GORESAN SEORANG AMATIR

Kamis, 12 Maret 2020

Mengenal sisi gelap MLM : Multi Level Marketing


Multi Level Marketing (MLM) : Strategi Distribusi Yang Menyimpang

Halo semuanya, sudah sekian lama saya tidak menulis insight terkait bisnis dan pemasaran, mungkin karena penulis lagi dimabuk sastra sebelumnya hahahah. Disini saya akan mengulas tentang salah satu bisnis yang mungkin paling dihindari atau mungkin harus kita hindari. Karena baru-baru ini saya mendengar bahwa bisnis MLM yang dijalankan oleh ***** sedang stagnan dan tinggal hitungan waktu akan bangkrut. Orang tersebut juga saya baca di twitter akan dituntut akan bisnis yang dimulainya tersebut. Maka dari itu langsung saja kita mengenal sisi gelap dari MLM itu sendiri. Marikidiiii' 

Perkembangan bisnis terus saja mengejutkan bagi warga masyarakat Indonesia, dewasa ini revenue stream bisa dalam berbagai bentuk, tergantung dari kreativitas manusia yang menjalankan. Salah satunya adalah MLM yang sering dikaitkan dengan bisnis prospek. Dalam aktualnya, MLM lebih sering dikaitkan dengan strategi efisiensi dan efektifitas dalam pemasaran alih-alih dikaitkan dengan efisiensi distribusi.

Salah satu jenis bisnis yang kian mewabah khususnya di Indonesia ini adalah MLM (Multi Level Marketing), istilah ini pertama kali saya dengar ketika saya menginjak 16 tahun di bangku kelas 2 SMA tahun 2014. Perkara tersebut ramai diperbincangkan baik dalam meme, twitter, forum kaskus, dan media informasi lainnya. Hingga saya pun ditawari dan merasakannya secara  langsung oleh teman SMA saya yang juga berbisnis MLM dan untungnya saya tidak mau. Alhasil dagangannya tidak laku hahahah. Bisnis MLM kian identik dengan Product Life Cycle nya tren selama rentang 1-3 tahun lalu meredup dan bangkrut. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Originalitas Manajemen Distribusi

Sebenarnya MLM dilahirkan dari strategi Distirbusi konvensional, pengganti sistem distribusi yang dinilai masih bisa dikembangkan dan menghemat biaya operasional. Namun kenyataannya strategi tersebut tidak dapat disempurnakan sebagai strategi yang efisien dalam jangka waktu panjang. Mengapa begitu? Pertama-tama mari kita bahas terlebih dahulu  peranan dan fungsi Supply Chain Management (SCM) yaitu Manajemen Rantai Pasok, yang mengatur alur perpindahan produk baik itu dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi yang akan sampai ke Costumer atau End User. Tak bisa dipungkiri memang benar bahwa hampir 50% biaya yang dikeluarkan perusahaan adalah biaya distribusi, sehingga menjadi PR nomor wahid yang dimiliki setiap perusahaan bagaimana caranya melakukan efisiensi dalam mendistribusikan produk. Dewasa ini, salah satu solusi yang efektif dalam mendistribusikan produk dengan menggunakan jasa 3PL (Third Party Logistic) yaitu menggunakan pihak ketiga atau luar, bisa juga vendor baik itu swasta maupun anak perusahaan dalam mengatur strategi dan efisiensi dalam mendistribusikan produk. Hampir seluruh perusahaan menggunakan sistem 3PL agar perusahaan dapat fokus dalam proses bisnisnya dan fokus terhadap penjualan.

Salah satu strategi bisnis yang pasti diketahui oleh manager pemasaran adalah, bagaimana caranya agar produk kita tersebar luas dan merata kepada geografis yang membutuhkan, yang menjadi target pasar kita. Jangan sampai terjadi kesenjangan antara promosi iklan yang bertubi-tubi, namun produk yang dipasarkan tidak dapat dijangkau oleh para pembeli. Maka dari itu fungsi dan peran yang terjadi dalam proses distribusi barang secara holistik dari hulu ke hilir tidak akan luput dari yang namaya Produsen-Distributor-Konsumen. Philip Kotler (2003) menyatakan bahwa cara yang dapat dilakukan untuk menggerakkan Distribusi produk dengan mekanisme sebagai berikut

Produsen – Distributor - Sub Distributor – Wholesaler – Retailer - Konsumen

Namun pada masa sekarang, banyak yang menganggap mekanisme tersebut sudah dianggap tidak efektif lagi karena akan memuat waktu yang lama, gradasi produk, dan biaya yang relatif tinggi. Sehingga banyak produsen yang memilih untuk memutus rantai distribusi distribusi, dengan menghilangkan fungsi distributor, sehingga ketika sampai di wholesaler harga menjadi lebih sedikit murah. Namun bagaimana jika terdapat ratusan hingga jutaan wholesaler di penjuru lokasi pemasaran? Apakah akan diantar satu persatu? Tentunya perusahaan tidak dapat menghandle itu semua dan tidak memiliki armada yang cukup untuk mendistribusikannya, sehingga peran distributor pada akhirnya akan tetap menjadi ada, siapapun pelakunya. Distributor pastinya akan selalu ada dalam peranan Rantai Pasok Produk.  Walaupun benar bahwa rantai pasok sudah sejatinya seperti itu dari dulu, harga yang dipangkas tidak bisa dengan menghilangkan peranan distributor itu sendiri. Satu satunya solusi adalah dengan integrasi transportasi dan proses pembuatan rute yang kian rumit, karena transportasi akan melewati jalan umum dan kondisinya tidak bisa diramal dengan pasti.

Rantai Pasok sendiri pada umumnya begitu panjang dan beragam, seperti bisnis snack-snack yang mengalami perpindahan tangan yang panjang hingga bisa sampai di tangan konsumer (contoh snack taqychan) juga menurut para ilmuwan bahwa proses distribusi bahan pangan, merupakan rantai distribusi terpanjang yang ada, oleh sebab itu, produk komoditas yang dibeli dari petani itu bisa meningkat bahkan hingga 500% ketika sampai di tangan end user/customer.  

Namun seiring berjalannya waktu ada orang yang berhasil membuat strategi baru dalam mendistribusikan produk, bahkan dalam taktik marketing pun tidak dibutuhkan promosi sehingga biaya operasional yang dibutuhkan dalam proses pemasaran dapat dihemat dalam jumlah yang besar.


Pendisribusian Singkat Produk MLM ( Multi Level Marketing)

Nama MLM ini sejatinya bukanlah sebuah bisnis, namun strategi distribusi. Namun karena keunikan dari sistem distribusi yang secara tidak langsung juga mencakup fungsi marketing tersebutlah yang membuat namanya kerap dihubungkan dengan bisnis prospek MLM. Bisnis MLM dioerientasikan untuk menghemat biaya distiribusi. Dalam buku Aplikasi Strategi Perang Sun Tzu Dalam Pendistribusian Produk yang ditulis oleh Frans M Royan (2005) dijelaskan bahwa orang pertama yang mengenalkan strategi MLM adalah Rich De Vos dan Steve Van Handel, pendiri Amway Corporation di Amerika yang memulai bisnis dengan sistem MLM. Apa yang menarik dari bisnis dua sekawan itu dengan distribusi produk? Secara konvensional dan originalitas produk didistribusikan oleh Produsen – Distributir – Sub Distributor – Wholesaler – Retailer – Konsumen. Namun dengan cerdik dua sekawan tersebut memiliki taktik dan inisiatif, mengakali rute tersebut dengan memangkas tangan distribusi dari Produsen langsung ke Konsumen saja. Terlebih lagi, para konsumennya itu dijadikan sebagai bagian yang mendistribusikan produk. Dengan kata lain, dalam MLM konsumen sekaligus menjadi distributor.

Hal tersebut berlaku efektif dan efisisien, karena sejatinya bentuk promosi yang baik adalah dengan menggunakan kabar dari mulut ke mulut, atau dalam strategi perang china disebut kabar burung. Baik dari sisi marketing yang dapat membuat produk menjalar dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan memotong jalur distributor sehingga barang yang sampai ke tangan konsumen menjadi lebih eksis tanpa promosi yang berlebihan, di sisi distribusi pun akan tercapai karena produk tersebut akan tersebar luas layaknya domino yang berjatuhan, selama produk yang diberikan berkualitas bagus. Apalagi semakin banyak menjual akan semakin banyak komisi yang didapatkan selayaknya yang kita kenal MLM dengan baik. Strategi tersebut diapresiasi dengan baik diawal kemunculannya karena dikira strategi yang inovatif dan menjawab permasalahan yang ada.


Kehancuran dari sistem MLM

Namun berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, strategi tersebut tidaklah efektif bahkan dianggap cacat oleh sebagian ilmuwan yang berkecimpung dalam dunia distribusi, seperti Hermawan dan Siswanto menolak dengan keras bahwa strategi tersebut adalah solusi dari permasalahan yang ada. Kita sendiri tahu bahwa sudah banyak produk MLM yang kita kenal hanya memiliki jangka waktu produk yang sangat singkat, bahkan hanya berlangsung dalam hitungan satu sampai dua tahun sehingga akhirnya tidak ada kabarnya lagi. Hal tersebut dikarenakan sistemnya dari konsumen ke konsumen, konsumen itu sendirilah distributornya, sehingga membentuk pola rantai distribusi yang baru, menjadi Produsen-Konsumen-Konsumen-Konsumen 1- Konsumen 2 – Konsumen 3 - …….. Konsumen n. Telah terjadi perpanjangan tangan dalam sistem distribusi sehingga terbentuknya distributor dan sub-sub distributor lainnya sehingga membuat produk menjadi relatif mahal seiring bertambahnya waktu. Walaupun produk tersebar secara merata dan melebar, tak bisa dipungkiri bahwa distributor menjadi tersebar tidak merata dan menjadi tidak seimbang dengan penjualan yang diinginkan, contohnya di tengah rantai sub-distributor akan ada Distributor besar lainnya yang penjualannya lebih besar dari sub-distributor sebelumnya, hingga akhirnya pembebanan komisi tidak berlangsung secara adil. Tidak sampai situ, strategi tersebut berubah orientasi, dari penjualan produk menjadi penjualan konsumer, target dari penjualan sudah melenceng sehingga tidak menganut konsep costumer need lagi.  Sehingga pelaku bisnis fokus mencari orang alih-alih menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berubah. Acapkali pelaku bisnis MLM melakukan pencarian member baru untuk dijadikan distributor produk ke bawah, sehingga akan terjadinya sebuah inkoheren fungsi distributor dengan produk yang dijualnya. Akibat dari orientasi yang bergeser itu pula, akan terjadi sebuah money game demi mendapatkan komisi dari pihak produsen yang membuat aliran produk tidak sepenuhnya berjalan lancar. Kita sendiri tahu,  bahwa tujuan dari bisnis itu untuk memuaskan pelanggan,  memenuhi permintaan dan kebutuhannya. Lebih baik meninggalkan usaha yang tidak betul-betuk dibutuhkan oleh calon costumer.

Kita telah melihat berbagai produk MLM seperti Propol*s, M*MI1, Kl*rofil, Paytr*en dan banyak bisnis MLM lainnya yang tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang dikarenakan mekanismenya yang cacat. Bahkan tak sedikit mahasiswa ekonomi dan lulusan ekonomi pun yang terjerat dalam menggiurkannya bisnis tersebut. Padahal fungsi pemasaran itu berfokus terhadap produk dan kebutuhan,  bukan untuk orang yang dibohongi dan di iming imingi harta demi mendapatkan member baru. Semoga bisa tercerdaskan setelah membaca tulisan saya, mohon maaf atas kesalahan redaksi kata yang telah tertulis. Sang penulis sekiranya tidak akan berhenti untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Mari kita berpikir cerdas dalam kehidupan kita dalam mensejahterahkan manusia. Akhir Kalam

Salam Literasi
Salam Goresan Amatir

AKR, 12 Mar. 2020

0 komentar:

Posting Komentar