Pandemi Covid-19 telah menyebar
ke 152 negara, salah satunya adalah Indonesia. Virus tersebut telah mengganggu
kelangsungan hidup manusia, baik dari ekonomi, politik, social, kesehatan,
bahkan agama pun kena imbas dari virus jahanam ini. Disini penulis mau membahas
ke tema agama saja biar pembahasannya tidak melebar, dimana penulis tidak tahan
lagi karena melihat banyak orang yang gagal paham terkait surat edaran
pemerintah untuk menutup tempat ibadah selama 14 hari.
BANYAK ORANG YANG LEBIH TAKUT DENGAN VIRUS, KETIMBANG KEPADA TUHAN
Sungguh saya merasa sedih ketika mendengar statement seperti ini,
kalimat tersebut selalu didengungkan baik yang tersebar di sosial media maupun
di para kalangan pemuda dan orang tua. Bukan berarti berlindung di rumah untuk
mencegah penyebaran virus Covid-19 itu mengisyaratkan bahwa kita lebih takut
kepada virus ketimbang kepada tuhan, namun keputusan dari MUI dan Pemerintah
sendiri itulah salah satu kuasa tuhan untuk mencegah maraknya penyebaran virus
Covid-19. Bukankah kita disuruh untuk mentaati perintah pemimpin sesuai firman
Allah dalam Al-Qur’an : Taatilah Allah
dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu (An-Nisa :
59). Toh dalam hukum syariat juga sholat Jum’at itu hukumnya lebih mengarah ke
Sunnah Muakkad daripada mengarah ke wajib, dimana bila terdapat udzur
telah gugur kewajiban kita, atau kita telah diberikan kemudahan dalam
beribadah.
Ada sepenggal kisah anekdot tentang seorang pemuda di
lautan, begini ceritanya :
One day, a man was
drowning in the water
And a boat came by and
said “do you need any help?”
He said, “no thank
you, god will save me”
Then another boat came
by, said “do you need any help?”
And he said “no thank
you, god will save me”
Then he drowned, and
he went to heaven and he Said “God, why didn’t you save me?”
And god said “I sent
you two big boats you dummy”
Source : line
Anekdot tersebut sangatlah pas
dengan kondisi kita saat ini, dimana orang-orang terus berteriak dengan
lantangnya “virus itu hanyalah mikroba yang kecil, apalah dia dibandingkan
dengan kebesaran tuhan” “virus itu
datangnya dari tuhan, jadi kita harus lebih takut ke siapa?” dan berbagai kata
kepahlawanan lainnya. Di satu sisi pernyataan yang disebut diatas memang benar,
namun sebagai manusia yang merdeka oleh akal, kita harus bersifat rasional dan
memahami hakikat dari kebenaran itu sendiri. Contohnya, bagaimanapun kita
percaya dengan tuhan, namun tidak diiringi oleh perbuatan seperti dengan
sengaja mencelupkan tangan kita ke dalam larutan kimia yang berbahaya, tentunya
tangan kita akan tetap terluka walaupun berdoa sebanyak mungkin, dan takkan
selalu ada keajaiban. Begitu pula dengan keadaan saat ini, dimana kita harus
menjaga diri dengan menjauhi keramaian.
Lebih lucunya lagi, timbul polemik
di masyarakat bahwa pemerintah hanya ingin menghambat keimanan orang islam,
virus ini adalah sebuah konspirasi yakni senjata biologis untuk membunuh
manusia. Begitu pendeknya pemikiran masyarakat kita, bukankah kata Socrates kita harus kritis dalam
memikirkan sesuatu? Janganlah kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita
realistis saja dalam hidup yang begitu pilu ini, mari hadapi kenyataan dan
melakukan tindakan pencegahan se-efektif dan efisien mungkin. Bahkan
orang-orang meragukan kapabilitas para ulama MUI dalam menutup tempat ibadah dalam upaya
mencegah terjadinya penyebaran virus. Para ulama tidak akan sewenang-wenang
dalam mebuat keputusan, pastinya mereka adalah orang yang memiliki kapasitas
dalam ilmu dan pengetahuan terkait ushulul
fiqh dalam islam, mungkin karena banyak dari kita yang tidak bisa
membedakan antara Ulama dan Abid. Sehingga
dari mereka banyak yang menentang ijtima’ dari ulama itu sendiri. Mari kita
ketahui lebih jauh perbedaan ulama dan abid
Perbedaan Abid dan Ulama
Terdapat dua jenis manusia yang
alim dalam islam, pertama adalah seorang abid dan yang kedua adalah seorang
ulama, Abid adalah seorang ahli ibadah, yang dimana seorang abid banyak
memiliki pengetahuan tentang ibadah-ibadah yang harus dilakukan, orang yang kuat
dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari ilmu syariat.
Sedangkan ulama, dari kata alim yang
artinya mengetahui, ialah orang yang memahami dengan baik dan mumpuni,
pengetahuannya dipraktekkan dalam sikap, perilaku serta ibadahnya
dikesehariaannya (Toyo:2017). Disini saya hanya ingin menyarankan kepada para
pembaca untuk mempercayai seorang yang alim, bukan seorang abid yang beribadah
mengikuti kata hati, naluri, atau hanya ikut-ikutan saja. Teman-teman kita yang
baru hijrah belum tentu seorang ulama, lantas kita sebagai manusia cerdas
harusnya paham dan membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran virus tersebut
LANGKAH YANG HARUS DIAMBIL
Memang benar, bahwa kita boleh
takut tapi jangan panik, menutup tempat ibadah yang identik dengan tempat ramai
bukan satu-satunya solusi dalam mencegah penyebaran virus, boleh jadi
pemerintah membuat kebijakan untuk menscan tiap orang yang mau masuk masjid
agar tidak terjadi penyebaran virus, menyediakan handsanitizer di tiap sudut
masjid, atau dengan menyarankan para jama’ah untuk tidak bersalaman, kalaupun
bersalaman sebaiknya segera mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah sama
sekali. Namun dengan refleksi bahwa kita
belum punya teknologi untuk mendeteksi virus Covid-19 ini, satu-satunya langkah
yang paling tepat ialah dengan menutup sementara akses ke keramaian, termasuk
tempat ibadah. Apalagi penyebaran virus
dengan mudahnya ditularkan oleh lewat perantara udara saja, yang membahayakan
kita semua khususnya kepada para orang tua dan lansia. Mari kita tanamkan rasa
percaya kita kepada yang ahli, baik para ulama, tenaga medis, dan pemerintah dalam
mengatasi epidemic jahanam ini. Toh yang diuntungkan kedepannya adalah kita sendiri,
jangan sampai ke-egoisan kita sendiri lah yang menghambat usaha usaha mereka
yang berjuang mengatasi virus Covid-19. Mungkin ini saja yang bisa saya tulis,
kalau ada kurangnya itu berasal dari saya, dan kalau ada kurangnya lagi itu
berasal lagi dari saya yang fakir ilmu
Salam Goresan Amatir!
AKR
20 Maret 2020





0 komentar:
Posting Komentar