Namun ia dipandang sebagai seorang "manusia"


AKR, 3 Maret 2022

Makassar




Kamis, 02 Desember 2021

Gadis Jeruk (Review Buku)

Judul : Gadis Jeruk
Tebal : 119 Halaman
Author : Jostein Gaarder

"Aku tidak ada keberatan apa pun soal makeup mata dan lipstik. Akan tetapi, kenyataannya kita ini hidup di sebuah planet di ruang angkasa. Bagiku itu adalah pemikiran yang luar biasa. Sekadar memikirkan keberadaan ruang angkasa saja sudah membuat pikiran takjub. Tapi ada anak-anak perempuan yang tidak bisa melihat alam semesta lantaran eyeliner. Dan barangkali ada anak-anak laki yang matanya tak pernah melebihi cakrawala lantaran sepak bola. Mungkin ada jurang yang lebar antara sebuah kaca rias kecil dan kaca teleskop biasa! Kupikir itulah yang disebut orang sebagai “masalah perspektif”. Barangkali itu pun bisa disebut sebagai sebuah “pencerahan pandangan”. Tidak pernah terlalu terlambat untuk mengalami “pencerahan pandangan”. Tapi banyak orang menjalani seluruh hidup mereka tanpa menyadari bahwa mereka mengapung di dalam ruang hampa. Terlalu banyak hal yang terjadi di bawah sini. Memikirkan penampilan saja sudah cukup sulit"

-Jan Olaf

Gambar 1.1 Sampul Buku Gadis Jeruk dari App iPusnas

Tipikal novel ala Jostein Gaarder, mengejewantahkan filsafat dalam bentuk ringkas namun lugas. Setelah membaca bukunya tentunya mengarahkan kita pada pertanyaan agar memahami diri sendiri, kemudian dunia ini. Sejujurnya kita telah mengambang belasan milyar tahun di dunia ini, dan hidupnya kita di bumi tak lebih dari sekadar mengucapkan perpisahan dengan seluruh alam semesta. Buku ini penuh pengetahuan, membuat kita sadar pentingnya pandangan kita kepada dunia, sadarnya kita kepada teknologi. 

Buku tersebut sebagian besar bercerita tentang deduksi yang kurang akurat, mungkin lebih tepatnya praduga remaja labil yang sering asal menyimpulkan kebiasaan seorang perempuan yang disukainya lantaran begitu banyak kebetulan yang terjadi untuk mempertemukan dua karakter di dalamnya. Satu lagi ciri khas yang biasa dilakukan oleh penulis asal Norwegia tersebut, yaitu adanya pesan yang disampaikan, yakni lewat surat menyurat. Pada akhirnya suatu pesan akan sampai ke penerimanya, baik itu besok, minggu setelahnya, tahun setelahnya, atau beberapa dekade setelahnya. Pesan-pesan yang ingin disampaikan selalu sarat akan renungan-renungan kehidupan, kita hanya hidup sekali, kita hidup agar memastikan dongeng akan berakhir.

Buku ini bisa dikatakan dongeng romansa dan sains. Bagaimana penulis menguubungkan arti kehidupan, cinta, dan mata semesta. Kita akan dibuat terpana bagaimana sesuatu yang kebetulan itu terjadi, kita semua adalah bagian dari hal-hal detil yang terjadi, kita semua adalah pemeran utama. Satu pesan eksplisit yang selalu disampaikan oleh penulis dalam buku ini selalu mengingatkan kita kepada almarhum So Hok Gie, salah satu penulis dan aktivis Indonesia dengan pernyataannya berupa "Nasib terbaik ialah tak pernah dilahirkan, kemudian mati muda, dan yang tersial ialah berumur tua". Ada korelasi antara mengerti mengenai cinta, kehidupan, umur kita selama memgambang di alam semesta ini. Bagaimana kemudian kita meninggalkan bumi ini, orang kita cintai, bulan yang menggantung rendah di langit, bintang yang berkerlap-kelip, ketika sebelumnya kita dianugerahi oleh bumi dan seluruh isinya, lalu meninggalkannya bersama semua yang kita cintai. Yakin bahwa setiap hal kecil dalam hidupmu akan memengaruhi eksistensi bernama kamu di masa depanmu. 

Overall pendapat saya mengenai buku ini cukup bagus, terkadang membuat pembaca menyunggihkan senyuman atas keromantisan karakter dongeng dalam surat, dan tentunya alur cerita yang membuat lenasaran dari awal dibacanya buku tersebut hingga selesai. Bagi kalian para book lovers saya yakin kalian dapat menamati buku ini tak lebih dari 3 hari. Untuk ratingnya saya menilai buku ini 7/10. Sekian review dari saya kurang dan kurangnya mohon dimaafkan.

Salam Goresan Amatir
AKR
Makassar, 2 Desember 2021

Senin, 08 November 2021

Bone |Sulawesi Selatan|

Berada di barat daya Sulawesi Selatan, tanah membentang luas, padi dan jagung di sepanjang jalan. Langitnya tak akan secerah di kota, sebaliknya awannya tak akan semendung di Praja. Bumi itulah kota kelahiran pahlawan Bone yakni Arung Palakka, yang kebanyakan orang mengecapnya pengkhianat.

Anda hanya tak tahu, alasan mengapa ia berkhianat. Dulunya ia sama seperti kita, seorang manusia yang mencintai sesama manusia. Namun rasa cintanya yang tumbuh berlebihan membuatnya membunuh manusia, menghancurkan Kerajaan Gowa. Ia bersekutu dengan Belanda di jaman kolonial. Raja Arung Palakka, rasa tanggungjawabnya,  rasa cintanya kepada wa ogi, terhadap rakyatnya usai kekalahannya dalam sejarah perang daerah di masa itu. Selama dapat menaklukkan, tak perduli jika bantuan tersebut dari Belanda, cara apapun akan dilakukan. Na'asnya ia hanya tak tahu rasa dendamnya akan melahap dirinya sendiri dan bermuara menjadi penjajahan Indonesia.

Bone kampungnya orang bugis, sekarang telah menjadi kota, namun penduduknya tak pernah berubah. Orang-orang yang sangat ramah, sopan kepada siapapun yang datang, apalagi tamunya ialah orang bugis yang sudah lama merantau, orang bugis tak pernah melupakan perantaunya, sebaliknya perantau bugis tak pernah melupakan kampung halamannya. Indahnya hamparan sawah, menjadi satu dari sekian alasan mengapa orang bugis rindu kampung halaman.

Seorang professor, wakil presiden, orang bijaksana, banyak dari mereka yang berasal dari Bone. Jikalau ingin ke luar negeri pun bisa ke Bone, kita bisa ke China, U.S.A, dan Spanyola. Bahagiamu yang tak kau temukan di kota bisa kau temukan disini. Rasa bangga, rasa malu yang menjadikanmu hidup di bumi pun ada disini. Tanahnya Arung Palakka, seorang pahlawan yang dicurangi oleh buku pelajaran sejarah, dianggap sebagai pengkhianat, dan pemecah belah nusantara. Kawanku, ia hanya manusia normal ingin membela kerajaannya. 

Nafsu ujung balas dendam itu, hanya niat jahatnya yang dicatat sejarah.

Gambar B(one).1 Pesisir Batu Cempalagi

Sedikit cerita tentang Arung Palakka, yang bagimu mungkin bukan pahlawan. pada Tahun 1660-1663 Arung Palakka bertolak ke Buton. Sebelum berangkat ke Buton, Arung Palakka membuat singkeru pohon yang kini membatu, berbentuk simpul. Dari gua itu Arung Palakka turun ke pesisir Batu Cempalagi. Di tempat itu ia menghentakkan kaki (Mattudu) dengan kencang sembari bersumpah akan kembali membawa kemenangan untuk rakyat Bugis.

Hingga saat ini monumen itu masih abadi dan terus abadi di sebuah tanah yang disebut rumah oleh orang Bugis, di Kabupaten Bone.

Gambar B(one).2 Hentakan Kaki Arung Palakka

Mungkin, Tuhan menciptakan tanah Bone agar kelak orang-orang belajar bahwa dendam membunuhmu, hawa nafsu membuatmu menjadi abu. Kesalahan besar ialah pelajaran yang tidak boleh diulang. Maha kuasa ingin kita menanam kebaikan dan menuai kebaikan di ladang kehidupan. Percayalah bahwa di setiap sudut tanah Bone merupakan tempat yang indah, setiap nafas yang kau hembuskan semua tak sama disini, setiap jejak yang kau tinggalkan merupakan kehormatan bagi mereka, Tempat merasakan hangatnya rumah dan mengembalikan memoar lama. Ah iya, bagi yang ingin mengunjungi situs bersejarah ini, sila menuju pesisir Batu Cempalagi, Bone. Terakhir, izinkan aku bernyanyi untukmu lagu Bone yang bukan buatan orang Bone, I want you to Bone--  sekian dan terima kasih

Makassar, 9 November 2021
Salam Goresan Amatir
AKR

Senin, 05 Juli 2021

Masagena

Ia bersalah

Ia dimarahi

Dibilang bebal

Aku kasihan

 

Lalu ia dimarahi lagi

Tak bisa diandalkan

Aku tersadar ia disayang

Aku kasihan


Rabu, 23 Juni 2021

Jalan Sederhana Bunda Teresa (Book's Review)

Judul : Jalan Sederhana Bunda Teresa

Tebal : 140 Halaman

Author : Lucinda Vardey

“Mencintailah hingga terluka, dan jika cinta melukai, kamu akan menjadi lebih baik karenanya”

-  Bunda Teresa


Membahagiakan dan menolong banyak orang adalah hal yang terpuji untuk dilakukan. Dan Bunda Teresa, adalah seorang yang ditakdirkan untuk melakukan hal tersebut sepanjang hidupnya.

 Sang Bunga Kecil Yesus, itulah makna dari nama lengkapnya Teresa Lisieux tepat setelah mengucapkan kaulnya sebagai Suster Loreto pada 24 Mei 1934. Bernama asli Agnes Gonxha Bojaxhiu lahir di Albania pada tanggal 26 Agustus 1910 mendapatkan panggilan dalam panggilan untuk melayani yang miskin dari yang termiskin. Ia menghabiskan hidupnya hanya untuk membantu orang miskin, orang menderita penyakit cacat, kusta, AIDS, dan penyakit lainnya yang memupuskan asa untuk melanjutkan hidup.

Bunda Teresa mendirikan Misionaris Cinta Kasih di Calcutta, India. Wanita paling berpengaruh di dunia tersebut mendirikan berbagai sarana dan bangunan untuk berbagai aktivitas seperti Shisu Bavan, Nirmala Hriday yang menampung ratusan anak-anak terlantar dan berpenyakit juga orang dewasa yang kehilangan arah, pecandu obat, mantan pelacur dan alkoholistik yang mungkin umur hidupnya tidak lama lagi bahkan memberi mereka pekerjaan. Bunda Teresa menerima mereka semua dengan lapang dada tak peduli latar belakang mereka, agama mereka, siapa mereka, selama ia bisa membantu orang-orang yang kehilangan asa, ia merasa telah membantu Yesus dalam penyamaran-Nya yang menyedihkan.  

Buku ini bercerita tentang jalan sederhana Bunda Teresa, dimana jalan sederhana tersebut sangatlah mudah dipahami dan bisa diterapkan oleh agama dan keyakinan apapun karena sangat relevan dengan kegiatan spiritual manusia. Jalan sederhana tak perlu dipersulit, untuk menjadi orang yang bermanfaat tak butuh hal kompleks untuk melakukannya. Cukup melakukan hal-hal mudah, dimulai dari keheningan kita dapat menghayati setiap perbuatan kita terhadap manusia.

Ada 6 jalan sederhana yang selalu diutarakan oleh Bunda Teresa, yakni Keheningan, Doa, Cinta, Pelayanan, dan Damai. Dimana tiap tahapannya memiliki alur yang sistematis dan berpengaruh satu sama lain. Buah keheningan, menciptakan doa, buah doa menciptakan iman, buah iman menciptakan cinta, buah cinta menciptakan pelayanan, dan buah pelayanan menciptakan damai. Ada berbagai macam makna yang bijak yang dapat kita pelajari dari jalan sederhana tersebut, seperti Doa, jika saja perumpaan perjalanan itu seperti hidup dibumi sedang untuk sampai pada perjalanan tersebut kita membutuhkan kendaraan dan bahan bakar, maka Doalah bahan bakar yang dibutuhkan ketika kita berada di bumi, doa harus terus dirapal agar kita tidak kehilangan harapan selama hidup. 

Ada juga kisah tentang definisi cinta dari bunda Teresa, begitu banyak orang yang memberikan uang kepada pengemis, anak yatim, tapi bukanlah cinta yang mereka berikan. Ketika bunda Teresa beserta suster dan bruder lainnya memberikan pertolongan, ia turut mengusap kepalanya, memegang tangannya hingga pengemis tersebut bergeming seraya berkata, ini adalah tangan terlembut yang pernah kurasakan selama hidup. Kita lupa bahwa banyak bentuk cinta yang bisa kita berikan, seperti waktu, berada bersama mereka, berbicara, menggenggam tangan mereka, mengusap kepala dan wajah mereka, dan yang lainnya terlihat kecil namun berefek sangat besar terhadap mereka. Kita menerima hal yang lebih besar dari apa yang kita berikan dalam memberikan kasih sayang. Maka setelah semua hal tersampaikan mereka akan kembali menemukan jalan hidupnya dan merasa damai.

Pernah suatu ketika Bunda Teresa ditanya, apakah kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu? Berapa banyak orang miskin yang ada di India yang tetap miskin disana? Apa perbedaan pekerjaanmu dengan dengan organisasi bansos lainnya? Ia menjawab mungkin bagi sebagian orang mengira ketimbang memberi seseorang ikan, lebih baik mengajari mereka untuk menangkap ikan agar ia bisa makan tiap hari. Namun, di rumah Misionaris Cinta Kasih banyak sekali orang yang bahkan memegang pancing pun ia tak sanggup, bahkan berdiri untuk memegang pancing pun tak sanggup, maka biarlah ia melakukan tugasnya sendiri, memberi kasih sayang selagi masih sempat, dan diluar itu biarkan orang lain, organisasi lain melakukan tugasnya sendiri untuk melengkapi sisanya. 

Di rumah Misionaris Cinta Kasih banyak orang yang sembuh dari berbagai penyakit, salah satunya kusta, lalu setelah itu mereka diberi Pendidikan dan melanjutkan karir diluar, dan ketika sudah sukses mereka berkunjung kembali ke Calcutta sebagai rasa terima kasih, namun ada yang penyakitnya tak bisa sembuh dan kehilangan semangat kehidupan, maka ia memberikan nya kehidupan, kasih sayang, dan pekerjaan semampunya untuk orang-orang yang kurang beruntung dan memberi semangat untuk melanjutkan kehidupan mereka lagi kedepannya. Ia menuturkan bahwa segala kebaikan kita mungkin hanyalah mengurangi setetes dari total air yang ada di samudera, namun sekecil apapun tetesannya kita telah membantu dunia untuk menghilangkan kesengsaraan yang tertimpa terhadap manusia. Perbuatan Bunda Teresa seperti riak-riak yang timbul pada permukaan air ketika dilempar bongkahan batu, akan menyebar dan menginspirasi untuk orang-orang disekitarnya.

Untuk menghormati dan menyayangi orang miskin, para suster dan bruder harus mengucapkan kaul kemiskinan, karena dengan tidak lebih kaya dari yang miskin maka orang miskin dapat merasakan kehangatan yang lebih, cinta yang lebih. Yesus pun dalam penyamarannya bertahun-tahun seperti itu, begitu banyak kaul yang harus diucapkan para suster dan salah satunya kaul perkawinan yang semata-mata cintanya seorang hanyalah untuk Yesus. Menjadi tidak lebih kaya dari yang termiskin merupakan perbuatan yang baik dan hal tersebut berbeda dengan kaum stoik yang pasrah dan menerima keadaan mereka apa adanya tanpa keinginan lebih di dalam dirinya. Kita harusnya melepaskan diri kita, memberikan segalanya sehingga tidak ada yang bisa kita sisakan lagi untuk diberikan maka kita akan berada di dalam tahap ikhlas yang tertinggi dalam memberikan kasih sayang dan berbuat baik. Melayani orang miskin sama saja membantu Yesus menghilangkan penderitaan di Bumi, sebagaimana dalam Al Kitab “Apa saja yang kamu lakukan bagi yang paling kecil dari saudara-saudara-Ku, maka kamu melakukannya untuk-Ku”

Dalam berbagai narasi dan perkataannya selama masih hidup, banyak sekali kesamaan yang terdapat antara Islam dan Kristen, mungkin inilah sebab dari banyaknya juga donator muslim yang menyumbangkan dana nya untuk disalurkan melalui Bunda Teresa, contohnya saja ayat yang paling mirip diantara keduanya adalah bahwa kita harus melakukan yang terbaik untuk sesama manusia, karena semua yang ada di dunia ini bersumber dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. 

Buku ini diperuntukkan untuk orang-orang yang masih memiliki hati dalam dirinya, tak peduli apapun agama mereka.

Saya belajar banyak dari buku ini, banyak pengetahuan yang selama ini saya dapatkan baik tentang kristiani, jalan hidup, pergerakan Bunda hingga ia wafat, perjuangannya yang diwarisi beberapa manusia baik di bumi ini, bahkan pengikut dari Bunda Teresa hingga saat ini ada yang membantu rakyat Palestina yang terluka dan sakit karena ulah dari Yahudi, hingga saat ini. Untuk berbuat baik, kita memandang manusia sebagai makhluk yang lemah yang membutuhkan pertolongan. Pengetahuan orang Kristen bahwa mereka hendaknya tidak malu untuk mencintai Yesus dengan emosi mereka, Ayat “Apa saja yang kamu lakukan bagi yang paling kecil dari saudara-saudara-Ku, maka kamu melakukannya untuk-Ku” menjadi motivasi utama mereka untuk selalu berbuat baik, bagaimanapun kondisi suster, bruder dan Bunda Teresa. Mereka selalu menghaturkan doa sebagai bahan bakar utama mereka.

Lakukanlah perbuatan baik, karena kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Tak peduli apa latar belakang mereka, pada intinya kita hanya harus jadi manusia, tugas kita memberi kasih sayang bagi yang membutuhkan, bukan malah menghakimi seseorang sedangkan Yesus pun tak pernah menghardik dan mengkafirkan seseorang. Akhir kata, buku tersebut lumayan bagus untuk dibaca, relate buat agama apapun, sebagaimana Bunda Teresa menghormati tiap kepercayaan dan orang-orang yang meninggal pun ia makamkan sesuai tradisi dan kepercayaan yang dianut orang tersebut. Begitu banyak hal yang baik di dalam buku tersebut, ada pula kesan pesan relawan yang pernah bekerja di Calcutta yang tidak bisa saya ulas satu per satu, makna kebaikan, makna jalan hidup dan yang lainnya, Untuk rating dari buku tersebut saya berikan 3/5, terkait begitu banyak yang pengetahuan yang bisa terapkan dan kisah menarik dan inspirasi Bunda Teresa.

Sekian dari saya,

Salam Goresan Amatir

Makassar, 23 Juni 2021

AKR

 


Selasa, 01 Desember 2020

Aroma Karsa (Book's Review)

Judul : Aroma Karsa

Tebal : 702 Halaman

Penulis : Dee Lestari


Gambar 1.1  Cover Buku Aroma Karsa


"Andai bunga-bunga di dunia bisa berbicara, mereka akan menyatakan kecemburuannya kepada bangsa anggrek. Tidak ada bunga lain di dunia yang dapat membuat manusia tergila-gila"
- Janirah Si Pencuri

    Tak pernah membuat kecewa para pembacanya, itulah Dee Lestari yang kita kenal, sebuah novel baru yang dirilis pada tahun 2018 silam ini sangat sangat membuat para pembaca terbang berkelana dalam dunia fantasi-mistis yg berlatar di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Novel ini diriset oleh sang penulis selama 4 tahun lamanya, tak heran apabila Kak Dee menjelaskan se-detil mungkin bahkan se-filosofis mungkin terkait produk-produk yang telah dibuat oleh karakter utama yaitu Jati Wesi.

Novel ini sangat menarik, karena pengenalan karakternya yg sangat rapi, ibarat susunan puzzle, satu persatu rangkaian cerita yang penuh teka-teki, cerita mistis, misteri, cinta yang bertepuk sebelah tangan, hingga cinta yang terbolak-balik menghubungkan ke suatu peristiwa yang bahkan sulit ditebak untuk kedepannya. Alur dari novel tersebut pun berkisah maju-mundur, sehingga memaksa akal kita untuk memory recall tentang kejadian dan ucapan apa saja yang telah kita baca sebelumnya.

Ketika membaca cerita dari sang penulis "Perahu Kertas" ini saya mengetahui sebagian adat jawa, kehidupan bermukim di TPA, sisi gelap orang orang yang menjadi bos di penadah sampah. Seperti bukan kisah novel saja, mungkin inilah salah satu kelebihan dari kak Dee dibanding sebagian besar penulis lain dalam membuat novel fiksi. Cara Kak Dee menyampaikan cerita seolah olah kita melayang-layang dalam pikiran sebagai orang yang pertama di dalamnya. Kata-kata magisnya menyihir kita agar terus membayangkan apa saja yg telah termaktub.

Ceritanya cukup kompleks, sebagian besar isi cerita berisi tentang maniak parfum dan anggrek, mungkin terdengar biasa saja, namun lain ceritanya apabila kita telah membacanya sendiri, sangat menakjubkan. Bermula tentang seorang keturunan pelayan raja yang cukup nakal, ia lincah, suka mencuri, dan tergila gila dengan anggrek. Berkat kerja keras dan faktor X akhirnya ia berhasil merangkak dari dunia perbudakan menjadi seorang keluarga konglomerat, bukan hanya karena kerja kerasnya, namun gegara faktor X yang selama ini tersembunyi di istana. Waktu demi waktu berlalu sehingga ia beranjak tua, menjadi penggila anggrek dan pembaca dongeng, diselip dongengnya yang magis ternyata terdapat realita yang ia selalu cerita ke cucu perempuannya. Dongeng putri yang menggunakan sihir aroma karsa yang sejak awal dikiranya hanyalah dogeng, diungkapkan sebagai kebenaran sebelum akhir hayatnya. Perjalanan sang cucu yang bernama Raras inilah menjadi titik mula petualangan menemukan sang aroma karsa berkekuatan sakti tersebut. Seakan takdir memihaknya, Raras beranjak tua dan memiliki anak berkekuatan untuk.... rahasia dehh pokoknya baca aja, 2 karakter utama akan dipertemukan dengan se-unik mungkin.

Jujur saja, ini adalah rekor pertama saya membaca buku 700 halaman hanya dalam beberapa hari dan termasuk cepat lah ya, mungkin karena relate dengan kehidupan sehari-hari, berbau Indonesia sehingga tak ada bosannya kita untuk berhenti membaca. Oh iya, gaya penulisan kak Dee pun dibuat se-menarik mungkin, ibarat dalam kelas percintaan kita disuruh mengungkapkan kata cinta, tapi tak boleh mengukapkan kata "cinta" atau simonimnya dalam penyampaiannya, contohnya ketika ada dua pasangan bercumbu dalam cerita tersebut, kak Dee menulis "semakin dekat hingga tak ada lagi jarak antara bibir mereka berdua" itulah yang membuat imajinasi kita jalan dan membumbui cerita seseru mungkin. Biasa aja sih gua aja yg lebay kayaknya hehe. Tapi serius kalian akan sering mendapati penulisan seperti ini di novel beliau.

Overall, novel ini bagus banget pokoknya semua orang Indonesia harus baca, harus tau kehidupan terendah hingga yang terkaya, tau apa itu dedemit yg biasa disematkan pada pendukung Real Madrid, dan pokoknya banyak banget deh yang bisa ditau dari buku ini. Saya tidak akan membahas isi ceritanya karena nanti mengandung spoiler, saya hanya menceritakan garis besar saja. Untuk rate saya memberikan 4/5 untuk buku ini, karena sangat seru untuk dibaca

Sekian dulu review singkat dari saya, 
Salam goresan amatir! Sebarkan virus literasi

Makassar, 1 Desember 2020




Minggu, 22 November 2020

Retorika (Book's Review)

 Judul : Retorika 

Halaman : 406 Halaman 



Buku retorika ini pengarangnya sendiri adalah salah satu dari 3 filsuf terkenal yunani pada abad sebelum masehi, yaitu Aristoteles. Beliau merupakan anak didik dari Plato sekaligus menjadi  sang maha guru dari Alexander The Great.

Retorika sendiri adalah cabang dari ilmu filsafat, lebih tepatnya ilmu yg memekarkan diri dari kakek moyang ilmu filsafat. Sebagaimana kita tau, konsentrasi khusus tertentu akan memisahkan diri dari filsafat apabila itu telah diuji secara ontologi, epistimologi, dan pragmatis. Dewasa ini, ilmu retorika tersebut bermetamorfosis menjadi ilmu komunikasi, namun tak sedikit juga yg masih bersikukuh bahwa retorika tak sama dengan ilmu komunikasi, bahkan ada juga yang mengatakan inti dari seni berkomunikasi ialah ilmu retorika yg akan kita bahas ini.

Retorika sendiri ialah, seni persuasif, yaitu menggunakan segala instrumen baik yang ada pada diri kita maupun diluar diri kita untuk mempengaruhi orang lain. Secara singkat retorika berbicara tentang etos, patos, dan logos~ yakni dalam berbicara untuk mempengaruhi seseorang, hal pertama dilakukan ialah menjadi seseorang yang berkapabilitas dalam mengatakan sesuatu, tentunya ketika berbicara mengenai negara, orang-orang turut lebih percaya terhadap kata-kata instansi pemerintahan dibanding orang-orang yg hanya ngelantur tentang politik tanpa background yg menjanjikan, kemudian cara mendapatkan kesesuaian antara masalah yg dibicarakan sama dengan yg dialami sekarang, sehingga mendapatkan emosi dari para pendengar, ketika sudah mencapai tahap itu pendengar akan senantiasa mendengar apapun yg hendak diutarakan, apalagi dalam logos yg disampaikan begitu luas dan bijak sehingga dapat diterima oleh khalayak umum. 

Seumpama gayo dan robusta, retorika pun memiliki persamaan dengan dialektika, namun terdapat perbedaan mendalam dalm tujuannya. Dalam retorika orang-orang menuntut agar para pendengar berpihak kepada pembicara, melakukan cara apapun baik itu benar maupun salah dengan cara yg elegan, sejatinya dialektika ialah komunikasi dua arah yg tujuannya memang untuk menyingkap kebenaran yang masih tersamarkan. 

Buku tersebut merupakan saduran dari kitab yunani, isi dari buku tersebut selalu merujuk ke peristiwa peristiwa dan puisi pada zaman Yunani kuno. Apapun permasalahan dan solusinya akan diperumpamakan dengan yg telah terjadi di masa lampau, jadi ketika membaca buku ini kita harus mempersiapkan diri dengan banyak pengetahuan tentang tragedi yg terjadi di aceopolis tepatnya di Athena. Jikalau belum dibekali banyak buku tentang hal tersebut siap-siap membaca ulang kalimat per kalimat hingga 3-10 kali. Dalam buku ini, ada 3 saduran buku didalamnya. Sebagaimana kita tahu bahwa retorika, contohnya berbicara dalam pidato politik, yaitu terhadap siapa kita harus marah, kenapa kita harus marah, dan bagaimana kita menyikapi kemarahan tersebut.

Dalam berbicara tentunya kita harus memahami esensi dari yang kita bicarakan, jangan sampai kita "melek walang" yaitu kita berbicara sesuatu yang kita tidak tau sendiri apa yang kita bicarakan. Maka dari itu dalam retorika hal yang kita perlu tahu diawal ialah tentang banyak definisi, baik itu kebaikan, tolak ukur kebenaran, kebajikan, kebijakan, dan nilai-nilai lainnya dan dibandingkan dengan lawan katanya, sehingga kita dapat mengetahui apa yang kita bicarakan mengandung apa. 

Lalu buku kedua berbicara tentang emosi, seperti apakah senang itu, gelisah, marah, khawatir, takut, dll. Sehingga kita dapat menelaah lebih dalam apakah kita sedang marah, atau membuat orang marah, bagaimana definisi ekspresi itu sendiri. Seperti seorang ibu yg pantas mati, namun ia mati di tangan anaknya sendiri.

Dan buku ketiga ialah inti dari buku tersebut, sebagus apapun isinya, sepenting apapun isinya namun bila caranya menyampaikan tidak lah tepat, tidak tersampaikan ke hati dan emosi pendengar maka akan percuma. Maka dari itu buku pertama dan kedua sangat menunjang apabila membaca buku ketiga ini. Dalam menyampaikan terdapat banyak jenis cara, baik itu entimem, yaitu silogisme tak lengkap, maksim, simila, metafora proporsional dan yang lainnya. Semua akan dijelaskan cara berargumentasi, menyanggah pendapat orang, menarik simpati orang dan mempengaruhi. Pidato forensik, pidato politik, pidato epideiktik pun dijelaskan secara rinci sehingga kita paham dasar dasar yang baik salam berbicara.

Kurang lebih itulah isi dari buku tersebut, dan tentunya butuh waktu yang lumayan lama agar pembaca memahami buku tersebut, mestinya harus dibekali dengan banyak cerita dari negeri filsafat tersebut dan harus dibaca berulang ulang. Dirikupun harus membaca ulang buku itu kedepannya untuk kesekian kali. 

Maka dari itu, apabila ingin jadi seorang retoris ulung, sudah siapkah anda untuk membaca buku ini?

Untuk rating dari buku tersebut yakni 2.9/5 
Sekian review dari blog ini

Salam Goresan Amatir!
Mari kita sebarkan virus literasi


Red : AKR
Makassar, Anjungan Pantai Losari
22 November 2020