GORESAN SEORANG AMATIR

Temukan harmoni dalam dirimu

Semakin tumbuh umurnya seseorang, maka rasa ingin tahunya mulai berkurang.

Mengetahui lebih jauh tentang Entrepreneur Thinking

Cara menjadi entrepreneur adalah dengan menggunakan prinsip "be like monkey"

Perbanyaklah ilmu, kelak itu semua akan menolongmu

Segala disiplin ilmu yang ada di dunia pasti akan bermuara ke kondisi khusus

Jangan mudah putus asa

Bila dirimu lelah, ambil wudhu, lalu sholat lah. kapan lagi berbisik ke bumi tapi didengar oleh langit

Mengenal lebih jauh tentang penulis

Alief Karunia, seorang yang selalu bertanya tentang kebenaran dan keberadaan. apakah eksistensi kita sudah memberi manfaat pada dunia lugu ini?

Jumat, 20 Maret 2020

Ditutupnya Tempat Ibadah Sebab Virus Covid-19


Pandemi Covid-19 telah menyebar ke 152 negara, salah satunya adalah Indonesia. Virus tersebut telah mengganggu kelangsungan hidup manusia, baik dari ekonomi, politik, social, kesehatan, bahkan agama pun kena imbas dari virus jahanam ini. Disini penulis mau membahas ke tema agama saja biar pembahasannya tidak melebar, dimana penulis tidak tahan lagi karena melihat banyak orang yang gagal paham terkait surat edaran pemerintah untuk menutup tempat ibadah selama 14 hari.

BANYAK ORANG YANG LEBIH TAKUT DENGAN VIRUS, KETIMBANG KEPADA TUHAN
Sungguh saya merasa  sedih ketika mendengar statement seperti ini, kalimat tersebut selalu didengungkan baik yang tersebar di sosial media maupun di para kalangan pemuda dan orang tua. Bukan berarti berlindung di rumah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 itu mengisyaratkan bahwa kita lebih takut kepada virus ketimbang kepada tuhan, namun keputusan dari MUI dan Pemerintah sendiri itulah salah satu kuasa tuhan untuk mencegah maraknya penyebaran virus Covid-19. Bukankah kita disuruh untuk mentaati perintah pemimpin sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an : Taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu (An-Nisa : 59). Toh dalam hukum syariat juga sholat Jum’at itu hukumnya lebih mengarah ke Sunnah Muakkad daripada mengarah ke wajib, dimana bila terdapat udzur telah gugur kewajiban kita, atau kita telah diberikan kemudahan dalam beribadah.
Ada sepenggal kisah anekdot tentang seorang pemuda di lautan, begini ceritanya :

One day, a man was drowning in the water
And a boat came by and said “do you need any help?”
He said, “no thank you, god will save me”
Then another boat came by, said “do you need any help?”
And he said “no thank you, god will save me”
Then he drowned, and he went to heaven and he Said “God, why didn’t you save me?”
And god said “I sent you two big boats you dummy”

Source : line

Anekdot tersebut sangatlah pas dengan kondisi kita saat ini, dimana orang-orang terus berteriak dengan lantangnya “virus itu hanyalah mikroba yang kecil, apalah dia dibandingkan dengan kebesaran tuhan”  “virus itu datangnya dari tuhan, jadi kita harus lebih takut ke siapa?” dan berbagai kata kepahlawanan lainnya. Di satu sisi pernyataan yang disebut diatas memang benar, namun sebagai manusia yang merdeka oleh akal, kita harus bersifat rasional dan memahami hakikat dari kebenaran itu sendiri. Contohnya, bagaimanapun kita percaya dengan tuhan, namun tidak diiringi oleh perbuatan seperti dengan sengaja mencelupkan tangan kita ke dalam larutan kimia yang berbahaya, tentunya tangan kita akan tetap terluka walaupun berdoa sebanyak mungkin, dan takkan selalu ada keajaiban. Begitu pula dengan keadaan saat ini, dimana kita harus menjaga diri dengan menjauhi keramaian.

Lebih lucunya lagi, timbul polemik di masyarakat bahwa pemerintah hanya ingin menghambat keimanan orang islam, virus ini adalah sebuah konspirasi yakni senjata biologis untuk membunuh manusia. Begitu pendeknya pemikiran masyarakat kita, bukankah  kata Socrates kita harus kritis dalam memikirkan sesuatu? Janganlah kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita realistis saja dalam hidup yang begitu pilu ini, mari hadapi kenyataan dan melakukan tindakan pencegahan se-efektif dan efisien mungkin. Bahkan orang-orang meragukan kapabilitas para ulama MUI  dalam menutup tempat ibadah dalam upaya mencegah terjadinya penyebaran virus. Para ulama tidak akan sewenang-wenang dalam mebuat keputusan, pastinya mereka adalah orang yang memiliki kapasitas dalam ilmu dan pengetahuan terkait ushulul fiqh dalam islam, mungkin karena banyak dari kita yang tidak bisa membedakan antara Ulama dan Abid. Sehingga dari mereka banyak yang menentang ijtima’ dari ulama itu sendiri. Mari kita ketahui lebih jauh perbedaan ulama dan abid

Perbedaan Abid dan Ulama
Terdapat dua jenis manusia yang alim dalam islam, pertama adalah seorang abid dan yang kedua adalah seorang ulama, Abid adalah seorang ahli ibadah, yang dimana seorang abid banyak memiliki pengetahuan tentang ibadah-ibadah yang harus dilakukan, orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari ilmu syariat. Sedangkan ulama, dari kata alim yang artinya mengetahui, ialah orang yang memahami dengan baik dan mumpuni, pengetahuannya dipraktekkan dalam sikap, perilaku serta ibadahnya dikesehariaannya (Toyo:2017). Disini saya hanya ingin menyarankan kepada para pembaca untuk mempercayai seorang yang alim, bukan seorang abid yang beribadah mengikuti kata hati, naluri, atau hanya ikut-ikutan saja. Teman-teman kita yang baru hijrah belum tentu seorang ulama, lantas kita sebagai manusia cerdas harusnya paham dan membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran virus tersebut

LANGKAH YANG HARUS DIAMBIL
Memang benar, bahwa kita boleh takut tapi jangan panik, menutup tempat ibadah yang identik dengan tempat ramai bukan satu-satunya solusi dalam mencegah penyebaran virus, boleh jadi pemerintah membuat kebijakan untuk menscan tiap orang yang mau masuk masjid agar tidak terjadi penyebaran virus, menyediakan handsanitizer di tiap sudut masjid, atau dengan menyarankan para jama’ah untuk tidak bersalaman, kalaupun bersalaman sebaiknya segera mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah sama sekali. Namun  dengan refleksi bahwa kita belum punya teknologi untuk mendeteksi virus Covid-19 ini, satu-satunya langkah yang paling tepat ialah dengan menutup sementara akses ke keramaian, termasuk tempat ibadah. Apalagi  penyebaran virus dengan mudahnya ditularkan oleh lewat perantara udara saja, yang membahayakan kita semua khususnya kepada para orang tua dan lansia. Mari kita tanamkan rasa percaya kita kepada yang ahli, baik para ulama, tenaga medis, dan pemerintah dalam mengatasi epidemic jahanam ini. Toh yang diuntungkan kedepannya adalah kita sendiri, jangan sampai ke-egoisan kita sendiri lah yang menghambat usaha usaha mereka yang berjuang mengatasi virus Covid-19. Mungkin ini saja yang bisa saya tulis, kalau ada kurangnya itu berasal dari saya, dan kalau ada kurangnya lagi itu berasal lagi dari saya yang fakir ilmu

Salam Goresan Amatir!
AKR
20 Maret 2020

Kamis, 12 Maret 2020

Mengenal sisi gelap MLM : Multi Level Marketing


Multi Level Marketing (MLM) : Strategi Distribusi Yang Menyimpang

Halo semuanya, sudah sekian lama saya tidak menulis insight terkait bisnis dan pemasaran, mungkin karena penulis lagi dimabuk sastra sebelumnya hahahah. Disini saya akan mengulas tentang salah satu bisnis yang mungkin paling dihindari atau mungkin harus kita hindari. Karena baru-baru ini saya mendengar bahwa bisnis MLM yang dijalankan oleh ***** sedang stagnan dan tinggal hitungan waktu akan bangkrut. Orang tersebut juga saya baca di twitter akan dituntut akan bisnis yang dimulainya tersebut. Maka dari itu langsung saja kita mengenal sisi gelap dari MLM itu sendiri. Marikidiiii' 

Perkembangan bisnis terus saja mengejutkan bagi warga masyarakat Indonesia, dewasa ini revenue stream bisa dalam berbagai bentuk, tergantung dari kreativitas manusia yang menjalankan. Salah satunya adalah MLM yang sering dikaitkan dengan bisnis prospek. Dalam aktualnya, MLM lebih sering dikaitkan dengan strategi efisiensi dan efektifitas dalam pemasaran alih-alih dikaitkan dengan efisiensi distribusi.

Salah satu jenis bisnis yang kian mewabah khususnya di Indonesia ini adalah MLM (Multi Level Marketing), istilah ini pertama kali saya dengar ketika saya menginjak 16 tahun di bangku kelas 2 SMA tahun 2014. Perkara tersebut ramai diperbincangkan baik dalam meme, twitter, forum kaskus, dan media informasi lainnya. Hingga saya pun ditawari dan merasakannya secara  langsung oleh teman SMA saya yang juga berbisnis MLM dan untungnya saya tidak mau. Alhasil dagangannya tidak laku hahahah. Bisnis MLM kian identik dengan Product Life Cycle nya tren selama rentang 1-3 tahun lalu meredup dan bangkrut. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Originalitas Manajemen Distribusi

Sebenarnya MLM dilahirkan dari strategi Distirbusi konvensional, pengganti sistem distribusi yang dinilai masih bisa dikembangkan dan menghemat biaya operasional. Namun kenyataannya strategi tersebut tidak dapat disempurnakan sebagai strategi yang efisien dalam jangka waktu panjang. Mengapa begitu? Pertama-tama mari kita bahas terlebih dahulu  peranan dan fungsi Supply Chain Management (SCM) yaitu Manajemen Rantai Pasok, yang mengatur alur perpindahan produk baik itu dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi yang akan sampai ke Costumer atau End User. Tak bisa dipungkiri memang benar bahwa hampir 50% biaya yang dikeluarkan perusahaan adalah biaya distribusi, sehingga menjadi PR nomor wahid yang dimiliki setiap perusahaan bagaimana caranya melakukan efisiensi dalam mendistribusikan produk. Dewasa ini, salah satu solusi yang efektif dalam mendistribusikan produk dengan menggunakan jasa 3PL (Third Party Logistic) yaitu menggunakan pihak ketiga atau luar, bisa juga vendor baik itu swasta maupun anak perusahaan dalam mengatur strategi dan efisiensi dalam mendistribusikan produk. Hampir seluruh perusahaan menggunakan sistem 3PL agar perusahaan dapat fokus dalam proses bisnisnya dan fokus terhadap penjualan.

Salah satu strategi bisnis yang pasti diketahui oleh manager pemasaran adalah, bagaimana caranya agar produk kita tersebar luas dan merata kepada geografis yang membutuhkan, yang menjadi target pasar kita. Jangan sampai terjadi kesenjangan antara promosi iklan yang bertubi-tubi, namun produk yang dipasarkan tidak dapat dijangkau oleh para pembeli. Maka dari itu fungsi dan peran yang terjadi dalam proses distribusi barang secara holistik dari hulu ke hilir tidak akan luput dari yang namaya Produsen-Distributor-Konsumen. Philip Kotler (2003) menyatakan bahwa cara yang dapat dilakukan untuk menggerakkan Distribusi produk dengan mekanisme sebagai berikut

Produsen – Distributor - Sub Distributor – Wholesaler – Retailer - Konsumen

Namun pada masa sekarang, banyak yang menganggap mekanisme tersebut sudah dianggap tidak efektif lagi karena akan memuat waktu yang lama, gradasi produk, dan biaya yang relatif tinggi. Sehingga banyak produsen yang memilih untuk memutus rantai distribusi distribusi, dengan menghilangkan fungsi distributor, sehingga ketika sampai di wholesaler harga menjadi lebih sedikit murah. Namun bagaimana jika terdapat ratusan hingga jutaan wholesaler di penjuru lokasi pemasaran? Apakah akan diantar satu persatu? Tentunya perusahaan tidak dapat menghandle itu semua dan tidak memiliki armada yang cukup untuk mendistribusikannya, sehingga peran distributor pada akhirnya akan tetap menjadi ada, siapapun pelakunya. Distributor pastinya akan selalu ada dalam peranan Rantai Pasok Produk.  Walaupun benar bahwa rantai pasok sudah sejatinya seperti itu dari dulu, harga yang dipangkas tidak bisa dengan menghilangkan peranan distributor itu sendiri. Satu satunya solusi adalah dengan integrasi transportasi dan proses pembuatan rute yang kian rumit, karena transportasi akan melewati jalan umum dan kondisinya tidak bisa diramal dengan pasti.

Rantai Pasok sendiri pada umumnya begitu panjang dan beragam, seperti bisnis snack-snack yang mengalami perpindahan tangan yang panjang hingga bisa sampai di tangan konsumer (contoh snack taqychan) juga menurut para ilmuwan bahwa proses distribusi bahan pangan, merupakan rantai distribusi terpanjang yang ada, oleh sebab itu, produk komoditas yang dibeli dari petani itu bisa meningkat bahkan hingga 500% ketika sampai di tangan end user/customer.  

Namun seiring berjalannya waktu ada orang yang berhasil membuat strategi baru dalam mendistribusikan produk, bahkan dalam taktik marketing pun tidak dibutuhkan promosi sehingga biaya operasional yang dibutuhkan dalam proses pemasaran dapat dihemat dalam jumlah yang besar.


Pendisribusian Singkat Produk MLM ( Multi Level Marketing)

Nama MLM ini sejatinya bukanlah sebuah bisnis, namun strategi distribusi. Namun karena keunikan dari sistem distribusi yang secara tidak langsung juga mencakup fungsi marketing tersebutlah yang membuat namanya kerap dihubungkan dengan bisnis prospek MLM. Bisnis MLM dioerientasikan untuk menghemat biaya distiribusi. Dalam buku Aplikasi Strategi Perang Sun Tzu Dalam Pendistribusian Produk yang ditulis oleh Frans M Royan (2005) dijelaskan bahwa orang pertama yang mengenalkan strategi MLM adalah Rich De Vos dan Steve Van Handel, pendiri Amway Corporation di Amerika yang memulai bisnis dengan sistem MLM. Apa yang menarik dari bisnis dua sekawan itu dengan distribusi produk? Secara konvensional dan originalitas produk didistribusikan oleh Produsen – Distributir – Sub Distributor – Wholesaler – Retailer – Konsumen. Namun dengan cerdik dua sekawan tersebut memiliki taktik dan inisiatif, mengakali rute tersebut dengan memangkas tangan distribusi dari Produsen langsung ke Konsumen saja. Terlebih lagi, para konsumennya itu dijadikan sebagai bagian yang mendistribusikan produk. Dengan kata lain, dalam MLM konsumen sekaligus menjadi distributor.

Hal tersebut berlaku efektif dan efisisien, karena sejatinya bentuk promosi yang baik adalah dengan menggunakan kabar dari mulut ke mulut, atau dalam strategi perang china disebut kabar burung. Baik dari sisi marketing yang dapat membuat produk menjalar dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan memotong jalur distributor sehingga barang yang sampai ke tangan konsumen menjadi lebih eksis tanpa promosi yang berlebihan, di sisi distribusi pun akan tercapai karena produk tersebut akan tersebar luas layaknya domino yang berjatuhan, selama produk yang diberikan berkualitas bagus. Apalagi semakin banyak menjual akan semakin banyak komisi yang didapatkan selayaknya yang kita kenal MLM dengan baik. Strategi tersebut diapresiasi dengan baik diawal kemunculannya karena dikira strategi yang inovatif dan menjawab permasalahan yang ada.


Kehancuran dari sistem MLM

Namun berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, strategi tersebut tidaklah efektif bahkan dianggap cacat oleh sebagian ilmuwan yang berkecimpung dalam dunia distribusi, seperti Hermawan dan Siswanto menolak dengan keras bahwa strategi tersebut adalah solusi dari permasalahan yang ada. Kita sendiri tahu bahwa sudah banyak produk MLM yang kita kenal hanya memiliki jangka waktu produk yang sangat singkat, bahkan hanya berlangsung dalam hitungan satu sampai dua tahun sehingga akhirnya tidak ada kabarnya lagi. Hal tersebut dikarenakan sistemnya dari konsumen ke konsumen, konsumen itu sendirilah distributornya, sehingga membentuk pola rantai distribusi yang baru, menjadi Produsen-Konsumen-Konsumen-Konsumen 1- Konsumen 2 – Konsumen 3 - …….. Konsumen n. Telah terjadi perpanjangan tangan dalam sistem distribusi sehingga terbentuknya distributor dan sub-sub distributor lainnya sehingga membuat produk menjadi relatif mahal seiring bertambahnya waktu. Walaupun produk tersebar secara merata dan melebar, tak bisa dipungkiri bahwa distributor menjadi tersebar tidak merata dan menjadi tidak seimbang dengan penjualan yang diinginkan, contohnya di tengah rantai sub-distributor akan ada Distributor besar lainnya yang penjualannya lebih besar dari sub-distributor sebelumnya, hingga akhirnya pembebanan komisi tidak berlangsung secara adil. Tidak sampai situ, strategi tersebut berubah orientasi, dari penjualan produk menjadi penjualan konsumer, target dari penjualan sudah melenceng sehingga tidak menganut konsep costumer need lagi.  Sehingga pelaku bisnis fokus mencari orang alih-alih menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berubah. Acapkali pelaku bisnis MLM melakukan pencarian member baru untuk dijadikan distributor produk ke bawah, sehingga akan terjadinya sebuah inkoheren fungsi distributor dengan produk yang dijualnya. Akibat dari orientasi yang bergeser itu pula, akan terjadi sebuah money game demi mendapatkan komisi dari pihak produsen yang membuat aliran produk tidak sepenuhnya berjalan lancar. Kita sendiri tahu,  bahwa tujuan dari bisnis itu untuk memuaskan pelanggan,  memenuhi permintaan dan kebutuhannya. Lebih baik meninggalkan usaha yang tidak betul-betuk dibutuhkan oleh calon costumer.

Kita telah melihat berbagai produk MLM seperti Propol*s, M*MI1, Kl*rofil, Paytr*en dan banyak bisnis MLM lainnya yang tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang dikarenakan mekanismenya yang cacat. Bahkan tak sedikit mahasiswa ekonomi dan lulusan ekonomi pun yang terjerat dalam menggiurkannya bisnis tersebut. Padahal fungsi pemasaran itu berfokus terhadap produk dan kebutuhan,  bukan untuk orang yang dibohongi dan di iming imingi harta demi mendapatkan member baru. Semoga bisa tercerdaskan setelah membaca tulisan saya, mohon maaf atas kesalahan redaksi kata yang telah tertulis. Sang penulis sekiranya tidak akan berhenti untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Mari kita berpikir cerdas dalam kehidupan kita dalam mensejahterahkan manusia. Akhir Kalam

Salam Literasi
Salam Goresan Amatir

AKR, 12 Mar. 2020

Senin, 09 Maret 2020

Review Buku - Dunia Sophie


Review Buku – Dunia Sophie
Karya : Jostein Gaarder

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran selama 3000 tahun, dia hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe

Inilah dia, Dunia Sophie. Novel setebal 800 halaman yang sangat tidak membosankan, membuat anda yang membacanya tidak akan merasakan kantuk sedikitpun karena selalu terbebani pertanyaan dan pemikiran yang memutarbalikkan akal, walau pikiran tidak akan pernah dilihat. Seorang filsuf sejati tidak akan pernah menemukan jawaban, dia hanya semakin tahu akan ketidaktahuannya. Filo sendiri berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan yang berarti pecinta kebijaksanaan


                                             

Langsung saja di review yang akan saya ringkas secara singkat, awalnya saya mengira Dunia Sophie adalah sebuah cerita fantasy layaknya Harry Potter, Alice, dkk. Namun, sebagian besar novel ini adalah sebuah pelajaran filsafat haha. Ya. Sebuah pengantar filsafat lebih tepatnya. Namun dikemas dalam bentuk sebuah cerita, dongeng dan sedikit fantasy yang menggelitik. Pembaca akan diajak untuk berkeliling abad selama 3000 tahun. Dimulai dari abad 1500SM sampai abad ke 20 ini. Saya sendiri menjadi sadar dan lumayan suka terhadap filsafat (tapi bukan untuk dipelajari seumur hidup) hanya sebagai penunjuang ilmu. Karena filsafatlah bapak segala ilmu, filsafatlah yang mengasah kecerdikan dalam berpikir, filsafat lah ilmu dari pemikiran itu sendiri, filsafat lah yang membuat cara berpikir menjadi rasional dan sistematis.

Di awal, kita diperkenalkan dengan gadis 14 tahun bernama Sophie,  semua terasa biasa saja, sehingga ketika surat dilayangkan kepadanya, seluruh dunia secara drastis berubah. Gadis polos yang ingin serba tahu tersebut akhirnya memulai belajar filsafat yang berkembang selama 3000 tahun terakhir. Disini kita dibenturkan oleh banyak teori yang sangat masuk akal, science of racional, penolakan agama,  fase etika, esetetika, dan hal membelah kepala lainnya yang selalu diperdebatkan dalam setiap bab dalam buku. Semuanya terdengar masuk akal, mulai dari Parminedes yang menyatakan ada satu hal penyusun zat manusia, bahwa segala sesuatu itu kekal, dimana dia hanya lebih mengedepankan akal, ada juga teori Heraclitus yang mengatakan sesuatu itu mengalir,  tak ada yang persis sama,  dan dia lebih mengikuti naluri indrawi nya, Democritus sebagai orang pertama menyatakan teori Atom dengan nalar, tanpa menggunakan teknologi apapun dia bisa mendapatkannya, Socrates sang bapak besar perkembangan filsafat yang tak pernah menulis separagraf sekalipun, Plato yang menyatakan dunia ide, Aristoteles, John Locke, Hume, Immanuel Kant, tentang abad Renaisanans, Romantisme, hingga sekarang selalu ada teori yang mempertentangkan antara akal dan indra, ada juga yang meng-hybrid keduanya. Namun semua itu wajib dibaca demi dinamika pemikiran kita yang terus terasah di tiap ceritanya.

Mungkin pembaca hanya mengingat dengan jelas teori 3 bapak filsafat diawal, karena di tengah cerita kita sudah pusing dan melayang 1000 langit akan teori yang dijelaskan oleh sang mayor dan Alberto Knox hahah. Saya bukan anak yang pandai seperti Sophie yang selalu paham dengan perkataan Alberto, saya harus merenung dan terus merenung agar memahami kata-kata para filsuf sejati tersebut, cerita akan semakin seru ketika terlihat benang merah antara Sophie dan Hilde, kalian akan kaget bahwa sebenarnya Sophie adalah sebuah……. Rahasia lah, nanti gak seru kalau ditau jalan ceritanya heheh. *oh tidak, sebenarnya Sophie masuk ke dalam alam bawah sadarku dan melarangku.

Setelah membaca seluruh buku ini, saya seperti merasa telah menjalankan perjalanan ruang dimensi dan waktu, mungkin karena kita ikut terbawa oleh susasana cerita tentang filsafat, dan digabung dengan keadaan dongeng dan fantasy sehingga buku ini sangat asyik untuk dibaca.   akhir kata apa yang saya tahu setelah membaca Dunia Sophie?  Ya, yang saya tahu bahwa saya tidak mengetahui apa-apa. Mungkin itu lebih bijak.

Hanya ini saja yang bisa saya review, saya tidak bisa merangkum isi dari 800 halaman tersebut karena lebih baik mengandalkan empiris masing-masing dan akal masing-masing untuk merenungi hidup kita yang telah menelusup dengan nyaman ke dalam bulu kelinci dalam topi pesulap. Akhir kata.

Salam Literasi!
Liberte! Egalite! Fraternite!

AKR
Makassar, 10 Maret 2020

Note to Myself

Semua akan tiba pada masanya
kau akan menemui saat sibukmu
kau akan menemui masa sakitmu
kau akan menemui masa tuamu
kau akan menemui masa miskinmu
kau akan menemui saat mati mu

Barang siapa yang bisa mengenal alam
Maka ia bisa mengenal Tuhannya



Selasa, 03 Maret 2020

Review Buku - Deviant Love


Review Buku - Deviant Love
Karya : Sigmund Freud

Manusia lahir dengan cinta, bahkan lahir dari proses cinta. Begitupun kelak ketika mereka meninggal akan mati sebagai orang yang dicinta-i. Tapi, berbicara masalah cinta, ada yang berkata Cinta itu indah, cinta itu berbahaya, cinta adalah sesuatu yang tidak pernah kita bisa bayang sebelumnya. Namun, pada buku ini membahas terkait Deviant Love yang berarti cinta yang tak semestinya. Disini sang bapak pelopor psikoanalisis modern menggiring kita pada pandangan umum yang sangat sering dijumpai pada film film yang kita tonton, mungkin juga yang pernah anda temui. Terkait cinta yang abnormal, yang salah secara etik dan di luar norma yang berlaku di masayarakat. Bahkan tulisannya juga mengoyak perasaan saya yang pernah merenung bahwa cinta yang pernah ku khayalkan adalah cinta yang salah.



Disini Bapak Sigmund Freud tidak memberikan solusi terkait cinta yang tak semestinya tersebut, dia hanya menganalisa dan memberi tahu pengetahuan-pengetahuan yang ada. Kita terus dibuat bertanya-tanya dalam hati, tidak ada jawaban. Cuman bertambah pengetahuan, namun dari pengetahuan itu sendiri kembali pada diri kita masing-masing bagaimana kita menyikapinya sebijak mungkin. Hasilnya pun unik-unik dan mungkin salah satu dari pembaca adalah case yang pernah di tangani oleh bapak berkebangsaan jerman tersebut. Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang buku ini, dimohon untuk para pembaca yang masih suci atau dibawah umur agar tidak melanjutkan membaca, karena bisa mempengaruhi pikiran anda. Bahkan saya hampir semenit menganggap bahwa LGBT adalah hal yang lumrah, namun akan saya berikan juga pandangan saya tentang hal tersebut.

Pada awal buku kita dikisahkan terkait objek seksual dan dorongan seksual. Kita tahu bahwa objek seksual adalah orang yang ditargetkan untuk berhubungan lebih lanjut, dan dorongan seksual apa saja yang menjadi faktor mengapa seseorang ingin melancarkan aksinya tersebut. Seperti yang telah saya bilang di awal bahwa jenis cinta yang kita bahas disini adalah bentuk deviasi, yang jarang ditemui namun tidak menutup kemungkinan kedepannya kita akan bertemu dari salah satu mereka. Disini dijelaskan oleh bapak Sigmund Freud bahwa ada beberapa jenis yang menjadi tipe tertentu sebagai pilihan objek oleh lelaki, karena pada umumnya lelaki yang memangsa, dan perempuanlah yang dimangsa. Orang-orang yang kita jumpai mungkin sebagian ada yang memiliki kesenangan erotik. Terdapat kondisi cinta yang sulit dimengerti namun kita bisa bahas lebih lanjut sebagai berikut:

Tipe Pertama, di buku disematkan padanya yaitu tipe “orang ketiga yang mengganggu”. Ya, bukan seperti penikung yang kita kenal di Indonesia,  ada banyak sekali tipe yang seperti itu, mungkin karena pepatah terkenal yang mengatakan “sebeleum janur kuning melengkung”. Tapi, tipe yang kita bahas disini bukan tipe-tipe penikung yang umum dijumpai di sekitar teman kita, namun mereka orang-orang yang memiliki kesenangan erotis, ketika melihat sebuah objek seksual telah menjalin ikatan, ikatan yang sah secara hukum namun dia bersikukuh untuk mendapatkannya. Seorang wanita tidak akan mendapatkan daya tarik sama sekali, seihngga ia telah menjalin hubungan dengan pria lain, yang membuat objek(wanita) tersebut adalah objek seksual yang sangat menggairahkan. Jadi, beda antara palacci’/penikung di Indonesia. Di Indonesia penikung melakukan aksi atas landasan cinta sejati. Namun, pada kasus yang dibahas oleh buku tersebut adalah kondisi neurotis seseorang ketika dapat berhubungan dengan perempuan yg telah menjalin ikatan dengan orang lain.

Tipe kedua, kasus yang banyak dijumpai dibuku ini adalah cinta kepada perempuan yang identik dengan  pelacur, baik dari penampilan ataupun memang dari sananya pelacur, tidak jauh berbeda dengan tipe pertama, tujuannya adalah membuat lelaki lain iri ketika sang pelaku bersenggama dengan objek seksualnya. Lalu tipe ketiga adalah cinta yang lebih terasa bergairah dengan aturan-aturan yang kaku, lebih mengarah ke film 50shadesofgrey sih, jadi terdapat sebuah erotis yang berbeda setelah membuat sekian-sekian peraturan antara para pasangan sehingga membuat cintanya tidak normal dan ke arah perversi negatif.  Tipe ke empat adalah tipe dimana sang lelaki merasa dirinya sangat digantungkan oleh perempuannya, dimana kalau tidak ada sang lelaki maka perempuan akan merana dan terjatuh dalam lubang yang tidak ber norma. Laki-laki menjadi cenderung posesif dan mengawasi segala tingkah laku yang dilakukan objek seksual. Bahkan, dia merasa akan menjadi penyelamat ketika dia mengawasi sang perempuan alih-alih menjadi seorang penguntit.

Dari ke 4 jenis tersebut, apakah anda termasuk didalamnya? Dan apabila itu benar maka silahkan instropeksi diri anda masing-masing. Cinta yang anda miliki sejatinya bukanlah cinta yang sehat. Bahkan mungkin lebih tepatnya, menurut hemat saya, lebih baik tidak usah pacaran apalagi sampai melakukan hubungan seksual bersama pasangan. Dalam islam pun sejatinya dilarang berhubungan, apalagi berhubungan setelah merebut pasangan orang lain, hukunya RAJAM. 

Lalu, selanjutnya hal yang paling menarik saya baca disini adalah tentang bentuk cinta yang menyimpang, yaitu tentang homoseksualitas atau bisa kita sebut LBGT atau Inversi. Dalam hidup, saya selalu dihadapkan oleh banyak pelaku homo. Di kehidupan sehari-hari saya selalu saja ada kasus homo yang membekas di pikran saya, dan saya juga hampir menjadi korban atas perilaku tersebut. Saya bahkan heran mengapa ada orang yang bisa menjadi homo. Padahal kita sendiri tahu bahwa sebelum kita menjadi manusia kita adalah satu, namun dipisah menjadi dua jiwa yang berwujud laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan untuk mencari satu sama lain dan bersatu kembali. Namun, ketika mendapatkan kasus seperti ini akan membuat kita akan melihat jijik kasus tersebut. Itu adalah hal yang wajar karena kasus tersebut sangatlah jarang dijumpai dengan mata kepala sendiri.

 Dijelaskan dalam buku bahwa pelaku inversi itu ada 3 jenis. Yang pertama adalah Invert Absolut, dimana objek seksual mereka hanyalah mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama, bahkan ketika subjek tersebut dihadapkan oleh lawan jenis yang sangat maskulin/feminim, mereka tidak menunjukkan ekspresi ketertarikan sama sekali terhadap batinnya. Bahkan menolak untuk melakakukan hal-hal yang kita anggap tabu. Di analisa bahwa kasus seperti ini adalah sebuah penyakit, masalah keturunan gen, bahkan mungkin degenerasi neurotis. Ada juga hasil analisa tersebut bahwa ini adalah pembawaan yang sudah ada sejak kecil, yang bisa tumbuh akibat lingkungan dan pikirannya sendiri, lalu yang kedua adalah biseksualitas atau disebut invert amfigenus (hermafrodit psikoseksual), disini objek seksual nya bisa dua jenis kelamin berbeda, sehingga sangat sulit dibedakan apakah mereka tergolong orang normal pada umumnya atau tidak. Dan yang terakhir adalah orang yang bisa invert sesekali, adalah kondisi dimana seseorang tidak ada lagi kondisi seks yang normal untuk dilampiaskan, mereka memilih jenis kelamin yang sama sebagai objek seksual mereka. Pada kasus ini sering dijumpai orang-orang yang sudah tua, mereka berubah dari yang normal menjadi invert sesekali, atau mungkin atas pengalaman pahit yang terjadi ketika mereka melakukan hubungan seks normal.

Hal yang harus kita ketahui bahwa objek seksual pada jenis inversi ini adalah kebalikan dari orang normal, mereka mengalami berhenti tumbuh, pada kualitas tubuh dan pikiran lelaki, jadi ketika mereka beranjak dewasa mereka berpikir bahwa mereka adalah perempuan, dan mengidamkan sosok pria yang maskulin. Dari itu kita dapat menolak hipotesis bahwa LGBT adalah perempuan yang terjebak di dalam raga laki-laki. Mereka hanya terstimulus bahwa mereka adalah perempuan sejak dini sehingga menjadikan mereka seorang yang hemafrodit. Namun disamping itu banyak juga yang memiliki badan maskulin tapi tetap menjadi seorang Homoseksual, tapi dengan objek seksual yang berbeda, objek mereka adalah para lelaki yang memiliki kepribadian feminim seperti badan yang lemah, kurus, bahkan mental yang pemalu, sering menyendiri dan butuh bantuan ketika kesusahan adalah ciri dari cowok yang feminim yang diminati sebagai objek seksual kaum homo dengan berbadan maskulin tersebut. Maka dari fakta tersebut pun kita mendapatkan antitesis bahwa lelaki homo itu bukan jiwa perempuan yang terjebak dalam raga laki-laki.

Begitu tinjauan psikoanalisis yang dipaparkan dalam buku, terkait degenerasi, pembawaan, pembangkitan inversi, biseksualitas. Namun pada akhirnya kita dihadapkan pada satu kesimpulan bahwa hubungan tersebut sangatlah mungkin terjadi apabila terjadi ikatan kuat antara dorongan seksual dengan objek sekksual. Jadi langkah yang dapat kita ambil dalam menjauhi orang-orang dengan tipe sakit tersebut adalah dengan membuat jarak dengan pelaku seksual, jangan membuat mereka mimiliki dorongan seksual yang kuat terhadap kita.

Lalu menurut saya, apakah LGBT adalah sebuah hal yang lumrah? Menurutku tidak, mari kita berpikir hal yang paling fundamental, dimana Allah menciptakan dua pasangan yakni nabi Adam dan Hawa, dengan jenis kelamin yang berbeda, agar mereka kelak memiliki keturunan-keturunan yang saleh yang dapat menjadi khalifah di bumi. Semua hal diciptakan oleh Tuhan berpasang-pasangan, jadi kalau kita memilih untuk berpihak ke LGBT itu adalah sebuah kesalahan yang besar, kita melawan prinsip dasar yang sudah ditetapkan Tuhan. pikirkan baik-baik terhadap diri anda, itu bukan sebuah toleransi dalam berpikir, itu adalah naluri anda yang sudah tidak tajam lagi karena telah banyak terkikis oleh paham liberalis dari barat. Sekali lagi ingat, kecenderungan tidak sadar menuju inversi (homoseksual) tidak pernah ada.

Di bab lain juga dijelaskan penyimpangan seksual, dikenalkan kepada kita tentang seks dengan manusia yang belum matang ( anak kecil), dengan hewan, kesalahan anatomi (seks menggunakan bagian tubuh selain genital dan sekaput lendir) hubungan sadisme dan masokis, fetisis, seksual temporer, pelanggaran anatomi tubuh dalam seks. semua dijelaskan secara rinci tentang seks tersebut dan kepuasan dari masing-masing jenis perversi tersebut. Secara pengamatan umum kebanyakan dokter pemula juga mendiagnosa itu adalah degenerasi namun tidak. semua itu murni akan terjadi bila ada kesempatan, tidak hanya itu, karena ada juga dorongan seksual yang kuat. Dorongan seksual tersebutlah yang dapat mengalahkan rasa jijik dan rasa malu manusia itu sendiri. Begitu banyak kebetulan yang terjadi yang ditemukan sebagai asal usul perilaku perversi tersebut yang dijelaskan dalam buku, seperti predisposisi konstitional yang jadi bahan analisa pasien Sigmund Freud, dimana perilaku menyimpang tersebut adalah sebuah turunan. Tidak semua sifat predisposisi bersifat kuat, namun ada juga yang menjadi bawaan tapi terstimulus oleh pengalaman pengalaman dan pengetahuan seiring berkembangnya sebuah pribadi. Jadi, apabila  kita menjadi sebuah objek seksual tanpa menyadarinya. Kita harus cerdas dalam bertindak dan menganalisa orang-orang yang mengidap penyimpangan tersebut. Apakah anada seorang eksibisionis?  Psikoneurotis?  Masokis?  Kalau mau tau lbih rinci anda mungkin sebaiknya baca buku ini.

Ada lagi yang menarik disini,  tentang tabu keperawanan.  Mungkin berbanding terbalik dengan kita yang orang timur bahwa keperawanan adalah hal yang didambakan seorang lelaki, namun dari sudut pandang orang barat bahwa keperawanan dalam pernikahan adalah hal yang tabu. Bahkan ada kisah yang diceritakan dalam buku tersebut tentang seorang anak petani yang mencintai seorang wanita,  namun dia membuat asumsi bahwa wanita itu adalah "pelacur yang liar" sehingga ia membiarkan wanita itu menikahi seorang pria, agar sifat mematikan itu berubah menjadi halus,  dan berpengalaman setelah talak dan menjadi janda. Lalu si anak petani tersebut menikahinya.  Mengapa keperawanan dianggap tabu,  kalau kita meninjau dari segi orang primitif,  laki-laki cenderung melambangkan sesuatu yang ditemui dengan dewa dan alam. Ketika malam pertama seorang lelaki melakukan coitus dengan pasangannya maka akan keluar darah dan itu membuat pihak lelaki khawatir san cenas luar biasa,  mereka belum mengenal konsep keperawanan. Yang mengira itu semua berhubungan dengan spiritual dewa. Sehingga pada budaya barat lama,  terdaoat ritual perusakan terhadap perempuan pra nikah.  Wanita tua ditugaskan untuk merobek dan merusak selaput darah,  agar tidak terjadinya hal yg diinginkan di malam pertama pengantin melakukan coitus. Walaupun tidak ada jaminan bahwa pihak perempuan pastinya tidak akan mengalami frigiditas.

Namun, yang saya sayangkan disini ternyata apabila tidak ada wanita tua yang melakukan perusakan terhadap keperwanan perempuan,  maka ada seorang laki-laki yang memiliki tugas secara budaya untuk merusak perempuan. Jadi calon perempuan yang dinikahi itu sudah dikotori duluan oleh pria lain. Dan itu adalah bagian dari spritual dan dianggap lazim. Terjelaskan di bab ini bahwa nafsu seks perempuan sangatlah tinggi,  begitu banyak kisah tentang laki-laki tidak dapat memuaskan hasrat perempuan untuk mencapai frigiditas. Bentuk firigiditas tertinggi ialah ketika perempuan memeluk pasangan laki-laki dan menekan kearah dirinya ketika mencapai puncak, sembari memberi nafas yang terengah engah sebagai ucapan terima kasih pihak perempuan kepada lelaki.

Dijelaskan juga bahwa perempuan hanyalah membuat pihak pria menjadi lemah,  sehingga jaman dulu tidak ada pergaulan bebas,  setiap tempat adalah bahaya. Semua orang saling berkegantungan, tingaal bersama adalah pilihan yang tepat untuk meningkatkan kepastian jaminan hidup.  Sehingga jikalau hidup sendiri hanya meningkatkan resiki mati konyol. Bahkan hidup antara kaum adam dan hawa pun terpisah. Kaum hawa cenderung bergaul satu sama lain dan memiliki pembendaharaan kata sendiri,  dan memiliki tempat tinggal sendjri.  Jadi dalam adanya hubungan seksual di jaman primitif adalah hal yang tabu, dan membuat pihak laki laki menjadi tak berdaya di hari selanjutnya.

Ada juga tinjauan psikoanalisis awal mula terjadinya cinta sejak dini. Cinta pertama seorang anak laki-laki itu kepada ibunya,  yang membuat arah libido nya ke arah normal.  Sifat kasih sayang itu bersifat tunggal karena ibu cuma bisa satu, kita tidak mungkin dilahirkanoleh dua ibu yang berbeda. Juga peristiwa dilahirkan tidak bisa terulang. Maka dari itu sifat kasih sayang turun untuk mencari ibu yg baru sebagai subtitusi ibu,  namun bukan berarti harus mencari sama seperti ibu sendiri. Bukan seperti kasus Oedipal

Sedangkan untuk perempuan, cinta pertama tentunya kepada ibu, karenadia yang memandikan, menyayangi, menasihati, melarang. Namun itu untuk fase pra Oedipal, namun berlangsung untuk jangka waktu yang tidak begitu lama. Setelah fase pra oedipal maka arah libidonya berubah dan mencintai sang ayah,  akibat dari kastrasi yg membuatnya sadar dan membentuk feminitas. Lalu sang perempuan akan mencari sosok pengganti yg mirip ayah.

Hal yang membuat wanita memiliki transisi dari ibu ke ayah karena kasih sayang itu sendiri,  dan kastrasi. Terdapat ambivalensi emosional,  dimana terdapat kasih sayang yang kuat,  larangan yang kuat,  sehingga membuat ikatan cinta yang kuat akibat dari rasa sayang dan benci itu sendiri. Tinjauan psikoanalisis menjelaskan bahwa,  efek godaan,  elemen lain,  perilaku mendorong dan menghambat dari orang tua dan sebagainya dapat memicu suatu percepatan dan pematangan dari perkembangan seksual anak

Sebenarnya masih banyak lagi yang menarik dibahas dibuku ini, namun sayang nya bahasa yang digunakan oleh penulis adalah bahasa yang umumnya asing, dan tidak seperti puisi. Jauh dari kata estetika buat kita yang berlatar belakang pendidikan selain psikologi dan psikiatri. Ada juga tentang seksualitas perempuan namun lebih baik jadi pengetahuan pembaca saja hahah. Lebih baik tidak usah direview, Tingkat urgensi untuk membaca buku ini juga tidak terlalu urgent, lebih baik anda para pembaca review ku ini mempermantap ilmu agama dan yang lain saja daripada mempelajari psikoanalisis buku tersebut. Namun rating dari buku ini luar biasa fantastis, saya belajar banyak walau terkadang mmenggoyahkan iman saya hahah. 

Sekian dari saya, kurang dan kurangnya mohon dimaafkan, SALAM GORESAN AMATIR

Makassar, 4 Maret 2020


Senin, 02 Maret 2020

Review Buku - Bilang Begini Maksudnya Begitu

Bilang Begini Maksudnya Begitu
Karya : Sapardi Joko Damono

Tersering, ketika kita membaca seuntai sajak dalam buku kumpulan puisi atau antologi sastra. Masih banyak makna yang terkandung di dalamnya yang tidak kita ketahui. Apa yang tertulis dalam larik sajak belum tentu memiliki makna yang sama. Sajak selalu dipenuhi metafora, personifikasi, konvensi, simile dan majas-majas lainnya sehingga sukar bagi kita menafsirkannya, walaupun terkadang banyak yang suka karena seperti tantangan buat kita yang fakir Ilmu ini. Buku ini adalah karya Pujangga senior kita, bapak Sapardi Joko Damono, yang terkenal akan puisinya berjudul “Aku ingin mencintaimu dengan Sederhana”. Konon, puisi adalah mahkota bahasa. Namun,  sebelum kita lanjut tulisan ini, pastikan  anda sudah memiliki SIP (Surat Izin Berpuisi).

Saya tersadar bahwa apa yang tertulis di atas kertas itu akan menjadi abadi.
Saya tersadar bahwa kata yang ada bisa menjelma menjadi apa saja
Saya tersadar bahwa cerita dan puisi hampir sama
Saya tersadar bahwa berita dan cerita beda dalam keawetannya
Saya tersadar bahwa puisi itu juga bergerak mengikuti perubahan zaman
Saya menyadari, bahwa semua yang aku sadari hanyalah fiksi

Memang cocok bapak Sapardi ini menyandang gelar sebagai bapak puisi Indonesia, siapa yang tidak kenal beliau, bahkan dalam bukunya pun berkali-kali membuat saya terpukau akan gaya bahasa dan tulisannya. Seorang sastrawan ulung yang dapat disejajarkan dengan Goenawan Muhammad, Bachtiar, Chairil Anwar dan penyair lainnya.

                                                          

Di awal buku dikisahkan tentang sebuah puisi, tentang kronologi seorang pekerja yang memiliki kehidupan ironi. Dijelaskan bahwa ada perbedaan paling penting antara puisi dan berita. Keduanya memang sama-sama ditulis di atas kertas. Namun berita cenderung cepat basi dan membosankan, karena ditulis secara lugas dan singkat. Dan haram hukumnya melakukan pengulangan kata/bait dalam teks yang utuh. Sedangkan pada cerita, sajak, dan kesusastraan lainnya itu cenderung awet, karena gaya penulisannya yang semau penyair menjadikan berapa larik, kata-kata yang tak klise, dan kebanyakan kalimat yang mengandung multitafsir bahkan tidak bisa ditafsirkan.

Dalam buku terebut kita diajari berbagai macam karakteristik puisi, mulai dari sonata, syair, gurindam , balada, mantra, dongeng, dan tembang jawa. Namun, yang paling pentung dari itu semua adalah bagaimana kita memahami apa yang dimaksud oleh penyair dalam menampilkan sajaknya secara harfiah. Gerimis yang tertulis dalam sajak belum tentu berarti hujan, baja yang ditulis oleh penyair belum tentu berarti besi. Disini lah kita belajar memahami, masuk ke dalam alam pikiran seorang penyair. Bagaimana bisa penyair memiliki khayalan, pengetahuan, dan pengalaman yang begitu luas sehingga terciptanya permainan kata-kata dalam bahasa.

Sebelum berkenalan lebih dalam bersama sajak, hanya terdapat dua jenis sajak, sajak pertama ialah sajak yang memiliki makna tersirat, yang pastinya meninggalkan jejak di pikiran kita, membuat kita bertanya-tanya apa gerangan arti sajak ini? Orang gila yang bikin ini sajak hahah. Namun dibalik itu semua terdapat sebuah konvensi, ya seperti kata ambigu, yang sebagian orang tahu, bahkan orang yang tahu hanya orang yang hidup di masa lalu, jadi bahasa yang digunakan lebih arkais. Jadinya bahasa itu adalah masa kini (di masa itu), puisi dengan banyak makna tersirat itu lebih identik dengan puisi jadul atau puisi lama. Kita bisa menyebutnya dengan puisi prismatik. Mengapa disebut prismatik, karena ketika sebuah prisma dihadapkan cahaya akan membiaskan warna-warna yang baru, yang berartikan bahwa puisi tersebut bisa multitafsir sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan pembacanya.

Sajak jenis kedua adalah sajak lah sajak ang tersurat, sangat lugas dan tidak banyak pesan yang bertele -tele, kita lebih mudah memahami amanat yang ingin disampaikan penyair oleh para pembaca. Kita bisa menyebut puisi ini adalah jenis seni puisi modern, sudah sangat banyak penyair yang disukai di masa milenial kini, seperti Fiersa, Wiranagara, Mesin Ketik, Penagenic, Susyillona, Adimasnuel, Andi Gunawan, dan banyak lainnya yang sedang mencapai masa keemasannya dengan bantuan social media tentunya. Bapak Sapardi menamakan sajak modern dengan sebutan sajak transparan, karena isi dari puisinya akan terlihat dan tersampaikan langsung, tanpa banyak pengetahuan dan pengalaman kita bisa mengerti makna dan amanat yang disampaikan oleh penyair

Memang puisi itu selalu dipenuhi dengan yang tersirat dan tersurat, seperti dua buah koin. Tidak dapat dipsahkan namun dapat dibedakan. Puisi prismatik dan Puisi transparan. Bahkan setelah membaca buku ini saya merasa minder dengan apa yang telah kutulis, karena bahasa yang biasa kugunakan terlalu klise dan lebih cenderung ke arah puisi modern. Namun sebenarnya buku ini adalah buku apresiasi puisi, tidak ada sastra yang jelek, semua puisi dan bahasa akan berkembang sesuai dinamika yang ada. Namun lazimnya memang puisi lebih baik ditulis dengan bahasa yang tak klise dan memiliki multitafsir agar keindahannya tetap utuh hingga ke masa mendatang.

Akhir kata saya ingin mengutip puisi yang telah saya baca, dan lumayan menarik dan beramanat buat para pembaca blog ku. Puisi yang saya kutip ada dua, yaitu puisi transparan dan puisi prismatik. Pertama mari kita lihat sajak rumi, seorang sufi, dari zaman klasik Parsi :

Seorang Darwis mengetuk pintu
Mengeimis roti kering
Atau roti basah- apa sajalah

“ini bukan pabrik roti,” kata si empunya rumah.
“kalau begitu daging urat saja bolehlah.”
“apa rumahku ini seperti rumah jagal?”
“kalau sejumput tepung saja boleh?”
“apa kau dengar suara mesin giling tepung?”
“setetes air?”
“ini bukan sumber air, tahu!”

Apa pun yang dimintai darwis
Orang itu mengolok-oloknya
Dan tak sudi memberi apapun

Akhirnya darwis itu pun nyelonong masuk,
Membuka jubahnya, lalu jongkok
Seperti mau berak.

“hei, ngapain lu?”

“tenang, bung tempat yang kosong ini cocok untuk buang air besar,
Dan karena tak ada seorang pun yang menghuninya,
Dan juga tak ada tanda kehidupan
Ia perlu disuburkan”

Itu sepenggal sajak dari bukunya, apakah tersebut sajak lama atau modern? Sonata, prosa liris, ataukah gurindam? Apa maknanya? Silahkan menerka dengan komentar dibawah. Yang benar dapat….. rahasia

Sebenarnya masih banyaksajak menarik lainnya yang sudah diluar akal namun bisa dijelaskan oleh bapak Sapardi dengan metode perlambangan, konvensi, dan tools lainnya. Semuanya menakjubkan dan di luar nalar biasa. Dijamin anda akan menyintas waktu bersama penyair-penyair di buku tersebut. 

Mungkin itu saja dari saya, mohon maaf atas review singkat dan kurang berfaedah ini. Salam Goresan Amatir Indonesia


Makassar, 2 Maret 2020