" Segala sesuatu yg sadar apabila menghilang akan bersatu menuju alam bawah sadar" - Sigmund Freud
Salam goresan amatir
AKR
5 April 2020
Faktanya, sebagian kecil dari manusia adalah alam sadarnya, ibarat analogi teori gunung es, sebagian besar yang tersingkap baik itu sikap dan pikiran pada manusia itu berada di alam bawah sadar. Namun kita sendiri yang menyimpannya dalam-dalam ke alam bawah sadar agar tidak menerobos masuk ke alam sadar kita. Katanya, bahwa semakin banyak hal buruk atau kenangan buruk yang kita simpan di alam bawah sadar, semakin tidak baik terhadap kesehatan jiwa kita sendiri. Karena memori buruk itu ibarat luka yang sukar untuk sembuh, namum kita mencoba menghilangkannya dengan lupa dan menaruhnya dalam-dalam ke alam bawah sadar. Semakin banyak memori buruk yang kita simpan, suatu waktu alam bawah sadar akan terus memberontak dan menerobos menuju alam sadar kita--- dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa. Makanya dlu sigmund freud membuka terapi, dengan menyuruh pasien untuk menelusuri alam bawah sadar mereka dan menerina dgn ikhlas memorinya, mengingat dengan jelas detailnya, hingga pasiennya sudah tidak merasakan sakit sama sekali.
Baru-baru ini pun saya mimpi, secara teori bahwa mimpi pun salah satu pintu alam bawah sadar yg selalu memberontak masuk ke alam sadar. Lebih uniknya lagi, apa yang saya mimpikan masih bisa saya ingat secara gamblang di pikiran saya ketika terbangun. Bahkan saya menulis isi pikiran saya ketika terbangun, apakah ini hal yang bagus atau hal yang buruk? mungkin inilah rasanya mendapat inspirasi dari mimpi, atau alam bawah sadar saya menunjukkan kepadaku puisi yg sangat ingin kutulis namun telah kulupakan. Jadi saya mulai berpikir, apakah alam bawah sadar baik untuk disusuri?
Ada dua kasus alam bawah sadar yang saya tahu yang bisa kita ambil pelajaran darinya.
Kasus pertama adalah seorang anak yang belum mampu menahan pikirannya, contohnya adalah saya sendiri sewaktu masih kecil, waktu berkunjung ke rumah mantan pejuang di kota bandung. Orang tuaku pernah berkata kakinya hilang satu, tp jgn tanya kakinya hilang kemana, karena gak sopan bertanya begitu ke orang yg baru dikenal. Akhirnya sayapun menaruhnya ke alam bawah sadar saya agar saya tidak mengeluarkannya ketika berbicara dengan mantan pejuang itu. Namun namanya juga masih anak-anak, ketika saya bertemu sang pejuang saya malah keceplosan bertanya "ih dimana satu kaki ta?" inilah salah satu contoh, apabila kita menaruh sesuatu di alam bawah sadar, hati saya secara tidak sabaran ingin mengeluarkan itu dengan rasa begitu gelisah, dan itupun baru satu hal yang tersimpan di alam bawah sadar ketika kecil. Namun, di jaman 18-19 Masehi para seniman francis malah tertarik untuk mendalami alam bawah sadar, karena disitulah letak seninya. Mereka melukis dan menulis sesuatu dengan tanpa berpikir, karena seni sesungguhnya itu seperti ilham, yang datang dengan sendirinya. Sebagian besar hal-hal kreatif yang berhubungan dengan alam ide dan common sense pun rata-rata didapatkan dalam alam bawah sadar sehingga alam paling kreatif adalah alam bawah sadar.
Namun, apabila kita dapat mengontrol dengan bebas alam bawah sadar kita, hal itu juga perlu diiringi oleh agama, yaitu penentu kebijakan. Karena alam bawah sadar itu liar, apalagi dalam hal hawa nafsu, kalau kita membiarkan alam bawah sadar kita menstimulus, untuk menyukai seseorang lalu menghalalkan segala cara untuk melakukan hal yg tidak terpuji? Disitulah akal kita berperan sebagai penyaring dalam hal moral, etika, dan agama. Otak kita mengkaji secara aksiologi tentang kualitas nilai abstrak yang telah kita tahu.
Mungkin ini saja yang ingin kutulis, apakah salah satu dari pembaca juga pernah mengalami, bahkan sudah bisa mengontrol alam bawah sadar sendiri?
Mohon maaf apabila kekurangan, karena itu semua dari saya, sekian~
Mohon maaf apabila kekurangan, karena itu semua dari saya, sekian~
Salam goresan amatir
AKR
5 April 2020





0 komentar:
Posting Komentar