Review Buku –
Dunia Sophie
Karya : Jostein
Gaarder
Orang yang
tidak dapat mengambil pelajaran selama 3000 tahun, dia hidup tanpa memanfaatkan
akalnya – Goethe
Inilah dia, Dunia Sophie. Novel setebal 800 halaman yang sangat tidak
membosankan, membuat anda yang membacanya tidak akan merasakan kantuk sedikitpun
karena selalu terbebani pertanyaan dan pemikiran yang memutarbalikkan akal,
walau pikiran tidak akan pernah dilihat. Seorang filsuf sejati tidak akan pernah
menemukan jawaban, dia hanya semakin tahu akan ketidaktahuannya. Filo
sendiri berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan yang berarti
pecinta kebijaksanaan
Langsung saja di review yang akan saya ringkas secara
singkat, awalnya saya mengira Dunia Sophie adalah sebuah cerita fantasy
layaknya Harry Potter, Alice, dkk. Namun, sebagian besar novel ini adalah
sebuah pelajaran filsafat haha. Ya. Sebuah pengantar filsafat lebih tepatnya. Namun
dikemas dalam bentuk sebuah cerita, dongeng dan sedikit fantasy yang menggelitik.
Pembaca akan diajak untuk berkeliling abad selama 3000 tahun. Dimulai dari abad
1500SM sampai abad ke 20 ini. Saya sendiri menjadi sadar dan lumayan suka terhadap filsafat (tapi bukan untuk dipelajari seumur hidup) hanya sebagai
penunjuang ilmu. Karena filsafatlah bapak segala ilmu, filsafatlah yang
mengasah kecerdikan dalam berpikir, filsafat lah ilmu dari pemikiran itu
sendiri, filsafat lah yang membuat cara berpikir menjadi rasional dan
sistematis.
Di awal, kita diperkenalkan dengan gadis 14
tahun bernama Sophie, semua terasa biasa saja, sehingga ketika surat dilayangkan kepadanya, seluruh
dunia secara drastis berubah. Gadis polos yang ingin serba tahu tersebut
akhirnya memulai belajar filsafat yang berkembang selama 3000 tahun terakhir.
Disini kita dibenturkan oleh banyak teori yang sangat masuk akal, science of racional, penolakan agama, fase etika, esetetika, dan hal membelah kepala lainnya yang selalu diperdebatkan
dalam setiap bab dalam buku. Semuanya terdengar masuk akal, mulai dari Parminedes yang menyatakan
ada satu hal penyusun zat manusia, bahwa segala sesuatu itu kekal, dimana dia hanya lebih mengedepankan
akal, ada juga teori Heraclitus yang mengatakan sesuatu itu mengalir, tak ada yang persis sama, dan dia lebih mengikuti naluri indrawi nya,
Democritus sebagai orang pertama menyatakan teori Atom dengan nalar, tanpa
menggunakan teknologi apapun dia bisa mendapatkannya, Socrates sang bapak besar
perkembangan filsafat yang tak pernah menulis separagraf sekalipun, Plato yang menyatakan dunia ide, Aristoteles, John Locke, Hume, Immanuel Kant, tentang abad Renaisanans, Romantisme, hingga sekarang
selalu ada teori yang mempertentangkan antara akal dan indra, ada juga yang
meng-hybrid keduanya. Namun semua itu wajib dibaca demi dinamika pemikiran kita
yang terus terasah di tiap ceritanya.
Mungkin
pembaca hanya mengingat dengan jelas teori 3 bapak filsafat diawal, karena di
tengah cerita kita sudah pusing dan melayang 1000 langit akan teori yang
dijelaskan oleh sang mayor dan Alberto Knox hahah. Saya bukan anak yang pandai
seperti Sophie yang selalu paham dengan perkataan Alberto, saya harus merenung
dan terus merenung agar memahami kata-kata para filsuf sejati tersebut, cerita
akan semakin seru ketika terlihat benang merah antara Sophie dan Hilde, kalian
akan kaget bahwa sebenarnya Sophie adalah sebuah……. Rahasia lah, nanti gak seru
kalau ditau jalan ceritanya heheh. *oh tidak, sebenarnya Sophie masuk ke dalam alam bawah sadarku dan melarangku.
Setelah
membaca seluruh buku ini, saya seperti merasa telah menjalankan perjalanan
ruang dimensi dan waktu, mungkin karena kita ikut terbawa oleh susasana cerita
tentang filsafat, dan digabung dengan keadaan dongeng dan fantasy sehingga buku
ini sangat asyik untuk dibaca. akhir kata apa yang saya tahu setelah membaca Dunia
Sophie? Ya, yang saya tahu bahwa saya
tidak mengetahui apa-apa. Mungkin itu lebih bijak.
Hanya ini saja yang bisa saya review, saya tidak bisa merangkum isi dari
800 halaman tersebut karena lebih baik mengandalkan empiris masing-masing dan
akal masing-masing untuk merenungi hidup kita yang telah menelusup dengan
nyaman ke dalam bulu kelinci dalam topi pesulap. Akhir kata.
Salam Literasi!
Liberte! Egalite! Fraternite!
AKR
Makassar, 10 Maret 2020






0 komentar:
Posting Komentar