Bismillah
Hari ini, saya belajar dalam hidup saya bahwa, saya terlalu menaruh harapan kepada manusia. Tak tanggung tanggung, bahkan saya rela mengecek smartphone putih saya setiap 5 menit. Sungguh perilaku candu yang sangat menrugikan diriku. Perilaku ini terus kulakukan, dimulai aku beranjak menjadi mahasiswa, hingga aku sudah genap semester 8.
Ada 5 fakta yang kutemukan dalam hidup ku :
1. Chat yang masuk di hp ku, 90% krn aku yang memulai. 10% orang yang punya butuh, dan OA yang rutin memberiku kabar tiap hari
2. Hanya 3 orang yg melakukan interaksi dengan saya hanya dalam sehari, itupun kalo aku yg memulai.
3. Tak ada perempuan yang mengechatku { berharap dichat :') } dan itupun kalo ada pasti hanya minta bantuan. Yaa muncul kalo ada maunya.
4. Saya suka menghabiskan waktu hingga berjam2 untuk media sosial, dan media sosial itu sendiri tidak peduli dgn diriku, yg dimana org2 juga jrng berinteraksi denganku.
5. Saya bukan orang hebat atau orang penting, sehingga hp ku adalah ajang untuk menghibur diriku sendiri dikala bosan.
Mengapa saya rela membuang waktu saya untuk orang yang memang bahkan tidak peduli sama saya. Selama ini kusadari, yang benar-benar peduli dengan saya hanyalah keluarga, sahabat, dan atasan. Selebihnya hanya sok peduli jika ada maunya.
Berapa banyak waktu yg bisa saya manfaatkan untuk hal yang berguna, berapa banyak waktu yang saya buang untuk hal yang tidak berguna
Berapa banyak waktu yg bisa saya manfaatkan untuk hal yang berguna, berapa banyak waktu yang saya buang untuk hal yang tidak berguna
Apakah kapabilitas diriku saat ini sangat memumpuni? apakah saya sudah menjadi contoh yang baik? Apakah saya sudah bermanfaat bagi orang lain? Semua itu masih sangat jauh jika melihat diriku saat ini.
Berdasarkan 5 fakta diatas, saya menyadari bahwa diriku, seorang yg sangat biasa-biasa saja, membuang waktu berharganya di kamar, hanya untuk mengecek hp, dan berharap keberuntungan datang menghampiri, dimana kemungkinan tersebut sangatlah mustahil. Seketika diriku teringat oleh perkataan Imam Syafi'i kepada anaknya.
"Nak, Jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan"
Hati saya tergetar mendengar kalimat itu baru hari ini, dimana sebelumnya saya menyepelakan quotes tersebut. Dimana saya merasa diriku tidak berfaedah bagi agama dan negara. Dibuktikan dari chat atau permintaan yg datang ke saya sama sekali tidak ada. Beda dengan org sukses diluar sana yg tiap hari tdk sempat mengecek semua isi hp nya.
Kembali ke permasalahan, seperti yg saya bilang tadi, keberuntungan tidak akan menghampiri, kecuali kita yg menghampiri keburuntungan, reaksi akan ada setelah aksi, semua akan berubah, jika saya berubah. Memamg harus memulai dari sekarang, walaupun terlambat, saya akan menahan lelahnya akselerasi ini.
Maka dari itu, dengan ini saya berjanji "Siap akan kelelahan, kesakitan, menahan rasa bosan dalam belajar. Untuk menipiskan ketidakpastian masa depan yg kumiliki, saya ingin membangun negeri ini, dan memakmurkan bumi sebagai khilafah di semesta ini"
Dimana ada rasa malas muncul, tolong ingatkan saya, pukul saya, dan bentak saya. Karena org yg hebat tidak akan terbentuk dari lingkungan yg dimanjakan dan dan masih dalam area zona nyaman.
Dadah smartphone, media sosial, dan hal penguras waktu lainnya, sepertinya aku akan jarang menjengukmu, kecuali jika memang kau perlu besukan demi kepentinganku.
Dadah smartphone, media sosial, dan hal penguras waktu lainnya, sepertinya aku akan jarang menjengukmu, kecuali jika memang kau perlu besukan demi kepentinganku.
Salam inovasi, salam peradaban, mari majukan bangsa, mari bangun masa depan, lawan kebodohan!!
Alief KR
24 Februari 2019
Makassar









