GORESAN SEORANG AMATIR

Rabu, 15 Juli 2020

Natural Leader (Book's Review)

Judul               :Natural Leader 
Karya              :Mark Van Vugt & Anjana Ahuja
Tebal Buku     : 303 Halaman

Pernah gak sih terbesit dalam pikiran kita, mengapa ada pemimpin?
Seperti apakah pemimpin yang baik itu?
apakah orang-orang yang lahir sudah ditakdirkan sebagai pemimpin?

Jika kita membuat kesepakatan bersama terkait pemimpin tentunya definisi kita secara implisit  sama,  bahwa pemimpin adalah orang yang bisa menggerakkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan, baik secara paksa maupun sukarela. 

Begitu banyak buku yang membahas tentang manajemen kepemimpinan, bagaimana menjadi pemimpin yang baik, seperti apakah pemimpin ideal. Mungkin buku tersebut sudah terlalu banal dan menjamur banyak sekali di rak-rak buku perpustakaan, maupun di meja belajar anda masing-masing. 

Pertanyaannya adalah, dengan begitu banyaknya buku terkait kepemimpinan yang begitu tebal dan  banyak apakah sering kita menjumpai pemimpin ideal? yang betul-betul dikagumi secara mayoritas oleh orang-orang? Nyatanya pemimpin tersebut hanya terdapat pada masa lampau yaitu pada seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan alur jalannya sejarah dunia ini, seperti Baginda besar umat Islam, Buddha, Kong Hu Cu, dan pemimpin besar lainnya. Namun di zaman modern ini kita sangat jarang menjumpai pemimpin ideal baik dari lingkup terkecil mulai dari RW, Ketua OSIS, hingga lingkup yang terbesar seperti CEO, Direktur, hingga Presiden sekalipun. 

Salah satu penyebabnya adalah kepemimpinan terus berubah seiring berkembangnya zaman, dinamika kepemimpinan terus berevolusi dan berinteraksi dengan gaya hidup manusia sejak 2 juta tahun yang lalu ketika manusia turun dari pohon (menurut buku ini). Ah, sebelumnya saya ingin menerangkan kepada pembaca bahwa ketika membaca buku ini anda harus menjadi penganut teori Evolusi oleh Darwin, jika tidak bisa percaya sepenuhnya, percaya sebagian saja *seperti saya. Karena buku ini menjelaskan secara rasional mengenai teori kepemimpinan evolusioner. Dimana semua ada sangkut pautnya dengan Teori Evolusi Darwin dalam bukunya "On The Origin Of Species" pada abad 18 silam. Hal yang saya percayai dari Teori Evolusi hanyalah dua, yang pertama bukan tubuh yang berevolusi secara total, namun akal terus berevolusi dalam 2 juta tahun terakhir ini. Yang kedua, antropometri manusia lah yang berubah sepanjang jutaan tahun manusia hidup di bumi, orang-orang yang tersebar di dunia memang memiliki bentuk tubuh dan kognitif yang berbeda secara signifikan. Baik yang tinggal di Asia, Eropa, kawasan pegunungan, pantai, dan urban memiliki ciri khas masing-masing secara general. Teori seleksi alam pun dapat terbukti dengan analogi ngengat hitam dan putih yang tinggal di kawasan Industri yang mungkin sudah sering para reader baca di berbagai kitab yang ada.

Langsung saja, buku ini menjelaskan klasifikasi pemimpin. Seperti apakah natural leader itu? apakah pemimpin itu dilahirkan dan bukan diciptakan?Di awal kita disuguhkan terkait macam-macam pemimpin, dimulai dari teori pemimpin besar bahwa pemimpin itu terlahir untuk menjadi pemimpin seperti baginda umat islam,  teori pemimpin sifat baik, karisma, transaksional (pekerja kantor), transformasional, terdistribusi, dan pemimpin pelayan. Jadi sebenarnya pemimpin itu sudah melekat pada diri kita sendiri, namun tergantung pada situasi dan kondisi tertentu manusia menginginkan kepemimpinan yang seperti apa. Mengapa ada pemimpin?  dalam buku ini terdapat teori menarik bahwa hakikat dari manusia adalah adanya keinginan untuk mengikuti. Kita diwariskan sifat selama berjuta-juta tahun pada gen fan akal oleh nenek moyang kita. Bahwa jauh didalam lubuk hati dan perasaan, kita sudah di program untuk mengikuti, dan lebih jauh di alam bawah sadar, kita ingin memimpin, namun jikalau tak mampu, kita menginginkan kesetaraan. Yah pada intinya, pemimpin ada karena kita semua memiliki naluri dasar untuk mengikuti. 

Pernah terlintas di benak kita, mengapa ketika ada sesuatu yang viral, atau sedang booming, secara tidak sadar kita pasti akan memiliki naluri untuk mencobanya walau sekali, mengapa kita mengikuti orang-orang dalam menggunakan facebook, twitter, dan medsos lainnya. Ketika melihat selebgram mencoba makanan yang baru, kita cenderung ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh selebgram tersebut. Secara kesimpulan diri kita sekarang ialah proses interaksi antara kepribadian id(bawah sadar) dengan lingkungan sekitar kita. Tak hanya itu, bahkan bayi yang berumur 1 tahun pun akan tersenyum ketika melihat ibunya tersenyum, manusia sudah melekat atribut mengikuti sejak lahir. Mengapa hanya ada 1 pemimpin dari sekian banyak pengikut, karena kita adalah orang-orang yang sudah membawa atribut pengikut dominan dari 2 juta tahun manusia berevolusi. Mengapa begitu banyak pengikut dari pemimpin?  Karena mungkin saja kita adalah keturunan dari orang-orang yang menjadi pengikut dan terbawa hingga saat ini.  

Untuk mendukung bahwa statement diatas, kita memiliki sumur emosi yang dalam dan melekat pada diri kita semenjak lahir. semacam rasa takut kepada Laba-laba, ular, dan hewan buas lainnya, mengapa demikian? sementara menurut data bahwa orang-orang yang meninggal setiap tahunnya karena hewan buas tersebut mencapai 200an korban jiwa, sedangkan manusia meninggal karena kebringasan kendaraan di lalu lintas memakan korban sekitar 400.000an jiwa. Lantas mengapa orang-orang lebih takut kepada hewan ketimbang kepada mobil? Ya, hasil tersebut merupakan justifikasi sumur emosi yang kita bawa yang diturunkan oleh nenek moyang kita hingga sekarang,  hal tersebut pun berlaku ke pertimbangan kita, mengapa kita cenderung memilih tipe pemimpin  yang terlihat keren,  gagah, tinggi,  berahang tegas, yang cetakan pemimpin idealnya sudah terbentuk sejak jaman batu.

Disini saya tidak akan membahas semua isi buku, karena akan memakan lembaran yang sangat panjang karena ini hanya review, bukan resensi. Saya ingin menjelaskan poin pentingnya saja

Pertama, untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki atribut keadilan pada diri kita,  agar menjadi pemimpin yang bijak. Apakah ketika kita turun dari pohon kita msh belum mengenal keadilan? Dalam teori evolusi kepemimpinan dalam buku inu dijelaskan bahwa prinsip keadilan pada manusia sudah ada sejak kita menjadi kera dan telah dibuktikan dalam riset, yang menarik pada buku ini adalah banyaknya riset yang dilakukan baik terhadap hewan dan manusia dengan hasil yang memuaskan. Contoh, terkait kepemimpinan lebah, bahwa sebelum mencari sumber makanan yang akan dicari para kawanan lebah akan menari terlebih dahulu, semakin lama menarinya maka semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh sehingga lebah bisa mempersiapkan perjalanan panjang mereka. Primata yang mirip kita sangat mengerti konsep keadilan, ketika mereka dibayar tidak sesuai primata lainnya mereka akan menolak dan ogah-ogahan dalam melakukan sesuatu dan lainnya. Dalam penelitian dan riset tersebut mengingatkan saya tampak sifat sang pencipta. Membuat saya menyadari dibalik ini semua ada yang mengatur skenario bagaimana makhluk hidup mempertahankan populasinya dengan cara yang begitu menakjubkan. 

 Manusia yang dulunya monyet tersebut turun dari pohon dan memulai perjalanan barunya, dengan menggunakan akal dan kepemimpinan untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya. Mengapa manusia bisa bertahan hingga sekarang adalah karena dengan hidup bersama-sama dalam satu suku akan membuat manusia lebih menjamin keselamatan hidupnya. Tentunya dalam sebuah suku akan terdapat satu pemimpin, dan pemimpin tersebut adalah orang yang kuat. Berbeda dengan zaman sekarang pemimpin tidak haruslah kuat, namun sumur emosi kita membawa pemikiran tersebut sehingga kita terkadang memilih pimipin berdasarkan figurnya dan tampangnya. Kita memilih mereka yang memiliki karisma, karisma sendiri berasal dari kata kharis yang berarti anugrah dari tuhan. Dimana dengan intelektual verb nya yang dapat membuat orang kagum dengan caranya berbicara. Itulah inti dari buku ini, kita terkadang keliru dalam memilih pemimpin karena terkelabui oleh sumur emosi kita. Orang yang pandai berbicara belum tentu pandai mengurus negara.

Tambahan saya ingin membeberkan pandangan pemimpin dahulu dan sekarang, zaman dahulu suku hanya berfokus dengan bertahan hidup, maka yang kuat akan menjadi pemimpin. Namun pada saat tertentu, pemimpin akan berubah sesuai dengan bakat dan keahlian masing-masing. Ketika sumber makanan habis, maka seorang pengelana yang tahu dimana letak makanan dan minuman di tenpat yang tepat akan ditunjuk menjadi pemimpin sesaat sehingga fokus pemimpin hanya berorientasi pada satu hal, berburukah,  atau berpindah pindah.  Di zaman sekarang ini menjadi pemimpin begitu berat karena dituntut untuk dapat menangani segala hal, sehingga orang-orang mendambakan pemimpin yang dapat melakukan segala hal,  orang-orang menyebutnya pemimpin pelangi. Dinamika yang terkembang pada kepemimpinan membuat segala hal menjadi kompleks. Di jaman purba, terdapat angka dumbar yang berarti batas rata-rata jumlah suku yang terdapat pada masa lalu sebelum terjadi kerajaan adalah 150 orang. sehingga para pemimpin suku tidak terlalu khawatir dalam me manage anggotanya. berbeda dengan zaman modern ini yang menuntut pemimpinnya untuk mengayomi ratusan juta penduduk yang mustahil dilakukan tanpa kesadaran dari tiap-tiap insan untuk membantu.

Last but not least, yang menarik dari buku ini adalah mengapa kita kera yang mengenal konsep keadilan sejak belum berevolusi, dapat melakukan tindak korupsi, sedangkan dalam kepemimpinan kita, kita telah menjadi primata yang egaliter. despotisme dan sifat buruk lainnya yang tidak terdapat sebelumnya pada kita ketika masih menjadi kera. Pemicu terjadinya korupsi adalah ketika manusia mendapatkan surplus pangan (makanan) sehingga terbentuklah orang gendut pertama di bumi. Jaman dahulu orang-orang akan membagikan dagingnya ke keluarga lain, karena mereka hidup berkegantungan. Bisa jadi orang lain mendapatkan daging pada esok hari dan kita tidak. maka terjadilah sifat bahu-membahu untuk mereka yang hidup dizaman lampau. Namun semenjak terjadinya pertanian 13.000 tahun lalu orang-orang mulai membuat pemukiman dan terjadilah pembengkakan pertumbuhan manusia. Sehingga terbentuklah kedatuan, bangsa, dan kerajaan. Karena hal tersebut muncullah kesenjangan, orang-orang mulai mandiri dan tidak bergantung ke yang lainnya. Orang-orang kaya akan mulai berkuasa dan muncullah orang miskin, dan orang miskin akan menjadi pekerja dari orang-orang kaya itu. Manusia-manusia yang melihat celah melakukan korupsi sedikit demi sedikit untuk memuaskan nafsu mereka dan kerabat mereka yang terdekat. Kurang lebih seperti itulah mengapa kerakusan mulai tersebar hingga di masa hidup sekarang.

Mungkin ini saja yang bisa saya review dari buku ini, masih banyak sekali yang belum saya paparkan, seperti strategi mengatasi penguasa, mengantisipasi pengikut yang tidak loyal, mengapa kita ingin dipimpin oleh penguasa otoriter, dan masih banyak lagi. Buku ini pembahasannya terlalu luas karena membahas evolusi manusia semenjak 2 juta tahun lalu hingga sekarang. Hukum sebab akibar dan banyak riset dan analogi yang menarik yang harus dibaca buku ini demi insight kalian kedepannya. Bagaimana menjadi pemimpin yang diinginkan oleh orang-orang. Bagaimana kita menginginkan kesetaraan walau dengan kekuasaan yang hampir absolut. Pada intinya kita dicurahkan ilmu tentang sepenting apa pemimpin, darimanakah asal mulanya, dan bagimana kah natural leader yang betul-betul  kita inginkan saat ini. 

Demikian dengan apa yang telah kutulis, mari sebarkan virus literasi
SALAM GORESAN AMATIR!


AKR
Makassar, 15 Juli 2020

0 komentar:

Posting Komentar