Selasa, 29 Oktober 2019
Senin baru saja berlalu, selasa sudah beranjak, hari ini saya melakukan short trip dari Makassar-Malino untuk mewawancarai para petani yang tim kami duga memiliki masalah yang major. Dimana kami yakin bahwa petani (customer) dari tim kami pastinya memiliki masalah.
Seperti yang kita ketahui pada umumnya, jangan pernah menemukan solusi terlebih dahulu, karena tiap solusi belum pasti memiliki problem. Sebaiknya, kita harus fokus terhadap customer, yang memiliki problem, dimana problem tersebutlah kita harus mencari solusinya. Atas dasar hal tersebut kami memfokuskan diri, apakah memang probem yang kami duga itu memang ternyata benar? atau itu hanya perkiraan yang tak nyata?
Sir Khaerul Umam pernah menjelaskan di sebuah forum dalam kelas, bahwa kita bisa memvalidasi masalah dengan dua cara, yaitu uji masalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, dan uji masalah kuantitatif dengan cara yang begitu banyak seperti landing page, kuesioner, dll. Dimana setelah adanya uji masalah itu kita bisa mengetahui specific problem statement dan specific customer statement
Dalam Kasus kami, kami memiliki banyak customer, yaitu para petani, ibu rumah tangga, dan remaja yang tinggal sendirian (kos-kosan). setelah mengetahui cusstomer yang specific tersebut kami akhirnya mengambil sampel petani dan melakukan wawancara ke beberapa petani di Malino tepatnya di kelurahan pattapang. akan kami jabarkan hasil wawancara di bawah
1. Petani dengan profit sedikit & hasil penjualan tidak laku (Uji Masalah Kualitatif)
Di hari Selasa, 29 Oktober 2019 ini saya pergi ke Kelurahan Pattapang, Malino. Ya, untuk memvalidasi masalah yang kami duga. Kebetulan pada hari itu terdapat perkumpulan para petani, yang dilakukan oleh pak camat dalam 3 bulan sekali. Saya berhasil mewawancarai berbagai macam petani mulai dari petani strawberry, wortel, cabe, Daun Bawang, Kentang, tomat, dan Kol.
Para petani tersebut memang sudah lama menjadi petani, semuanya sudah menjadi petani selama puluhan tahun dan bahkan ada yang dari SD sejak tahun 70an. Setiap hasil komoditi terdapat berbagai macam masa panen, tergantung dari sayur atau buahnya, yang paling lama adalah panen setelah 4 bulan yaitu kol dan yang paling cepat adalah cabe selama 2 minggu. Saya melakukan wawancara secara mendalam yang memakan waktu sekitar 18 menit tiap petani yang saya wawancarai. Dari hasil wawancara yang saya dapatkan, ternyata masalah yang didapatkan petani lebih banyak dari yang kita duga, dan masalah tersebut adalah : kurang nya air, pupuk kimia, sehingga menyebabkan gagal panen. Gagal panennya pun biasa terjadi 1 tahun sekali atau dua kali. Para petani yang melihat masalah tersebut hanya bisa pasrah melihat problemnya, dan orang disekitarnya hanya bisa saling mendukung satu sama lain dengan kata2 penyemangat. di tambah lagi kami bisa membuktikan masalah yang kita duga yaitu Rendahnya Harga yang ditawar oleh para pengepul kepada petani yang menjual dagangannya. Contohnya kemarin Pak Ru**** petani yang tidak ingin direkam dan disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dia menjual Kol nya dan ditawar sangat rendah, pernah mencapai Rp.500 Rupiah per KG. namun, dipasaran kita mengetahui bahwa haarga per kilonya naik lebih dari 400%. Tak sampai disitu, saya menemukan petani wortel juga, yang pernah dia pasrah ditawar harga RP. 500 per KG. Ada petani lainnya yang bernama pak M*** juga sering mendapatkan kondisi dimana dagangannya layu dan expired karena tidak ada yang membeli, sehingga dia mendapatkan untung yang sedikit.
Setelah berbagai macam petani yang saya wawancarai, saya menjelaskan terkait app yang saya buat, dan tak satupun dari mereka menolak tentang gagasan saya untuk membuat aplikasi tersebut demi meningkatkan kesejahteraan mereka. Sekian, maaf saya hanya menjelaskan sebagian yang saya ingat dan saya catat. Karena tidak semua petani mau direkam dan di foto.
2. Remaja yang malas kepasar karena macet, lama, kumuh, tinggal sendirian di kosan (Uji Masalah Kuantitatif)
Untuk Calon Customer saya yang satu ini, saya hanya memancing mereka untuk mengutarakan, beberapa banyak orang yang memang merasakan malas kepasar, kumuh, dll. dalam hal bahwa mereka adalah remaja yang hampir semuanya belum berkeluarga. dan hasilnya sebagai berikut
Dari hasil polling yang kita lakukan di Sosmed, 71 orang mengatakan memiliki masalah yang hampir sama dan akan menggunakan solusi yang kita buat.
3. Ibu-ibu yang tidak sempat ke pasar baik itu wanita karir, dosen, dll ( Uji Masalah Kualitatif)
User yang terakhir adalah seorang ibu-ibu atau wanita karir yang sibuk sehingga tidak sempat belanja sayur ketika pagi maupun sore hari. saya melakukan uji masalah kualitatif dengan wawancara secara mendalam. Secara garis besar ibu tersebut mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk belanja di pasar karena dia sibuk kerja dari jam 07:30-16:00, dan sampai di rumah kadang-kadang pukul 17:00. Uang yang mereka keluarkan untuk belaja harian untuk sayur adalah sekitar 20.000an dan itupun belinya di pagandeng sayur. Harapan ibu tersebut kedepannnya adalah dimudahkannya beliau untuk membeli sayur melalui aplikasi, apalagi dengan harga yang standar. Menurut Beliau dengan hadirnya aplikasi yang akan membantu mendapatkan sayur akan sengat membantu kehidupan ibu rumah tangga baik yang sibuk maupun yang tidak
Para petani tersebut memang sudah lama menjadi petani, semuanya sudah menjadi petani selama puluhan tahun dan bahkan ada yang dari SD sejak tahun 70an. Setiap hasil komoditi terdapat berbagai macam masa panen, tergantung dari sayur atau buahnya, yang paling lama adalah panen setelah 4 bulan yaitu kol dan yang paling cepat adalah cabe selama 2 minggu. Saya melakukan wawancara secara mendalam yang memakan waktu sekitar 18 menit tiap petani yang saya wawancarai. Dari hasil wawancara yang saya dapatkan, ternyata masalah yang didapatkan petani lebih banyak dari yang kita duga, dan masalah tersebut adalah : kurang nya air, pupuk kimia, sehingga menyebabkan gagal panen. Gagal panennya pun biasa terjadi 1 tahun sekali atau dua kali. Para petani yang melihat masalah tersebut hanya bisa pasrah melihat problemnya, dan orang disekitarnya hanya bisa saling mendukung satu sama lain dengan kata2 penyemangat. di tambah lagi kami bisa membuktikan masalah yang kita duga yaitu Rendahnya Harga yang ditawar oleh para pengepul kepada petani yang menjual dagangannya. Contohnya kemarin Pak Ru**** petani yang tidak ingin direkam dan disebutkan namanya ini mengatakan bahwa dia menjual Kol nya dan ditawar sangat rendah, pernah mencapai Rp.500 Rupiah per KG. namun, dipasaran kita mengetahui bahwa haarga per kilonya naik lebih dari 400%. Tak sampai disitu, saya menemukan petani wortel juga, yang pernah dia pasrah ditawar harga RP. 500 per KG. Ada petani lainnya yang bernama pak M*** juga sering mendapatkan kondisi dimana dagangannya layu dan expired karena tidak ada yang membeli, sehingga dia mendapatkan untung yang sedikit.
Setelah berbagai macam petani yang saya wawancarai, saya menjelaskan terkait app yang saya buat, dan tak satupun dari mereka menolak tentang gagasan saya untuk membuat aplikasi tersebut demi meningkatkan kesejahteraan mereka. Sekian, maaf saya hanya menjelaskan sebagian yang saya ingat dan saya catat. Karena tidak semua petani mau direkam dan di foto.
2. Remaja yang malas kepasar karena macet, lama, kumuh, tinggal sendirian di kosan (Uji Masalah Kuantitatif)
Untuk Calon Customer saya yang satu ini, saya hanya memancing mereka untuk mengutarakan, beberapa banyak orang yang memang merasakan malas kepasar, kumuh, dll. dalam hal bahwa mereka adalah remaja yang hampir semuanya belum berkeluarga. dan hasilnya sebagai berikut
Dari hasil polling yang kita lakukan di Sosmed, 71 orang mengatakan memiliki masalah yang hampir sama dan akan menggunakan solusi yang kita buat.
3. Ibu-ibu yang tidak sempat ke pasar baik itu wanita karir, dosen, dll ( Uji Masalah Kualitatif)
User yang terakhir adalah seorang ibu-ibu atau wanita karir yang sibuk sehingga tidak sempat belanja sayur ketika pagi maupun sore hari. saya melakukan uji masalah kualitatif dengan wawancara secara mendalam. Secara garis besar ibu tersebut mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk belanja di pasar karena dia sibuk kerja dari jam 07:30-16:00, dan sampai di rumah kadang-kadang pukul 17:00. Uang yang mereka keluarkan untuk belaja harian untuk sayur adalah sekitar 20.000an dan itupun belinya di pagandeng sayur. Harapan ibu tersebut kedepannnya adalah dimudahkannya beliau untuk membeli sayur melalui aplikasi, apalagi dengan harga yang standar. Menurut Beliau dengan hadirnya aplikasi yang akan membantu mendapatkan sayur akan sengat membantu kehidupan ibu rumah tangga baik yang sibuk maupun yang tidak












