Lihatlah pengorbanan pohon mangga, ia berhasil berbuah setelah dipotong banyak dahannya.
Lihatlah seekor ulat, yang harus bersusah-payah digenangi air liurnya sendiri, dalam kepompong yang menjadikannya elok.
Lihatlah seorang manusia, yang rela menghabiskan waktunya, ia belajar, berjuang keras, tapi tak kunjung merasa puas dan dapat meraih kesuksesannya.
Apakah 3 hal diatas merupakan analogi yang bisa disandingkan? jika ditarik kesimpulan maka untuk meraih kesuksesan kita butuh kerja keras, bahkan kita perlu mengorbankan bagian diri kita agar melangkah lebih jauh.
Sayangnya kalimat motivasi di atas hanyalah sekadar kata belaka, tidak semua hal bisa dianalogikan.
Motivator goblok! pendusta!
Jutaan orang mengikuti seminar untuk mengembangkan diri, kepercayaan diri, semangat, motivasi, mereka lalu kembali dan tak menjadi apa-apa.
ada yang pulang ke rumah, bekerja keras lalu tetap menjadi pecundang
ada yang pergi ke kantor, ia berusaha keras dan tetap menjadi pecundang
ada yang tidak pulang-pulang lalu berhura-hura tentunya dia seorang pecundang
tidak ada yang pulang ke rumah, bermimpi, lalu menjadi seorang pemenang?
Ketika seseorang lahir, mereka tidak dikenal sebagai laki-laki atau perempuan, melainkan seorang pemenang atau pecundang. Dalam hidup, kedua hal tersebut harus ada kawan, rasionya pun 1:100. bukan, tidak sesedikit itu, bahkan mungkin 1:1.000.000 keren bukan? seorang taipan memiliki 1.000.000 karyawan yang bisa ia perintah sesukanya.
Apa mungkin ada pohon mangga yang memang tidak ingin berbuah? ia lebih senang dengan menjadi rindang yang dapat membuat orang teduh karenanya?
Apa mungkin ada ulat yang tak berniat menjadi kupu-kupu yang indah, karena pikirnya ulat jauh lebih enak dan tak membuang tenaga?
Apa mungkin ada ulat yang memang tak berniat menjadi kupu-kupu yang beterbangan, karena tetap menjadi ulat itu asik karena tak akan menjadi tumbuh dewasa?
Tapi, apakah pohon mangga yang tidak berbuah itu lebih banyak dari yang berbuah? berarti rasio pohon mangga yang sukses daripada yang gagal 1.000.000:1 ?
Apa benar ulat yang berkembang jadi kupu-kupu lebih sedikit daripada yang gagal keluar dari kepompongnya?
Apakah manusia yang berhasil tumbuh dewasa itu manusia yang gagal?
Motivator tidak pendusta!
Motivator tidak goblok!
(nb: tidak pendusta belum tentu berarti jujur, tidak goblok bukan berarti pintar. Sebagaimana tidak kurus bukan berarti gendut tapi bisa berotot, berisi, gemuk dll)
Barangkali sukses dan gagal itu hanyalah bayangan semu
mungkin istilah pecundang dan pemenang itu hanyalah akal-akalan orang tua saja
Mengapa ada orang yang berhasil?
sepertinya motivator tidak sepenuhnya bohong, apalah arti rasio itu, sukses: gagal = 1:1000.000 dan pecundang : pemenang adalah 1 banding sejuta.
Hei, pemenang dan pecundang itu tidak ada kawan, tidak ada yang namanya kalah atau menang.
Pohon mangga yang berbuah dinilai berhasil karena hasrat manusia yang ingin memakan buahnya.
kupu-kupu dipandang indah karena sebagian besar manusia menyukai hal yang indah dipandang.
Bisa jadi pohon atau ulat tersebut tidak menghendaki untuk berbuah atau bertumbuh, namun manusia lah yang ingin membuatnya seperti itu
Bisa jadi manusia yang sudah berkembang dan menyayat dirinya itu tidak menginginkan berbuah, dirinya hanya ingin menjadi rindang di sekitar orang lain.
Mungkin saja manusia yang telah tumbuh rindang tidak perlu berbuah dan telah mencapai tujuan hidupnya.
Boleh saja manusia tak menyadari bahwa ia telah rindang den meneduhkan, tapi dituntut berbuah.
Bisa jadi manusia tidak ingin menjadi kepompong dan tetap ingin menjadi bangsa ulat yang terus bergeliat di tanah.
Kesuksesan dan kegagalan itu hanyalah tolak ukur yang dibuat manusia, sedangkan gagal dan sukses tak lebih dari sekedar kata adjektif belaka.
Saya yakin, ketika seseorang dilahirkan, ia tidak dipandang sebagai entitas yang disebut laki-laki atau perempuan, bukan juga seorang pemenang atau pecundang. Namun ia dipandang sebagai seorang "manusia"
AKR, 3 Maret 2022
Makassar





0 komentar:
Posting Komentar