GORESAN SEORANG AMATIR

Selasa, 03 Maret 2020

Review Buku - Deviant Love


Review Buku - Deviant Love
Karya : Sigmund Freud

Manusia lahir dengan cinta, bahkan lahir dari proses cinta. Begitupun kelak ketika mereka meninggal akan mati sebagai orang yang dicinta-i. Tapi, berbicara masalah cinta, ada yang berkata Cinta itu indah, cinta itu berbahaya, cinta adalah sesuatu yang tidak pernah kita bisa bayang sebelumnya. Namun, pada buku ini membahas terkait Deviant Love yang berarti cinta yang tak semestinya. Disini sang bapak pelopor psikoanalisis modern menggiring kita pada pandangan umum yang sangat sering dijumpai pada film film yang kita tonton, mungkin juga yang pernah anda temui. Terkait cinta yang abnormal, yang salah secara etik dan di luar norma yang berlaku di masayarakat. Bahkan tulisannya juga mengoyak perasaan saya yang pernah merenung bahwa cinta yang pernah ku khayalkan adalah cinta yang salah.



Disini Bapak Sigmund Freud tidak memberikan solusi terkait cinta yang tak semestinya tersebut, dia hanya menganalisa dan memberi tahu pengetahuan-pengetahuan yang ada. Kita terus dibuat bertanya-tanya dalam hati, tidak ada jawaban. Cuman bertambah pengetahuan, namun dari pengetahuan itu sendiri kembali pada diri kita masing-masing bagaimana kita menyikapinya sebijak mungkin. Hasilnya pun unik-unik dan mungkin salah satu dari pembaca adalah case yang pernah di tangani oleh bapak berkebangsaan jerman tersebut. Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang buku ini, dimohon untuk para pembaca yang masih suci atau dibawah umur agar tidak melanjutkan membaca, karena bisa mempengaruhi pikiran anda. Bahkan saya hampir semenit menganggap bahwa LGBT adalah hal yang lumrah, namun akan saya berikan juga pandangan saya tentang hal tersebut.

Pada awal buku kita dikisahkan terkait objek seksual dan dorongan seksual. Kita tahu bahwa objek seksual adalah orang yang ditargetkan untuk berhubungan lebih lanjut, dan dorongan seksual apa saja yang menjadi faktor mengapa seseorang ingin melancarkan aksinya tersebut. Seperti yang telah saya bilang di awal bahwa jenis cinta yang kita bahas disini adalah bentuk deviasi, yang jarang ditemui namun tidak menutup kemungkinan kedepannya kita akan bertemu dari salah satu mereka. Disini dijelaskan oleh bapak Sigmund Freud bahwa ada beberapa jenis yang menjadi tipe tertentu sebagai pilihan objek oleh lelaki, karena pada umumnya lelaki yang memangsa, dan perempuanlah yang dimangsa. Orang-orang yang kita jumpai mungkin sebagian ada yang memiliki kesenangan erotik. Terdapat kondisi cinta yang sulit dimengerti namun kita bisa bahas lebih lanjut sebagai berikut:

Tipe Pertama, di buku disematkan padanya yaitu tipe “orang ketiga yang mengganggu”. Ya, bukan seperti penikung yang kita kenal di Indonesia,  ada banyak sekali tipe yang seperti itu, mungkin karena pepatah terkenal yang mengatakan “sebeleum janur kuning melengkung”. Tapi, tipe yang kita bahas disini bukan tipe-tipe penikung yang umum dijumpai di sekitar teman kita, namun mereka orang-orang yang memiliki kesenangan erotis, ketika melihat sebuah objek seksual telah menjalin ikatan, ikatan yang sah secara hukum namun dia bersikukuh untuk mendapatkannya. Seorang wanita tidak akan mendapatkan daya tarik sama sekali, seihngga ia telah menjalin hubungan dengan pria lain, yang membuat objek(wanita) tersebut adalah objek seksual yang sangat menggairahkan. Jadi, beda antara palacci’/penikung di Indonesia. Di Indonesia penikung melakukan aksi atas landasan cinta sejati. Namun, pada kasus yang dibahas oleh buku tersebut adalah kondisi neurotis seseorang ketika dapat berhubungan dengan perempuan yg telah menjalin ikatan dengan orang lain.

Tipe kedua, kasus yang banyak dijumpai dibuku ini adalah cinta kepada perempuan yang identik dengan  pelacur, baik dari penampilan ataupun memang dari sananya pelacur, tidak jauh berbeda dengan tipe pertama, tujuannya adalah membuat lelaki lain iri ketika sang pelaku bersenggama dengan objek seksualnya. Lalu tipe ketiga adalah cinta yang lebih terasa bergairah dengan aturan-aturan yang kaku, lebih mengarah ke film 50shadesofgrey sih, jadi terdapat sebuah erotis yang berbeda setelah membuat sekian-sekian peraturan antara para pasangan sehingga membuat cintanya tidak normal dan ke arah perversi negatif.  Tipe ke empat adalah tipe dimana sang lelaki merasa dirinya sangat digantungkan oleh perempuannya, dimana kalau tidak ada sang lelaki maka perempuan akan merana dan terjatuh dalam lubang yang tidak ber norma. Laki-laki menjadi cenderung posesif dan mengawasi segala tingkah laku yang dilakukan objek seksual. Bahkan, dia merasa akan menjadi penyelamat ketika dia mengawasi sang perempuan alih-alih menjadi seorang penguntit.

Dari ke 4 jenis tersebut, apakah anda termasuk didalamnya? Dan apabila itu benar maka silahkan instropeksi diri anda masing-masing. Cinta yang anda miliki sejatinya bukanlah cinta yang sehat. Bahkan mungkin lebih tepatnya, menurut hemat saya, lebih baik tidak usah pacaran apalagi sampai melakukan hubungan seksual bersama pasangan. Dalam islam pun sejatinya dilarang berhubungan, apalagi berhubungan setelah merebut pasangan orang lain, hukunya RAJAM. 

Lalu, selanjutnya hal yang paling menarik saya baca disini adalah tentang bentuk cinta yang menyimpang, yaitu tentang homoseksualitas atau bisa kita sebut LBGT atau Inversi. Dalam hidup, saya selalu dihadapkan oleh banyak pelaku homo. Di kehidupan sehari-hari saya selalu saja ada kasus homo yang membekas di pikran saya, dan saya juga hampir menjadi korban atas perilaku tersebut. Saya bahkan heran mengapa ada orang yang bisa menjadi homo. Padahal kita sendiri tahu bahwa sebelum kita menjadi manusia kita adalah satu, namun dipisah menjadi dua jiwa yang berwujud laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan untuk mencari satu sama lain dan bersatu kembali. Namun, ketika mendapatkan kasus seperti ini akan membuat kita akan melihat jijik kasus tersebut. Itu adalah hal yang wajar karena kasus tersebut sangatlah jarang dijumpai dengan mata kepala sendiri.

 Dijelaskan dalam buku bahwa pelaku inversi itu ada 3 jenis. Yang pertama adalah Invert Absolut, dimana objek seksual mereka hanyalah mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama, bahkan ketika subjek tersebut dihadapkan oleh lawan jenis yang sangat maskulin/feminim, mereka tidak menunjukkan ekspresi ketertarikan sama sekali terhadap batinnya. Bahkan menolak untuk melakakukan hal-hal yang kita anggap tabu. Di analisa bahwa kasus seperti ini adalah sebuah penyakit, masalah keturunan gen, bahkan mungkin degenerasi neurotis. Ada juga hasil analisa tersebut bahwa ini adalah pembawaan yang sudah ada sejak kecil, yang bisa tumbuh akibat lingkungan dan pikirannya sendiri, lalu yang kedua adalah biseksualitas atau disebut invert amfigenus (hermafrodit psikoseksual), disini objek seksual nya bisa dua jenis kelamin berbeda, sehingga sangat sulit dibedakan apakah mereka tergolong orang normal pada umumnya atau tidak. Dan yang terakhir adalah orang yang bisa invert sesekali, adalah kondisi dimana seseorang tidak ada lagi kondisi seks yang normal untuk dilampiaskan, mereka memilih jenis kelamin yang sama sebagai objek seksual mereka. Pada kasus ini sering dijumpai orang-orang yang sudah tua, mereka berubah dari yang normal menjadi invert sesekali, atau mungkin atas pengalaman pahit yang terjadi ketika mereka melakukan hubungan seks normal.

Hal yang harus kita ketahui bahwa objek seksual pada jenis inversi ini adalah kebalikan dari orang normal, mereka mengalami berhenti tumbuh, pada kualitas tubuh dan pikiran lelaki, jadi ketika mereka beranjak dewasa mereka berpikir bahwa mereka adalah perempuan, dan mengidamkan sosok pria yang maskulin. Dari itu kita dapat menolak hipotesis bahwa LGBT adalah perempuan yang terjebak di dalam raga laki-laki. Mereka hanya terstimulus bahwa mereka adalah perempuan sejak dini sehingga menjadikan mereka seorang yang hemafrodit. Namun disamping itu banyak juga yang memiliki badan maskulin tapi tetap menjadi seorang Homoseksual, tapi dengan objek seksual yang berbeda, objek mereka adalah para lelaki yang memiliki kepribadian feminim seperti badan yang lemah, kurus, bahkan mental yang pemalu, sering menyendiri dan butuh bantuan ketika kesusahan adalah ciri dari cowok yang feminim yang diminati sebagai objek seksual kaum homo dengan berbadan maskulin tersebut. Maka dari fakta tersebut pun kita mendapatkan antitesis bahwa lelaki homo itu bukan jiwa perempuan yang terjebak dalam raga laki-laki.

Begitu tinjauan psikoanalisis yang dipaparkan dalam buku, terkait degenerasi, pembawaan, pembangkitan inversi, biseksualitas. Namun pada akhirnya kita dihadapkan pada satu kesimpulan bahwa hubungan tersebut sangatlah mungkin terjadi apabila terjadi ikatan kuat antara dorongan seksual dengan objek sekksual. Jadi langkah yang dapat kita ambil dalam menjauhi orang-orang dengan tipe sakit tersebut adalah dengan membuat jarak dengan pelaku seksual, jangan membuat mereka mimiliki dorongan seksual yang kuat terhadap kita.

Lalu menurut saya, apakah LGBT adalah sebuah hal yang lumrah? Menurutku tidak, mari kita berpikir hal yang paling fundamental, dimana Allah menciptakan dua pasangan yakni nabi Adam dan Hawa, dengan jenis kelamin yang berbeda, agar mereka kelak memiliki keturunan-keturunan yang saleh yang dapat menjadi khalifah di bumi. Semua hal diciptakan oleh Tuhan berpasang-pasangan, jadi kalau kita memilih untuk berpihak ke LGBT itu adalah sebuah kesalahan yang besar, kita melawan prinsip dasar yang sudah ditetapkan Tuhan. pikirkan baik-baik terhadap diri anda, itu bukan sebuah toleransi dalam berpikir, itu adalah naluri anda yang sudah tidak tajam lagi karena telah banyak terkikis oleh paham liberalis dari barat. Sekali lagi ingat, kecenderungan tidak sadar menuju inversi (homoseksual) tidak pernah ada.

Di bab lain juga dijelaskan penyimpangan seksual, dikenalkan kepada kita tentang seks dengan manusia yang belum matang ( anak kecil), dengan hewan, kesalahan anatomi (seks menggunakan bagian tubuh selain genital dan sekaput lendir) hubungan sadisme dan masokis, fetisis, seksual temporer, pelanggaran anatomi tubuh dalam seks. semua dijelaskan secara rinci tentang seks tersebut dan kepuasan dari masing-masing jenis perversi tersebut. Secara pengamatan umum kebanyakan dokter pemula juga mendiagnosa itu adalah degenerasi namun tidak. semua itu murni akan terjadi bila ada kesempatan, tidak hanya itu, karena ada juga dorongan seksual yang kuat. Dorongan seksual tersebutlah yang dapat mengalahkan rasa jijik dan rasa malu manusia itu sendiri. Begitu banyak kebetulan yang terjadi yang ditemukan sebagai asal usul perilaku perversi tersebut yang dijelaskan dalam buku, seperti predisposisi konstitional yang jadi bahan analisa pasien Sigmund Freud, dimana perilaku menyimpang tersebut adalah sebuah turunan. Tidak semua sifat predisposisi bersifat kuat, namun ada juga yang menjadi bawaan tapi terstimulus oleh pengalaman pengalaman dan pengetahuan seiring berkembangnya sebuah pribadi. Jadi, apabila  kita menjadi sebuah objek seksual tanpa menyadarinya. Kita harus cerdas dalam bertindak dan menganalisa orang-orang yang mengidap penyimpangan tersebut. Apakah anada seorang eksibisionis?  Psikoneurotis?  Masokis?  Kalau mau tau lbih rinci anda mungkin sebaiknya baca buku ini.

Ada lagi yang menarik disini,  tentang tabu keperawanan.  Mungkin berbanding terbalik dengan kita yang orang timur bahwa keperawanan adalah hal yang didambakan seorang lelaki, namun dari sudut pandang orang barat bahwa keperawanan dalam pernikahan adalah hal yang tabu. Bahkan ada kisah yang diceritakan dalam buku tersebut tentang seorang anak petani yang mencintai seorang wanita,  namun dia membuat asumsi bahwa wanita itu adalah "pelacur yang liar" sehingga ia membiarkan wanita itu menikahi seorang pria, agar sifat mematikan itu berubah menjadi halus,  dan berpengalaman setelah talak dan menjadi janda. Lalu si anak petani tersebut menikahinya.  Mengapa keperawanan dianggap tabu,  kalau kita meninjau dari segi orang primitif,  laki-laki cenderung melambangkan sesuatu yang ditemui dengan dewa dan alam. Ketika malam pertama seorang lelaki melakukan coitus dengan pasangannya maka akan keluar darah dan itu membuat pihak lelaki khawatir san cenas luar biasa,  mereka belum mengenal konsep keperawanan. Yang mengira itu semua berhubungan dengan spiritual dewa. Sehingga pada budaya barat lama,  terdaoat ritual perusakan terhadap perempuan pra nikah.  Wanita tua ditugaskan untuk merobek dan merusak selaput darah,  agar tidak terjadinya hal yg diinginkan di malam pertama pengantin melakukan coitus. Walaupun tidak ada jaminan bahwa pihak perempuan pastinya tidak akan mengalami frigiditas.

Namun, yang saya sayangkan disini ternyata apabila tidak ada wanita tua yang melakukan perusakan terhadap keperwanan perempuan,  maka ada seorang laki-laki yang memiliki tugas secara budaya untuk merusak perempuan. Jadi calon perempuan yang dinikahi itu sudah dikotori duluan oleh pria lain. Dan itu adalah bagian dari spritual dan dianggap lazim. Terjelaskan di bab ini bahwa nafsu seks perempuan sangatlah tinggi,  begitu banyak kisah tentang laki-laki tidak dapat memuaskan hasrat perempuan untuk mencapai frigiditas. Bentuk firigiditas tertinggi ialah ketika perempuan memeluk pasangan laki-laki dan menekan kearah dirinya ketika mencapai puncak, sembari memberi nafas yang terengah engah sebagai ucapan terima kasih pihak perempuan kepada lelaki.

Dijelaskan juga bahwa perempuan hanyalah membuat pihak pria menjadi lemah,  sehingga jaman dulu tidak ada pergaulan bebas,  setiap tempat adalah bahaya. Semua orang saling berkegantungan, tingaal bersama adalah pilihan yang tepat untuk meningkatkan kepastian jaminan hidup.  Sehingga jikalau hidup sendiri hanya meningkatkan resiki mati konyol. Bahkan hidup antara kaum adam dan hawa pun terpisah. Kaum hawa cenderung bergaul satu sama lain dan memiliki pembendaharaan kata sendiri,  dan memiliki tempat tinggal sendjri.  Jadi dalam adanya hubungan seksual di jaman primitif adalah hal yang tabu, dan membuat pihak laki laki menjadi tak berdaya di hari selanjutnya.

Ada juga tinjauan psikoanalisis awal mula terjadinya cinta sejak dini. Cinta pertama seorang anak laki-laki itu kepada ibunya,  yang membuat arah libido nya ke arah normal.  Sifat kasih sayang itu bersifat tunggal karena ibu cuma bisa satu, kita tidak mungkin dilahirkanoleh dua ibu yang berbeda. Juga peristiwa dilahirkan tidak bisa terulang. Maka dari itu sifat kasih sayang turun untuk mencari ibu yg baru sebagai subtitusi ibu,  namun bukan berarti harus mencari sama seperti ibu sendiri. Bukan seperti kasus Oedipal

Sedangkan untuk perempuan, cinta pertama tentunya kepada ibu, karenadia yang memandikan, menyayangi, menasihati, melarang. Namun itu untuk fase pra Oedipal, namun berlangsung untuk jangka waktu yang tidak begitu lama. Setelah fase pra oedipal maka arah libidonya berubah dan mencintai sang ayah,  akibat dari kastrasi yg membuatnya sadar dan membentuk feminitas. Lalu sang perempuan akan mencari sosok pengganti yg mirip ayah.

Hal yang membuat wanita memiliki transisi dari ibu ke ayah karena kasih sayang itu sendiri,  dan kastrasi. Terdapat ambivalensi emosional,  dimana terdapat kasih sayang yang kuat,  larangan yang kuat,  sehingga membuat ikatan cinta yang kuat akibat dari rasa sayang dan benci itu sendiri. Tinjauan psikoanalisis menjelaskan bahwa,  efek godaan,  elemen lain,  perilaku mendorong dan menghambat dari orang tua dan sebagainya dapat memicu suatu percepatan dan pematangan dari perkembangan seksual anak

Sebenarnya masih banyak lagi yang menarik dibahas dibuku ini, namun sayang nya bahasa yang digunakan oleh penulis adalah bahasa yang umumnya asing, dan tidak seperti puisi. Jauh dari kata estetika buat kita yang berlatar belakang pendidikan selain psikologi dan psikiatri. Ada juga tentang seksualitas perempuan namun lebih baik jadi pengetahuan pembaca saja hahah. Lebih baik tidak usah direview, Tingkat urgensi untuk membaca buku ini juga tidak terlalu urgent, lebih baik anda para pembaca review ku ini mempermantap ilmu agama dan yang lain saja daripada mempelajari psikoanalisis buku tersebut. Namun rating dari buku ini luar biasa fantastis, saya belajar banyak walau terkadang mmenggoyahkan iman saya hahah. 

Sekian dari saya, kurang dan kurangnya mohon dimaafkan, SALAM GORESAN AMATIR

Makassar, 4 Maret 2020


0 komentar:

Posting Komentar