GORESAN SEORANG AMATIR

Senin, 09 Maret 2020

Review Buku - Dunia Sophie


Review Buku – Dunia Sophie
Karya : Jostein Gaarder

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran selama 3000 tahun, dia hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe

Inilah dia, Dunia Sophie. Novel setebal 800 halaman yang sangat tidak membosankan, membuat anda yang membacanya tidak akan merasakan kantuk sedikitpun karena selalu terbebani pertanyaan dan pemikiran yang memutarbalikkan akal, walau pikiran tidak akan pernah dilihat. Seorang filsuf sejati tidak akan pernah menemukan jawaban, dia hanya semakin tahu akan ketidaktahuannya. Filo sendiri berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan yang berarti pecinta kebijaksanaan


                                             

Langsung saja di review yang akan saya ringkas secara singkat, awalnya saya mengira Dunia Sophie adalah sebuah cerita fantasy layaknya Harry Potter, Alice, dkk. Namun, sebagian besar novel ini adalah sebuah pelajaran filsafat haha. Ya. Sebuah pengantar filsafat lebih tepatnya. Namun dikemas dalam bentuk sebuah cerita, dongeng dan sedikit fantasy yang menggelitik. Pembaca akan diajak untuk berkeliling abad selama 3000 tahun. Dimulai dari abad 1500SM sampai abad ke 20 ini. Saya sendiri menjadi sadar dan lumayan suka terhadap filsafat (tapi bukan untuk dipelajari seumur hidup) hanya sebagai penunjuang ilmu. Karena filsafatlah bapak segala ilmu, filsafatlah yang mengasah kecerdikan dalam berpikir, filsafat lah ilmu dari pemikiran itu sendiri, filsafat lah yang membuat cara berpikir menjadi rasional dan sistematis.

Di awal, kita diperkenalkan dengan gadis 14 tahun bernama Sophie,  semua terasa biasa saja, sehingga ketika surat dilayangkan kepadanya, seluruh dunia secara drastis berubah. Gadis polos yang ingin serba tahu tersebut akhirnya memulai belajar filsafat yang berkembang selama 3000 tahun terakhir. Disini kita dibenturkan oleh banyak teori yang sangat masuk akal, science of racional, penolakan agama,  fase etika, esetetika, dan hal membelah kepala lainnya yang selalu diperdebatkan dalam setiap bab dalam buku. Semuanya terdengar masuk akal, mulai dari Parminedes yang menyatakan ada satu hal penyusun zat manusia, bahwa segala sesuatu itu kekal, dimana dia hanya lebih mengedepankan akal, ada juga teori Heraclitus yang mengatakan sesuatu itu mengalir,  tak ada yang persis sama,  dan dia lebih mengikuti naluri indrawi nya, Democritus sebagai orang pertama menyatakan teori Atom dengan nalar, tanpa menggunakan teknologi apapun dia bisa mendapatkannya, Socrates sang bapak besar perkembangan filsafat yang tak pernah menulis separagraf sekalipun, Plato yang menyatakan dunia ide, Aristoteles, John Locke, Hume, Immanuel Kant, tentang abad Renaisanans, Romantisme, hingga sekarang selalu ada teori yang mempertentangkan antara akal dan indra, ada juga yang meng-hybrid keduanya. Namun semua itu wajib dibaca demi dinamika pemikiran kita yang terus terasah di tiap ceritanya.

Mungkin pembaca hanya mengingat dengan jelas teori 3 bapak filsafat diawal, karena di tengah cerita kita sudah pusing dan melayang 1000 langit akan teori yang dijelaskan oleh sang mayor dan Alberto Knox hahah. Saya bukan anak yang pandai seperti Sophie yang selalu paham dengan perkataan Alberto, saya harus merenung dan terus merenung agar memahami kata-kata para filsuf sejati tersebut, cerita akan semakin seru ketika terlihat benang merah antara Sophie dan Hilde, kalian akan kaget bahwa sebenarnya Sophie adalah sebuah……. Rahasia lah, nanti gak seru kalau ditau jalan ceritanya heheh. *oh tidak, sebenarnya Sophie masuk ke dalam alam bawah sadarku dan melarangku.

Setelah membaca seluruh buku ini, saya seperti merasa telah menjalankan perjalanan ruang dimensi dan waktu, mungkin karena kita ikut terbawa oleh susasana cerita tentang filsafat, dan digabung dengan keadaan dongeng dan fantasy sehingga buku ini sangat asyik untuk dibaca.   akhir kata apa yang saya tahu setelah membaca Dunia Sophie?  Ya, yang saya tahu bahwa saya tidak mengetahui apa-apa. Mungkin itu lebih bijak.

Hanya ini saja yang bisa saya review, saya tidak bisa merangkum isi dari 800 halaman tersebut karena lebih baik mengandalkan empiris masing-masing dan akal masing-masing untuk merenungi hidup kita yang telah menelusup dengan nyaman ke dalam bulu kelinci dalam topi pesulap. Akhir kata.

Salam Literasi!
Liberte! Egalite! Fraternite!

AKR
Makassar, 10 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar