Judul : Retorika
Halaman : 406 Halaman
Buku retorika ini pengarangnya sendiri adalah salah satu dari 3 filsuf terkenal yunani pada abad sebelum masehi, yaitu Aristoteles. Beliau merupakan anak didik dari Plato sekaligus menjadi sang maha guru dari Alexander The Great.
Retorika sendiri adalah cabang dari ilmu filsafat, lebih tepatnya ilmu yg memekarkan diri dari kakek moyang ilmu filsafat. Sebagaimana kita tau, konsentrasi khusus tertentu akan memisahkan diri dari filsafat apabila itu telah diuji secara ontologi, epistimologi, dan pragmatis. Dewasa ini, ilmu retorika tersebut bermetamorfosis menjadi ilmu komunikasi, namun tak sedikit juga yg masih bersikukuh bahwa retorika tak sama dengan ilmu komunikasi, bahkan ada juga yang mengatakan inti dari seni berkomunikasi ialah ilmu retorika yg akan kita bahas ini.
Retorika sendiri ialah, seni persuasif, yaitu menggunakan segala instrumen baik yang ada pada diri kita maupun diluar diri kita untuk mempengaruhi orang lain. Secara singkat retorika berbicara tentang etos, patos, dan logos~ yakni dalam berbicara untuk mempengaruhi seseorang, hal pertama dilakukan ialah menjadi seseorang yang berkapabilitas dalam mengatakan sesuatu, tentunya ketika berbicara mengenai negara, orang-orang turut lebih percaya terhadap kata-kata instansi pemerintahan dibanding orang-orang yg hanya ngelantur tentang politik tanpa background yg menjanjikan, kemudian cara mendapatkan kesesuaian antara masalah yg dibicarakan sama dengan yg dialami sekarang, sehingga mendapatkan emosi dari para pendengar, ketika sudah mencapai tahap itu pendengar akan senantiasa mendengar apapun yg hendak diutarakan, apalagi dalam logos yg disampaikan begitu luas dan bijak sehingga dapat diterima oleh khalayak umum.
Seumpama gayo dan robusta, retorika pun memiliki persamaan dengan dialektika, namun terdapat perbedaan mendalam dalm tujuannya. Dalam retorika orang-orang menuntut agar para pendengar berpihak kepada pembicara, melakukan cara apapun baik itu benar maupun salah dengan cara yg elegan, sejatinya dialektika ialah komunikasi dua arah yg tujuannya memang untuk menyingkap kebenaran yang masih tersamarkan.
Buku tersebut merupakan saduran dari kitab yunani, isi dari buku tersebut selalu merujuk ke peristiwa peristiwa dan puisi pada zaman Yunani kuno. Apapun permasalahan dan solusinya akan diperumpamakan dengan yg telah terjadi di masa lampau, jadi ketika membaca buku ini kita harus mempersiapkan diri dengan banyak pengetahuan tentang tragedi yg terjadi di aceopolis tepatnya di Athena. Jikalau belum dibekali banyak buku tentang hal tersebut siap-siap membaca ulang kalimat per kalimat hingga 3-10 kali. Dalam buku ini, ada 3 saduran buku didalamnya. Sebagaimana kita tahu bahwa retorika, contohnya berbicara dalam pidato politik, yaitu terhadap siapa kita harus marah, kenapa kita harus marah, dan bagaimana kita menyikapi kemarahan tersebut.
Dalam berbicara tentunya kita harus memahami esensi dari yang kita bicarakan, jangan sampai kita "melek walang" yaitu kita berbicara sesuatu yang kita tidak tau sendiri apa yang kita bicarakan. Maka dari itu dalam retorika hal yang kita perlu tahu diawal ialah tentang banyak definisi, baik itu kebaikan, tolak ukur kebenaran, kebajikan, kebijakan, dan nilai-nilai lainnya dan dibandingkan dengan lawan katanya, sehingga kita dapat mengetahui apa yang kita bicarakan mengandung apa.
Lalu buku kedua berbicara tentang emosi, seperti apakah senang itu, gelisah, marah, khawatir, takut, dll. Sehingga kita dapat menelaah lebih dalam apakah kita sedang marah, atau membuat orang marah, bagaimana definisi ekspresi itu sendiri. Seperti seorang ibu yg pantas mati, namun ia mati di tangan anaknya sendiri.
Dan buku ketiga ialah inti dari buku tersebut, sebagus apapun isinya, sepenting apapun isinya namun bila caranya menyampaikan tidak lah tepat, tidak tersampaikan ke hati dan emosi pendengar maka akan percuma. Maka dari itu buku pertama dan kedua sangat menunjang apabila membaca buku ketiga ini. Dalam menyampaikan terdapat banyak jenis cara, baik itu entimem, yaitu silogisme tak lengkap, maksim, simila, metafora proporsional dan yang lainnya. Semua akan dijelaskan cara berargumentasi, menyanggah pendapat orang, menarik simpati orang dan mempengaruhi. Pidato forensik, pidato politik, pidato epideiktik pun dijelaskan secara rinci sehingga kita paham dasar dasar yang baik salam berbicara.
Kurang lebih itulah isi dari buku tersebut, dan tentunya butuh waktu yang lumayan lama agar pembaca memahami buku tersebut, mestinya harus dibekali dengan banyak cerita dari negeri filsafat tersebut dan harus dibaca berulang ulang. Dirikupun harus membaca ulang buku itu kedepannya untuk kesekian kali.
Maka dari itu, apabila ingin jadi seorang retoris ulung, sudah siapkah anda untuk membaca buku ini?
Untuk rating dari buku tersebut yakni 2.9/5
Sekian review dari blog ini
Salam Goresan Amatir!
Mari kita sebarkan virus literasi
Red : AKR
Makassar, Anjungan Pantai Losari
22 November 2020






0 komentar:
Posting Komentar