GORESAN SEORANG AMATIR

Jumat, 20 Maret 2020

Ditutupnya Tempat Ibadah Sebab Virus Covid-19


Pandemi Covid-19 telah menyebar ke 152 negara, salah satunya adalah Indonesia. Virus tersebut telah mengganggu kelangsungan hidup manusia, baik dari ekonomi, politik, social, kesehatan, bahkan agama pun kena imbas dari virus jahanam ini. Disini penulis mau membahas ke tema agama saja biar pembahasannya tidak melebar, dimana penulis tidak tahan lagi karena melihat banyak orang yang gagal paham terkait surat edaran pemerintah untuk menutup tempat ibadah selama 14 hari.

BANYAK ORANG YANG LEBIH TAKUT DENGAN VIRUS, KETIMBANG KEPADA TUHAN
Sungguh saya merasa  sedih ketika mendengar statement seperti ini, kalimat tersebut selalu didengungkan baik yang tersebar di sosial media maupun di para kalangan pemuda dan orang tua. Bukan berarti berlindung di rumah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 itu mengisyaratkan bahwa kita lebih takut kepada virus ketimbang kepada tuhan, namun keputusan dari MUI dan Pemerintah sendiri itulah salah satu kuasa tuhan untuk mencegah maraknya penyebaran virus Covid-19. Bukankah kita disuruh untuk mentaati perintah pemimpin sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an : Taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu (An-Nisa : 59). Toh dalam hukum syariat juga sholat Jum’at itu hukumnya lebih mengarah ke Sunnah Muakkad daripada mengarah ke wajib, dimana bila terdapat udzur telah gugur kewajiban kita, atau kita telah diberikan kemudahan dalam beribadah.
Ada sepenggal kisah anekdot tentang seorang pemuda di lautan, begini ceritanya :

One day, a man was drowning in the water
And a boat came by and said “do you need any help?”
He said, “no thank you, god will save me”
Then another boat came by, said “do you need any help?”
And he said “no thank you, god will save me”
Then he drowned, and he went to heaven and he Said “God, why didn’t you save me?”
And god said “I sent you two big boats you dummy”

Source : line

Anekdot tersebut sangatlah pas dengan kondisi kita saat ini, dimana orang-orang terus berteriak dengan lantangnya “virus itu hanyalah mikroba yang kecil, apalah dia dibandingkan dengan kebesaran tuhan”  “virus itu datangnya dari tuhan, jadi kita harus lebih takut ke siapa?” dan berbagai kata kepahlawanan lainnya. Di satu sisi pernyataan yang disebut diatas memang benar, namun sebagai manusia yang merdeka oleh akal, kita harus bersifat rasional dan memahami hakikat dari kebenaran itu sendiri. Contohnya, bagaimanapun kita percaya dengan tuhan, namun tidak diiringi oleh perbuatan seperti dengan sengaja mencelupkan tangan kita ke dalam larutan kimia yang berbahaya, tentunya tangan kita akan tetap terluka walaupun berdoa sebanyak mungkin, dan takkan selalu ada keajaiban. Begitu pula dengan keadaan saat ini, dimana kita harus menjaga diri dengan menjauhi keramaian.

Lebih lucunya lagi, timbul polemik di masyarakat bahwa pemerintah hanya ingin menghambat keimanan orang islam, virus ini adalah sebuah konspirasi yakni senjata biologis untuk membunuh manusia. Begitu pendeknya pemikiran masyarakat kita, bukankah  kata Socrates kita harus kritis dalam memikirkan sesuatu? Janganlah kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita realistis saja dalam hidup yang begitu pilu ini, mari hadapi kenyataan dan melakukan tindakan pencegahan se-efektif dan efisien mungkin. Bahkan orang-orang meragukan kapabilitas para ulama MUI  dalam menutup tempat ibadah dalam upaya mencegah terjadinya penyebaran virus. Para ulama tidak akan sewenang-wenang dalam mebuat keputusan, pastinya mereka adalah orang yang memiliki kapasitas dalam ilmu dan pengetahuan terkait ushulul fiqh dalam islam, mungkin karena banyak dari kita yang tidak bisa membedakan antara Ulama dan Abid. Sehingga dari mereka banyak yang menentang ijtima’ dari ulama itu sendiri. Mari kita ketahui lebih jauh perbedaan ulama dan abid

Perbedaan Abid dan Ulama
Terdapat dua jenis manusia yang alim dalam islam, pertama adalah seorang abid dan yang kedua adalah seorang ulama, Abid adalah seorang ahli ibadah, yang dimana seorang abid banyak memiliki pengetahuan tentang ibadah-ibadah yang harus dilakukan, orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari ilmu syariat. Sedangkan ulama, dari kata alim yang artinya mengetahui, ialah orang yang memahami dengan baik dan mumpuni, pengetahuannya dipraktekkan dalam sikap, perilaku serta ibadahnya dikesehariaannya (Toyo:2017). Disini saya hanya ingin menyarankan kepada para pembaca untuk mempercayai seorang yang alim, bukan seorang abid yang beribadah mengikuti kata hati, naluri, atau hanya ikut-ikutan saja. Teman-teman kita yang baru hijrah belum tentu seorang ulama, lantas kita sebagai manusia cerdas harusnya paham dan membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran virus tersebut

LANGKAH YANG HARUS DIAMBIL
Memang benar, bahwa kita boleh takut tapi jangan panik, menutup tempat ibadah yang identik dengan tempat ramai bukan satu-satunya solusi dalam mencegah penyebaran virus, boleh jadi pemerintah membuat kebijakan untuk menscan tiap orang yang mau masuk masjid agar tidak terjadi penyebaran virus, menyediakan handsanitizer di tiap sudut masjid, atau dengan menyarankan para jama’ah untuk tidak bersalaman, kalaupun bersalaman sebaiknya segera mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah sama sekali. Namun  dengan refleksi bahwa kita belum punya teknologi untuk mendeteksi virus Covid-19 ini, satu-satunya langkah yang paling tepat ialah dengan menutup sementara akses ke keramaian, termasuk tempat ibadah. Apalagi  penyebaran virus dengan mudahnya ditularkan oleh lewat perantara udara saja, yang membahayakan kita semua khususnya kepada para orang tua dan lansia. Mari kita tanamkan rasa percaya kita kepada yang ahli, baik para ulama, tenaga medis, dan pemerintah dalam mengatasi epidemic jahanam ini. Toh yang diuntungkan kedepannya adalah kita sendiri, jangan sampai ke-egoisan kita sendiri lah yang menghambat usaha usaha mereka yang berjuang mengatasi virus Covid-19. Mungkin ini saja yang bisa saya tulis, kalau ada kurangnya itu berasal dari saya, dan kalau ada kurangnya lagi itu berasal lagi dari saya yang fakir ilmu

Salam Goresan Amatir!
AKR
20 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar