Bilang Begini Maksudnya Begitu
Karya : Sapardi Joko Damono
Tersering,
ketika kita membaca seuntai sajak dalam buku kumpulan puisi atau antologi sastra. Masih banyak makna yang
terkandung di dalamnya yang tidak kita ketahui. Apa yang tertulis dalam larik sajak belum tentu memiliki makna yang sama.
Sajak selalu dipenuhi metafora, personifikasi, konvensi, simile dan majas-majas
lainnya sehingga sukar bagi kita menafsirkannya, walaupun terkadang banyak yang
suka karena seperti tantangan buat kita yang fakir Ilmu ini. Buku ini adalah
karya Pujangga senior kita, bapak
Sapardi Joko Damono, yang terkenal akan puisinya berjudul “Aku ingin
mencintaimu dengan Sederhana”.
Konon, puisi adalah mahkota bahasa. Namun, sebelum kita lanjut tulisan ini, pastikan anda sudah memiliki SIP (Surat Izin
Berpuisi).
Saya tersadar bahwa apa yang tertulis di atas kertas itu akan menjadi
abadi.
Saya tersadar bahwa kata yang ada bisa menjelma menjadi apa saja
Saya tersadar bahwa cerita dan puisi hampir sama
Saya tersadar bahwa berita dan cerita beda dalam keawetannya
Saya tersadar bahwa puisi itu juga bergerak mengikuti perubahan zaman
Saya menyadari, bahwa semua yang aku sadari hanyalah fiksi
Memang cocok bapak Sapardi ini
menyandang gelar sebagai bapak puisi Indonesia, siapa yang tidak kenal beliau,
bahkan dalam bukunya pun berkali-kali membuat saya terpukau akan gaya bahasa
dan tulisannya. Seorang sastrawan ulung yang dapat disejajarkan dengan Goenawan
Muhammad, Bachtiar, Chairil Anwar dan penyair lainnya.
Di awal buku dikisahkan
tentang sebuah puisi, tentang kronologi seorang pekerja yang memiliki kehidupan
ironi. Dijelaskan bahwa ada perbedaan paling penting antara puisi dan berita. Keduanya
memang sama-sama ditulis di atas kertas. Namun berita cenderung cepat basi dan
membosankan, karena ditulis secara lugas dan singkat. Dan haram hukumnya
melakukan pengulangan kata/bait dalam teks yang utuh. Sedangkan pada cerita,
sajak, dan kesusastraan lainnya itu cenderung awet, karena gaya penulisannya
yang semau penyair menjadikan berapa larik, kata-kata yang tak klise, dan
kebanyakan kalimat yang mengandung multitafsir bahkan tidak bisa ditafsirkan.
Dalam buku terebut kita
diajari berbagai macam karakteristik puisi, mulai dari sonata, syair, gurindam ,
balada, mantra, dongeng, dan tembang jawa. Namun, yang paling pentung dari itu
semua adalah bagaimana kita memahami apa yang dimaksud oleh penyair dalam menampilkan
sajaknya secara harfiah. Gerimis yang tertulis dalam sajak belum tentu berarti
hujan, baja yang ditulis oleh penyair belum tentu berarti besi. Disini lah kita
belajar memahami, masuk ke dalam alam pikiran seorang penyair. Bagaimana bisa
penyair memiliki khayalan, pengetahuan, dan pengalaman yang begitu luas
sehingga terciptanya permainan kata-kata dalam bahasa.
Sebelum berkenalan lebih
dalam bersama sajak, hanya terdapat dua jenis sajak, sajak pertama ialah sajak
yang memiliki makna tersirat, yang pastinya meninggalkan jejak di pikiran kita,
membuat kita bertanya-tanya apa gerangan arti sajak ini? Orang gila yang bikin
ini sajak hahah. Namun dibalik itu semua terdapat sebuah konvensi, ya seperti
kata ambigu, yang sebagian orang tahu, bahkan orang yang tahu hanya orang yang
hidup di masa lalu, jadi bahasa yang digunakan lebih arkais. Jadinya bahasa itu
adalah masa kini (di masa itu), puisi dengan banyak makna tersirat itu lebih
identik dengan puisi jadul atau puisi lama. Kita bisa menyebutnya dengan puisi
prismatik. Mengapa disebut prismatik, karena ketika sebuah prisma dihadapkan
cahaya akan membiaskan warna-warna yang baru, yang berartikan bahwa puisi
tersebut bisa multitafsir sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan pembacanya.
Sajak jenis kedua adalah
sajak lah sajak ang tersurat, sangat lugas dan tidak banyak pesan yang bertele -tele,
kita lebih mudah memahami amanat yang ingin disampaikan penyair oleh para
pembaca. Kita bisa menyebut puisi ini adalah jenis seni puisi modern, sudah
sangat banyak penyair yang disukai di masa milenial kini, seperti Fiersa,
Wiranagara, Mesin Ketik, Penagenic, Susyillona, Adimasnuel, Andi Gunawan, dan
banyak lainnya yang sedang mencapai masa keemasannya dengan bantuan social
media tentunya. Bapak Sapardi menamakan sajak modern dengan sebutan sajak
transparan, karena isi dari puisinya akan terlihat dan tersampaikan langsung,
tanpa banyak pengetahuan dan pengalaman kita bisa mengerti makna dan amanat
yang disampaikan oleh penyair
Memang puisi itu selalu
dipenuhi dengan yang tersirat dan tersurat, seperti dua buah koin. Tidak dapat
dipsahkan namun dapat dibedakan. Puisi prismatik dan Puisi transparan. Bahkan
setelah membaca buku ini saya merasa minder dengan apa yang telah kutulis,
karena bahasa yang biasa kugunakan terlalu klise dan lebih cenderung ke arah
puisi modern. Namun sebenarnya buku ini adalah buku apresiasi puisi, tidak ada
sastra yang jelek, semua puisi dan bahasa akan berkembang sesuai dinamika yang
ada. Namun lazimnya memang puisi lebih baik ditulis dengan bahasa yang tak
klise dan memiliki multitafsir agar keindahannya tetap utuh hingga ke masa
mendatang.
Akhir kata saya ingin
mengutip puisi yang telah saya baca, dan lumayan menarik dan beramanat buat
para pembaca blog ku. Puisi yang saya kutip ada dua, yaitu puisi transparan dan
puisi prismatik. Pertama mari kita lihat sajak rumi, seorang sufi, dari zaman
klasik Parsi :
Seorang Darwis mengetuk
pintu
Mengeimis roti kering
Atau roti basah- apa sajalah
“ini bukan pabrik roti,”
kata si empunya rumah.
“kalau begitu daging urat
saja bolehlah.”
“apa rumahku ini seperti rumah
jagal?”
“kalau sejumput tepung saja
boleh?”
“apa kau dengar suara mesin
giling tepung?”
“setetes air?”
“ini bukan sumber air,
tahu!”
Apa pun yang dimintai
darwis
Orang itu mengolok-oloknya
Dan tak sudi memberi apapun
Akhirnya darwis itu pun nyelonong
masuk,
Membuka jubahnya, lalu jongkok
Seperti mau berak.
“hei, ngapain lu?”
“tenang, bung tempat yang
kosong ini cocok untuk buang air besar,
Dan karena tak ada seorang
pun yang menghuninya,
Dan juga tak ada tanda
kehidupan
Ia perlu disuburkan”
Itu sepenggal sajak dari
bukunya, apakah tersebut sajak lama atau modern? Sonata, prosa liris, ataukah gurindam?
Apa maknanya? Silahkan menerka dengan komentar dibawah. Yang benar dapat…..
rahasia
Sebenarnya masih banyaksajak
menarik lainnya yang sudah diluar akal namun bisa dijelaskan oleh bapak
Sapardi dengan metode perlambangan, konvensi, dan tools lainnya. Semuanya menakjubkan dan di luar nalar biasa. Dijamin anda akan menyintas waktu bersama penyair-penyair di buku tersebut.
Mungkin itu saja dari saya,
mohon maaf atas review singkat dan kurang berfaedah ini. Salam Goresan
Amatir Indonesia
Makassar, 2 Maret 2020






Kalau sekarang mah jamannya puisi kontemporer bang. Puisi lama udh gak terlalu diminati
BalasHapus