GORESAN SEORANG AMATIR

Temukan harmoni dalam dirimu

Semakin tumbuh umurnya seseorang, maka rasa ingin tahunya mulai berkurang.

Mengetahui lebih jauh tentang Entrepreneur Thinking

Cara menjadi entrepreneur adalah dengan menggunakan prinsip "be like monkey"

Perbanyaklah ilmu, kelak itu semua akan menolongmu

Segala disiplin ilmu yang ada di dunia pasti akan bermuara ke kondisi khusus

Jangan mudah putus asa

Bila dirimu lelah, ambil wudhu, lalu sholat lah. kapan lagi berbisik ke bumi tapi didengar oleh langit

Mengenal lebih jauh tentang penulis

Alief Karunia, seorang yang selalu bertanya tentang kebenaran dan keberadaan. apakah eksistensi kita sudah memberi manfaat pada dunia lugu ini?

Selasa, 01 Desember 2020

Aroma Karsa (Book's Review)

Judul : Aroma Karsa

Tebal : 702 Halaman

Penulis : Dee Lestari


Gambar 1.1  Cover Buku Aroma Karsa


"Andai bunga-bunga di dunia bisa berbicara, mereka akan menyatakan kecemburuannya kepada bangsa anggrek. Tidak ada bunga lain di dunia yang dapat membuat manusia tergila-gila"
- Janirah Si Pencuri

    Tak pernah membuat kecewa para pembacanya, itulah Dee Lestari yang kita kenal, sebuah novel baru yang dirilis pada tahun 2018 silam ini sangat sangat membuat para pembaca terbang berkelana dalam dunia fantasi-mistis yg berlatar di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Novel ini diriset oleh sang penulis selama 4 tahun lamanya, tak heran apabila Kak Dee menjelaskan se-detil mungkin bahkan se-filosofis mungkin terkait produk-produk yang telah dibuat oleh karakter utama yaitu Jati Wesi.

Novel ini sangat menarik, karena pengenalan karakternya yg sangat rapi, ibarat susunan puzzle, satu persatu rangkaian cerita yang penuh teka-teki, cerita mistis, misteri, cinta yang bertepuk sebelah tangan, hingga cinta yang terbolak-balik menghubungkan ke suatu peristiwa yang bahkan sulit ditebak untuk kedepannya. Alur dari novel tersebut pun berkisah maju-mundur, sehingga memaksa akal kita untuk memory recall tentang kejadian dan ucapan apa saja yang telah kita baca sebelumnya.

Ketika membaca cerita dari sang penulis "Perahu Kertas" ini saya mengetahui sebagian adat jawa, kehidupan bermukim di TPA, sisi gelap orang orang yang menjadi bos di penadah sampah. Seperti bukan kisah novel saja, mungkin inilah salah satu kelebihan dari kak Dee dibanding sebagian besar penulis lain dalam membuat novel fiksi. Cara Kak Dee menyampaikan cerita seolah olah kita melayang-layang dalam pikiran sebagai orang yang pertama di dalamnya. Kata-kata magisnya menyihir kita agar terus membayangkan apa saja yg telah termaktub.

Ceritanya cukup kompleks, sebagian besar isi cerita berisi tentang maniak parfum dan anggrek, mungkin terdengar biasa saja, namun lain ceritanya apabila kita telah membacanya sendiri, sangat menakjubkan. Bermula tentang seorang keturunan pelayan raja yang cukup nakal, ia lincah, suka mencuri, dan tergila gila dengan anggrek. Berkat kerja keras dan faktor X akhirnya ia berhasil merangkak dari dunia perbudakan menjadi seorang keluarga konglomerat, bukan hanya karena kerja kerasnya, namun gegara faktor X yang selama ini tersembunyi di istana. Waktu demi waktu berlalu sehingga ia beranjak tua, menjadi penggila anggrek dan pembaca dongeng, diselip dongengnya yang magis ternyata terdapat realita yang ia selalu cerita ke cucu perempuannya. Dongeng putri yang menggunakan sihir aroma karsa yang sejak awal dikiranya hanyalah dogeng, diungkapkan sebagai kebenaran sebelum akhir hayatnya. Perjalanan sang cucu yang bernama Raras inilah menjadi titik mula petualangan menemukan sang aroma karsa berkekuatan sakti tersebut. Seakan takdir memihaknya, Raras beranjak tua dan memiliki anak berkekuatan untuk.... rahasia dehh pokoknya baca aja, 2 karakter utama akan dipertemukan dengan se-unik mungkin.

Jujur saja, ini adalah rekor pertama saya membaca buku 700 halaman hanya dalam beberapa hari dan termasuk cepat lah ya, mungkin karena relate dengan kehidupan sehari-hari, berbau Indonesia sehingga tak ada bosannya kita untuk berhenti membaca. Oh iya, gaya penulisan kak Dee pun dibuat se-menarik mungkin, ibarat dalam kelas percintaan kita disuruh mengungkapkan kata cinta, tapi tak boleh mengukapkan kata "cinta" atau simonimnya dalam penyampaiannya, contohnya ketika ada dua pasangan bercumbu dalam cerita tersebut, kak Dee menulis "semakin dekat hingga tak ada lagi jarak antara bibir mereka berdua" itulah yang membuat imajinasi kita jalan dan membumbui cerita seseru mungkin. Biasa aja sih gua aja yg lebay kayaknya hehe. Tapi serius kalian akan sering mendapati penulisan seperti ini di novel beliau.

Overall, novel ini bagus banget pokoknya semua orang Indonesia harus baca, harus tau kehidupan terendah hingga yang terkaya, tau apa itu dedemit yg biasa disematkan pada pendukung Real Madrid, dan pokoknya banyak banget deh yang bisa ditau dari buku ini. Saya tidak akan membahas isi ceritanya karena nanti mengandung spoiler, saya hanya menceritakan garis besar saja. Untuk rate saya memberikan 4/5 untuk buku ini, karena sangat seru untuk dibaca

Sekian dulu review singkat dari saya, 
Salam goresan amatir! Sebarkan virus literasi

Makassar, 1 Desember 2020




Minggu, 22 November 2020

Retorika (Book's Review)

 Judul : Retorika 

Halaman : 406 Halaman 



Buku retorika ini pengarangnya sendiri adalah salah satu dari 3 filsuf terkenal yunani pada abad sebelum masehi, yaitu Aristoteles. Beliau merupakan anak didik dari Plato sekaligus menjadi  sang maha guru dari Alexander The Great.

Retorika sendiri adalah cabang dari ilmu filsafat, lebih tepatnya ilmu yg memekarkan diri dari kakek moyang ilmu filsafat. Sebagaimana kita tau, konsentrasi khusus tertentu akan memisahkan diri dari filsafat apabila itu telah diuji secara ontologi, epistimologi, dan pragmatis. Dewasa ini, ilmu retorika tersebut bermetamorfosis menjadi ilmu komunikasi, namun tak sedikit juga yg masih bersikukuh bahwa retorika tak sama dengan ilmu komunikasi, bahkan ada juga yang mengatakan inti dari seni berkomunikasi ialah ilmu retorika yg akan kita bahas ini.

Retorika sendiri ialah, seni persuasif, yaitu menggunakan segala instrumen baik yang ada pada diri kita maupun diluar diri kita untuk mempengaruhi orang lain. Secara singkat retorika berbicara tentang etos, patos, dan logos~ yakni dalam berbicara untuk mempengaruhi seseorang, hal pertama dilakukan ialah menjadi seseorang yang berkapabilitas dalam mengatakan sesuatu, tentunya ketika berbicara mengenai negara, orang-orang turut lebih percaya terhadap kata-kata instansi pemerintahan dibanding orang-orang yg hanya ngelantur tentang politik tanpa background yg menjanjikan, kemudian cara mendapatkan kesesuaian antara masalah yg dibicarakan sama dengan yg dialami sekarang, sehingga mendapatkan emosi dari para pendengar, ketika sudah mencapai tahap itu pendengar akan senantiasa mendengar apapun yg hendak diutarakan, apalagi dalam logos yg disampaikan begitu luas dan bijak sehingga dapat diterima oleh khalayak umum. 

Seumpama gayo dan robusta, retorika pun memiliki persamaan dengan dialektika, namun terdapat perbedaan mendalam dalm tujuannya. Dalam retorika orang-orang menuntut agar para pendengar berpihak kepada pembicara, melakukan cara apapun baik itu benar maupun salah dengan cara yg elegan, sejatinya dialektika ialah komunikasi dua arah yg tujuannya memang untuk menyingkap kebenaran yang masih tersamarkan. 

Buku tersebut merupakan saduran dari kitab yunani, isi dari buku tersebut selalu merujuk ke peristiwa peristiwa dan puisi pada zaman Yunani kuno. Apapun permasalahan dan solusinya akan diperumpamakan dengan yg telah terjadi di masa lampau, jadi ketika membaca buku ini kita harus mempersiapkan diri dengan banyak pengetahuan tentang tragedi yg terjadi di aceopolis tepatnya di Athena. Jikalau belum dibekali banyak buku tentang hal tersebut siap-siap membaca ulang kalimat per kalimat hingga 3-10 kali. Dalam buku ini, ada 3 saduran buku didalamnya. Sebagaimana kita tahu bahwa retorika, contohnya berbicara dalam pidato politik, yaitu terhadap siapa kita harus marah, kenapa kita harus marah, dan bagaimana kita menyikapi kemarahan tersebut.

Dalam berbicara tentunya kita harus memahami esensi dari yang kita bicarakan, jangan sampai kita "melek walang" yaitu kita berbicara sesuatu yang kita tidak tau sendiri apa yang kita bicarakan. Maka dari itu dalam retorika hal yang kita perlu tahu diawal ialah tentang banyak definisi, baik itu kebaikan, tolak ukur kebenaran, kebajikan, kebijakan, dan nilai-nilai lainnya dan dibandingkan dengan lawan katanya, sehingga kita dapat mengetahui apa yang kita bicarakan mengandung apa. 

Lalu buku kedua berbicara tentang emosi, seperti apakah senang itu, gelisah, marah, khawatir, takut, dll. Sehingga kita dapat menelaah lebih dalam apakah kita sedang marah, atau membuat orang marah, bagaimana definisi ekspresi itu sendiri. Seperti seorang ibu yg pantas mati, namun ia mati di tangan anaknya sendiri.

Dan buku ketiga ialah inti dari buku tersebut, sebagus apapun isinya, sepenting apapun isinya namun bila caranya menyampaikan tidak lah tepat, tidak tersampaikan ke hati dan emosi pendengar maka akan percuma. Maka dari itu buku pertama dan kedua sangat menunjang apabila membaca buku ketiga ini. Dalam menyampaikan terdapat banyak jenis cara, baik itu entimem, yaitu silogisme tak lengkap, maksim, simila, metafora proporsional dan yang lainnya. Semua akan dijelaskan cara berargumentasi, menyanggah pendapat orang, menarik simpati orang dan mempengaruhi. Pidato forensik, pidato politik, pidato epideiktik pun dijelaskan secara rinci sehingga kita paham dasar dasar yang baik salam berbicara.

Kurang lebih itulah isi dari buku tersebut, dan tentunya butuh waktu yang lumayan lama agar pembaca memahami buku tersebut, mestinya harus dibekali dengan banyak cerita dari negeri filsafat tersebut dan harus dibaca berulang ulang. Dirikupun harus membaca ulang buku itu kedepannya untuk kesekian kali. 

Maka dari itu, apabila ingin jadi seorang retoris ulung, sudah siapkah anda untuk membaca buku ini?

Untuk rating dari buku tersebut yakni 2.9/5 
Sekian review dari blog ini

Salam Goresan Amatir!
Mari kita sebarkan virus literasi


Red : AKR
Makassar, Anjungan Pantai Losari
22 November 2020



Jumat, 11 September 2020

Sejauh Manakah Cakrawala Etika Kita?

 Sejauh manakah cakrawala etika kita? ujung-ujungnya permasalahan ini kembali kepada pertanyaan tentang identitas. Apakah manusia itu? dan siapakah aku? jika aku hanya diriku --- badan yang sedang duduk dan menulis ini --- maka aku adalah sekadar suatu ciptaan tanpa harapan. Dalam penegertian yang luas. Namun, aku memiliki sebuah identitas yang lebih mendalam ketimbang sekadar badanku dan masa hidupku yang singkat di bumi ini. Aku adalah bagian dari --- aku juga mengambil bagian dalam --- sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku sendiri.

    Jika aku dapat memilih antara mati saat ini, tapi dengan jaminan bahwa umat manusia akan terus lestari ribuan tahun ke depan, atau hidup dalam kondisi sehat sampai umurku seratus tahun, lalu seluruh kemanusiaan ikut mati bersamaku --- maka aku tidak akan ragu-ragu dengan pilihanku. Aku pasti akan memilih mati saat ini juga --- dan tidak sebagai korban, melainkan karena sebagian dari apa yang aku anggap sebagai "aku" mewakili keseluruhan umat manusia. Dan aku takut kehilangan bagian dari diriku ini. Hanya sekadar pikiran bahwa itu dapat terjadi, sudah membuatku ketakutan setengah mati. Aku lebih khawatir akan umat manusia yang akan musnah dalam waktu seratus atau seribu tahun ketimbang badanku sendiri yang akan hancur terurai --- hal ini, toh sudah pasti akan terjadi pada suatu hari.

    Lagi pula dalam hal ini aku berpikir sebagai wakil dari keseluruhan planet tempat hidupku. Itu semua menjadi aku. Aku peduli dengan nasib planet ini karena aku takut kehilangan bagian inti terdalam dari jati diriku.


                                                                    Gambar 1.1 Dunia Anna ( Sumber Google)

Diambil dari buku

Dunia Anna - Jostein Gaarder

Rabu, 02 September 2020

Bila Aku Tak Lagi Bisa Jatuh Cinta

 Bila aku tak lagi bisa jatuh cinta

2 September 2020


Aku rasa semakin hari afektifku semakin mati, mati rasa. Aku tak merasakan apa apa tentang perasaan


Mungkin karena aku yg trauma tentang cinta

Sangat mungkin bahwa aku i love u phobia

Kini aku takut lagi untuk mencinta, sehingga melupa apa itu cinta


Semakin hari pikiranku dipenuhi, akankah kelak aku bisa membahagiakan istriku?


Akankah istriku masih mencintaiku, dengan perubahan diriku?


Apakah aku bisa mempercayai manusia (walau keluarga) hingga akhir?


Kurasa saat ini tidak. Aku tidak merasa untuk bisa mencintai seseorang lagi

Tolong buat kamu yg membaca ini nanti, bantu lah aku untuk jatuh cinta lagi


Tapi bukan ke dirimu, melainkan orang selainmu. Karena aku tidak ingin kau mengenalku, lalu dicintaiku, dan meninggalkanku.


Dariku yang pernah dan takut lagi patah hati

Dariku yang takut ditinggali

Dariku yang tak yakin bisa membahagiai





Rabu, 15 Juli 2020

Natural Leader (Book's Review)

Judul               :Natural Leader 
Karya              :Mark Van Vugt & Anjana Ahuja
Tebal Buku     : 303 Halaman

Pernah gak sih terbesit dalam pikiran kita, mengapa ada pemimpin?
Seperti apakah pemimpin yang baik itu?
apakah orang-orang yang lahir sudah ditakdirkan sebagai pemimpin?

Jika kita membuat kesepakatan bersama terkait pemimpin tentunya definisi kita secara implisit  sama,  bahwa pemimpin adalah orang yang bisa menggerakkan orang lain untuk mencapai suatu tujuan, baik secara paksa maupun sukarela. 

Begitu banyak buku yang membahas tentang manajemen kepemimpinan, bagaimana menjadi pemimpin yang baik, seperti apakah pemimpin ideal. Mungkin buku tersebut sudah terlalu banal dan menjamur banyak sekali di rak-rak buku perpustakaan, maupun di meja belajar anda masing-masing. 

Pertanyaannya adalah, dengan begitu banyaknya buku terkait kepemimpinan yang begitu tebal dan  banyak apakah sering kita menjumpai pemimpin ideal? yang betul-betul dikagumi secara mayoritas oleh orang-orang? Nyatanya pemimpin tersebut hanya terdapat pada masa lampau yaitu pada seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan alur jalannya sejarah dunia ini, seperti Baginda besar umat Islam, Buddha, Kong Hu Cu, dan pemimpin besar lainnya. Namun di zaman modern ini kita sangat jarang menjumpai pemimpin ideal baik dari lingkup terkecil mulai dari RW, Ketua OSIS, hingga lingkup yang terbesar seperti CEO, Direktur, hingga Presiden sekalipun. 

Salah satu penyebabnya adalah kepemimpinan terus berubah seiring berkembangnya zaman, dinamika kepemimpinan terus berevolusi dan berinteraksi dengan gaya hidup manusia sejak 2 juta tahun yang lalu ketika manusia turun dari pohon (menurut buku ini). Ah, sebelumnya saya ingin menerangkan kepada pembaca bahwa ketika membaca buku ini anda harus menjadi penganut teori Evolusi oleh Darwin, jika tidak bisa percaya sepenuhnya, percaya sebagian saja *seperti saya. Karena buku ini menjelaskan secara rasional mengenai teori kepemimpinan evolusioner. Dimana semua ada sangkut pautnya dengan Teori Evolusi Darwin dalam bukunya "On The Origin Of Species" pada abad 18 silam. Hal yang saya percayai dari Teori Evolusi hanyalah dua, yang pertama bukan tubuh yang berevolusi secara total, namun akal terus berevolusi dalam 2 juta tahun terakhir ini. Yang kedua, antropometri manusia lah yang berubah sepanjang jutaan tahun manusia hidup di bumi, orang-orang yang tersebar di dunia memang memiliki bentuk tubuh dan kognitif yang berbeda secara signifikan. Baik yang tinggal di Asia, Eropa, kawasan pegunungan, pantai, dan urban memiliki ciri khas masing-masing secara general. Teori seleksi alam pun dapat terbukti dengan analogi ngengat hitam dan putih yang tinggal di kawasan Industri yang mungkin sudah sering para reader baca di berbagai kitab yang ada.

Langsung saja, buku ini menjelaskan klasifikasi pemimpin. Seperti apakah natural leader itu? apakah pemimpin itu dilahirkan dan bukan diciptakan?Di awal kita disuguhkan terkait macam-macam pemimpin, dimulai dari teori pemimpin besar bahwa pemimpin itu terlahir untuk menjadi pemimpin seperti baginda umat islam,  teori pemimpin sifat baik, karisma, transaksional (pekerja kantor), transformasional, terdistribusi, dan pemimpin pelayan. Jadi sebenarnya pemimpin itu sudah melekat pada diri kita sendiri, namun tergantung pada situasi dan kondisi tertentu manusia menginginkan kepemimpinan yang seperti apa. Mengapa ada pemimpin?  dalam buku ini terdapat teori menarik bahwa hakikat dari manusia adalah adanya keinginan untuk mengikuti. Kita diwariskan sifat selama berjuta-juta tahun pada gen fan akal oleh nenek moyang kita. Bahwa jauh didalam lubuk hati dan perasaan, kita sudah di program untuk mengikuti, dan lebih jauh di alam bawah sadar, kita ingin memimpin, namun jikalau tak mampu, kita menginginkan kesetaraan. Yah pada intinya, pemimpin ada karena kita semua memiliki naluri dasar untuk mengikuti. 

Pernah terlintas di benak kita, mengapa ketika ada sesuatu yang viral, atau sedang booming, secara tidak sadar kita pasti akan memiliki naluri untuk mencobanya walau sekali, mengapa kita mengikuti orang-orang dalam menggunakan facebook, twitter, dan medsos lainnya. Ketika melihat selebgram mencoba makanan yang baru, kita cenderung ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh selebgram tersebut. Secara kesimpulan diri kita sekarang ialah proses interaksi antara kepribadian id(bawah sadar) dengan lingkungan sekitar kita. Tak hanya itu, bahkan bayi yang berumur 1 tahun pun akan tersenyum ketika melihat ibunya tersenyum, manusia sudah melekat atribut mengikuti sejak lahir. Mengapa hanya ada 1 pemimpin dari sekian banyak pengikut, karena kita adalah orang-orang yang sudah membawa atribut pengikut dominan dari 2 juta tahun manusia berevolusi. Mengapa begitu banyak pengikut dari pemimpin?  Karena mungkin saja kita adalah keturunan dari orang-orang yang menjadi pengikut dan terbawa hingga saat ini.  

Untuk mendukung bahwa statement diatas, kita memiliki sumur emosi yang dalam dan melekat pada diri kita semenjak lahir. semacam rasa takut kepada Laba-laba, ular, dan hewan buas lainnya, mengapa demikian? sementara menurut data bahwa orang-orang yang meninggal setiap tahunnya karena hewan buas tersebut mencapai 200an korban jiwa, sedangkan manusia meninggal karena kebringasan kendaraan di lalu lintas memakan korban sekitar 400.000an jiwa. Lantas mengapa orang-orang lebih takut kepada hewan ketimbang kepada mobil? Ya, hasil tersebut merupakan justifikasi sumur emosi yang kita bawa yang diturunkan oleh nenek moyang kita hingga sekarang,  hal tersebut pun berlaku ke pertimbangan kita, mengapa kita cenderung memilih tipe pemimpin  yang terlihat keren,  gagah, tinggi,  berahang tegas, yang cetakan pemimpin idealnya sudah terbentuk sejak jaman batu.

Disini saya tidak akan membahas semua isi buku, karena akan memakan lembaran yang sangat panjang karena ini hanya review, bukan resensi. Saya ingin menjelaskan poin pentingnya saja

Pertama, untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki atribut keadilan pada diri kita,  agar menjadi pemimpin yang bijak. Apakah ketika kita turun dari pohon kita msh belum mengenal keadilan? Dalam teori evolusi kepemimpinan dalam buku inu dijelaskan bahwa prinsip keadilan pada manusia sudah ada sejak kita menjadi kera dan telah dibuktikan dalam riset, yang menarik pada buku ini adalah banyaknya riset yang dilakukan baik terhadap hewan dan manusia dengan hasil yang memuaskan. Contoh, terkait kepemimpinan lebah, bahwa sebelum mencari sumber makanan yang akan dicari para kawanan lebah akan menari terlebih dahulu, semakin lama menarinya maka semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh sehingga lebah bisa mempersiapkan perjalanan panjang mereka. Primata yang mirip kita sangat mengerti konsep keadilan, ketika mereka dibayar tidak sesuai primata lainnya mereka akan menolak dan ogah-ogahan dalam melakukan sesuatu dan lainnya. Dalam penelitian dan riset tersebut mengingatkan saya tampak sifat sang pencipta. Membuat saya menyadari dibalik ini semua ada yang mengatur skenario bagaimana makhluk hidup mempertahankan populasinya dengan cara yang begitu menakjubkan. 

 Manusia yang dulunya monyet tersebut turun dari pohon dan memulai perjalanan barunya, dengan menggunakan akal dan kepemimpinan untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya. Mengapa manusia bisa bertahan hingga sekarang adalah karena dengan hidup bersama-sama dalam satu suku akan membuat manusia lebih menjamin keselamatan hidupnya. Tentunya dalam sebuah suku akan terdapat satu pemimpin, dan pemimpin tersebut adalah orang yang kuat. Berbeda dengan zaman sekarang pemimpin tidak haruslah kuat, namun sumur emosi kita membawa pemikiran tersebut sehingga kita terkadang memilih pimipin berdasarkan figurnya dan tampangnya. Kita memilih mereka yang memiliki karisma, karisma sendiri berasal dari kata kharis yang berarti anugrah dari tuhan. Dimana dengan intelektual verb nya yang dapat membuat orang kagum dengan caranya berbicara. Itulah inti dari buku ini, kita terkadang keliru dalam memilih pemimpin karena terkelabui oleh sumur emosi kita. Orang yang pandai berbicara belum tentu pandai mengurus negara.

Tambahan saya ingin membeberkan pandangan pemimpin dahulu dan sekarang, zaman dahulu suku hanya berfokus dengan bertahan hidup, maka yang kuat akan menjadi pemimpin. Namun pada saat tertentu, pemimpin akan berubah sesuai dengan bakat dan keahlian masing-masing. Ketika sumber makanan habis, maka seorang pengelana yang tahu dimana letak makanan dan minuman di tenpat yang tepat akan ditunjuk menjadi pemimpin sesaat sehingga fokus pemimpin hanya berorientasi pada satu hal, berburukah,  atau berpindah pindah.  Di zaman sekarang ini menjadi pemimpin begitu berat karena dituntut untuk dapat menangani segala hal, sehingga orang-orang mendambakan pemimpin yang dapat melakukan segala hal,  orang-orang menyebutnya pemimpin pelangi. Dinamika yang terkembang pada kepemimpinan membuat segala hal menjadi kompleks. Di jaman purba, terdapat angka dumbar yang berarti batas rata-rata jumlah suku yang terdapat pada masa lalu sebelum terjadi kerajaan adalah 150 orang. sehingga para pemimpin suku tidak terlalu khawatir dalam me manage anggotanya. berbeda dengan zaman modern ini yang menuntut pemimpinnya untuk mengayomi ratusan juta penduduk yang mustahil dilakukan tanpa kesadaran dari tiap-tiap insan untuk membantu.

Last but not least, yang menarik dari buku ini adalah mengapa kita kera yang mengenal konsep keadilan sejak belum berevolusi, dapat melakukan tindak korupsi, sedangkan dalam kepemimpinan kita, kita telah menjadi primata yang egaliter. despotisme dan sifat buruk lainnya yang tidak terdapat sebelumnya pada kita ketika masih menjadi kera. Pemicu terjadinya korupsi adalah ketika manusia mendapatkan surplus pangan (makanan) sehingga terbentuklah orang gendut pertama di bumi. Jaman dahulu orang-orang akan membagikan dagingnya ke keluarga lain, karena mereka hidup berkegantungan. Bisa jadi orang lain mendapatkan daging pada esok hari dan kita tidak. maka terjadilah sifat bahu-membahu untuk mereka yang hidup dizaman lampau. Namun semenjak terjadinya pertanian 13.000 tahun lalu orang-orang mulai membuat pemukiman dan terjadilah pembengkakan pertumbuhan manusia. Sehingga terbentuklah kedatuan, bangsa, dan kerajaan. Karena hal tersebut muncullah kesenjangan, orang-orang mulai mandiri dan tidak bergantung ke yang lainnya. Orang-orang kaya akan mulai berkuasa dan muncullah orang miskin, dan orang miskin akan menjadi pekerja dari orang-orang kaya itu. Manusia-manusia yang melihat celah melakukan korupsi sedikit demi sedikit untuk memuaskan nafsu mereka dan kerabat mereka yang terdekat. Kurang lebih seperti itulah mengapa kerakusan mulai tersebar hingga di masa hidup sekarang.

Mungkin ini saja yang bisa saya review dari buku ini, masih banyak sekali yang belum saya paparkan, seperti strategi mengatasi penguasa, mengantisipasi pengikut yang tidak loyal, mengapa kita ingin dipimpin oleh penguasa otoriter, dan masih banyak lagi. Buku ini pembahasannya terlalu luas karena membahas evolusi manusia semenjak 2 juta tahun lalu hingga sekarang. Hukum sebab akibar dan banyak riset dan analogi yang menarik yang harus dibaca buku ini demi insight kalian kedepannya. Bagaimana menjadi pemimpin yang diinginkan oleh orang-orang. Bagaimana kita menginginkan kesetaraan walau dengan kekuasaan yang hampir absolut. Pada intinya kita dicurahkan ilmu tentang sepenting apa pemimpin, darimanakah asal mulanya, dan bagimana kah natural leader yang betul-betul  kita inginkan saat ini. 

Demikian dengan apa yang telah kutulis, mari sebarkan virus literasi
SALAM GORESAN AMATIR!


AKR
Makassar, 15 Juli 2020

Selasa, 07 Juli 2020

Tips ketika Stuck Dalam Menulis


"Lihatlah akhir jalan, sementara kau masih di depan gagasan. Berapa lama kau habiskan waktu dengan kata-kata?" 
- Jalaluddin Rumi

Puisi diatas hanya reminder untuk diriku yang kebanyakan berkata-kata namun minim dalam pelaksanaan, semua hanya berakhir dengan gagasan dalam pikiran dan berujung wacana.

Disclaimer!! Tulisan ini mengandung self proud, harap diabaikan kenarsisan penulis!

Sering terjadi,
Ketika kita menulis cerita, puisi, balada, naskah drama, dan apapun yang tertuah diatas kertas pasti suatu saat akan terjadi mandeg. Hampir semua orang pernah mengalami hal tersebut, bahkan penulis terkenal seperti Tere Liye pun pernah merasakannya. Saya sendiri sebagai seorang blogger sering diterpa rasa malas dalam memulai atau melanjutkan tulisan saya heheh. Disini saya berbicara bukan sebagai orang yang berkapabilitas (etos) namun hanya ingin berbagi pengalaman dan insight yang selama ini kudapatkan apabila terjadi stuck ketika menulis.

Saya ingin bercerita sedikit tentang masa lalu saya sebagai pelajar, dimana saya masih jarang sekali menulis apapun, baik essay atau tulisan lain. Ketika saya SMP buku yang pertama kali saya baca adalah buku kisah tentang kisah Abu Nawas yang selalu saya bawa kemana-mana selama 3 bulan awal di pondok pesantren Gontor. Karena selama SMP anak gontor dididik untuk membawa buku kemanapun ia beranjak, kita mempelajari mahfudzot yang berbunyi "Teman terbaik dalam duduk adalah buku" jadi jangan heran kalo ke Gontor orang-orang disana rata-rata membawa buku dimanapun. 

Singkat saja, di gontor pelajarannya sangat banyak, dalam satu semester harus menghafal 50-an mahfudzot, 40-an hadits, dan puluhan tafsir beserta 20-an mata pelajaran lainnya dalam satu semester. Sehingga jarang sekali kami mendapatkan waktu untuk membaca buku lepas. Saya sendiri pertama kali membaca novel adalah novel milik Ahmad Fuadi, karena di Gontor orang-orang yang mengikuti seminar, bedah buku, dibolehkan untuk tidak mengikuti pelajaran berlangsung, sehingga bisa libur sesaat dan mengikuti seminar buku yang diadakan. Buku novel yg saya ingat baca selama SMP sangat sedikit, bahkan masih bisa kuingat sampai sekarang. Berikut judul-judul novel yang pernah saya naca : Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Kemi (Cinta Kebebasan yang sesat)*Novel terseru. Saya tidak akan membahas pandangan saya terkait novel tersebut karena bisa jadi tulisan saya akan terlalu panjang. 

Nah, disini nih poin dari postingan ini, ketika saya beranjak SMA, dan SMA saya bukan pesantren yang sangat disiplin dan keras seperti Gontor, saya tidak terlalu banyak dituntut hapalan dan pelajaran. Lalu di tengah semester diadakan event yang sangat menarik oleh OSIS SMAI NFBS diadakan lah seminar buku, yang bernama KOPI BUBUK (Konfrensi Pintar Buka-Bukaan Tentang Buku) pemateri yang diundang kala itu bernama Tere Liye, jujur saya sendiri bahkan belum tahu beliau. Mungkin karena kurang banyak melihat dunia luar heheh. 

Jujur saja, awal saya akan mengikuti seminar tersebut agak setengah hati, karena waktu itu adalah hari sabtu (hari libur pesantren) namun karena dipaksa oleh senior akhirnya saya mengikuti KOPI BUBUK yang diadakan oleh OSIS SMAI NFBS kala itu. Satu hal yang saya sesali adalah bahwa saya masih belum bisa menghargai tamu undangan ini, dulu saya hanya menghargai orang terkenal atau yang kukenal saja. Namun, betapa indahnya jikalau kita menghargai setiap insan yang kita temui. Kita tak pernah tahu mereka lah orang yang akan sangat mengubah hidup kita ke depannya nanti. Yap, ketika saya mengikuti seminar tersebut, ekspektasi saya tentang kebosanan seminar terpatahkan, baru kali ini realitas tak sesuai ekspektasi terjadi begitu menyenangkan. Pria kelahiran Sumatera yang akrab disapa sebagai Darwis pun membuka mata saya, tidak selamanya mengikuti seminar itu membosankan. Bahkan saya merasa sangat dekat dengan beliau mungkin dari teknik dan gaya nya dalam membawakan acara, bahkan beliau tidak sungkan membeberkan fakta istrinya yang dulu tidak bisa masak dan fakta-fakta lainnya tentang kehidupannya sehingga acara tersebut begitu menarik diikuti. 

Pada seminar kali itu, saya menyesal karena membuat pemateri menunggu sehingga waktu seminar yang dirasa begitu sangat singkat. Banyak hal yang bisa dipelajari, dan pada saat itu beliau menekankan pentingnya membaca dan menulis. Namun kali ini saya hanya ingin berfokus pada scoope menulis agar sesuai dengan judul. Beliau menekankan bahwa menulis itu sangat penting dijelaskan dengan dua analogi: 

1. Ialah dokter dengan 500an pasien per tahunnya, dan dia berhasil menyembuhkannya, sebagian dia menggratiskannya, dan sangat banyak orang yang menyukainya

2. Dokter dengan yang tidak sempat membuka praktek, karena dia harus fokus untuk merawat ibunya yang terkena penyakit stroke, hari demi hari, bulan demi bulan ia lewati, hingga akhirnya sang dokter dapat menyembuhkan ibunya. Di waktu senggang sembari merawat ibunya dengan kasih sayang, ia juga menyempatkan menulis cara merawat ibunya yang terkena penyakit tersebut dan menyelesaikan bukunya dengan judul catatan merawat ibu dengan sangat detil. Tak lama setelah itu bukunya laris dan dicetak berulang kali. 

Mana yang lebih bermanfaat? tentunya dua-duanya sama bermanfaatnya, namun dengan menulis banyak orang yang tercurahkan dan mudah mendapatkan bukunya, karena terus dicetak dan dicetak sehingga banyak orang yang membacanya dapat membantu orang-orang yang memiliki penyakit yang sama dengan ibunya karena buku yang telah termaktub. Daripadanya kita mengetahui, betapa bermanfaatnya apabila kita menulis, kau tidak akan langsung menyadarinya secara singkat kawan.

Tak sampai disitu, Tere Liye tak hanya memberitahu se bermanfaat apakah orang menulis, ia juga memberitahu tips-tips ampuh dalam menulis. Bagaiamana agar kita dapat menulis banyak hal dan tidak stuck dalam menulis sesuatu. Dia memberi tips pertama.
Dalam menulis, orang terlalu miskin kata-kata, mereka membatasi kosa-kata yang sudah ada dalam pikirannya tersebut, semisal banyak sekali orang mengkonotasikan sebuah kosa-kata memiliki arti yang negatif. Misalnya, hitam selalu dipandang sebagai kata-kata yang jelek. Padahal setiap kata yang telah tercipta itu bisa saja menjadi indah, apabila kita rangkai dengan baik.

Lalu untuk mengasah kreativitas peserta seminar kala itu, Tere Liye  membuat tantangan agar membuat membuat satu kalimat dengan mengembangkan kata "Hitam" dan tulisan yang dikembangkan tersebut akan dibacakan oleh beliau di depan umum. Banyak orang kreatif yang berani mengajukan kalimatnya, semuanya keren-keren, sehingga saya juga termotivasi untuk membuat kalimat dengan kata "Hitam". Karena saya orangnya tidak ingin sama dengan yang lain, saya membuat kalimat dengan konteks berbeda, karena dari dulu saya adalah penganut adagium "Kalau tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah berbeda" sehingga saya menulis kalimat yang berbeda pada secarik kertas putih, dan saya serahkan kepada Tere Liye, dan kira-kira beliau pun membacanya seperti ini " Seekor kuda hitam melaju dengan kecepatan 20 KM/Jam disusul oleh mobil Lamborghini hitam dengan kecepatan 40 KM/Jam, kapan kah kuda hitam dan mobil lamborghini hitam akan bertemu?" Yaa, yang lain berlomba-lomba membuat membuat kalimat se puitis mungkin, sedangkan saya malah membuat soal fisika heheheh. Tak disangka respon para peserta malah ramai dan saya dipukul pukuli teman saya karena punchline yang saya berikan ke Tere Liye dapat menghiburnya. Bahkan beliau berkata " Saya sudah berkeliling seminar seperti ini ke berbagai tempat, dan baru kali ini saya mendapatkan orang yang malah membuat kalimat soal ujian di sesi belajar menulis ini. Kertas ini akan saya simpan, dan akan saya bacakan di seminar-seminar saya selanjutnya" dan apabila ada para pembaca yang pernah mengikuti seminar Tere Liye dan mendapat contoh pengembangan kata "hitam" tersebut, berarti kalimat tersebut adalah kata-kata saya pada tahun 2013 lalu, dan mungkin hanya itu yang bisa saya banggakan hingga saaat ini hahahah.

Yah, tak hanya disitu, tips lainnya agar tidak stuck dalam menulis adalah dengan perbanyak membaca, ibarat tulisan adalah pistol, sedangkan bahan bacaan adalah amunisinya. maka semakin banyak kita membaca referensi, maka semakin banyak pula yang kita tulis. Saya jadi teringat perkataan pemateri dikala saya juga mengikuti seminar pas semester 3 menjadi Mahasiswa, yang diadakan oleh UKM Pantun dan Seni Kreatif, pematerinya berkata seperti ini "Ide itu seperti binatang liar, tangkaplah ia dengan pikiran, dan ikatlah dengan tulisan" jadi jakalau ada ide yang terlintas, membayangi pikiranmu, segeralah tulis dan kembangkanlah sendiri di lain waktu, secara perlahan dan akan bermuara ke samudra luas yang indah *ngomong apasi gua.

Terakhir, apabila sudah melakukan hal diatas dan masih saja mengalami stuck dalam kurun waktu yang lama, maka hanya ada satu cara. Cara ini juga disampaikan oleh Tere Liye di akhir seminarnya, dari saat ia mengucapkannya hingga tulisan ini ditulis, sayapun secara konsisten melakukannya. Tahukah anda? bahwa cara terakhir adalah dengan menulis titik di akhir kalimat, dan berikan kalimat penutup untuk mengakhiri sebuah tulisan. FYI, Hafalan Shola Delisa itu berakhir karena Tere Liye sudah kehabisan kata-kata lagi untuk melanjutkan tulisannya, sebagian postingan saya sebelumnya di blog ini pun ada yang berakhir dengan hanya menaruh titik, namun tidak disadari oleh pembaca. Bahkan mungkin tulisanku yang ini dan kedepannya, adalah hasil dari tips terakhir yang diberikan oleh Tere Liye. Terima kasih pihak-pihak yang sudah mendukungku baik secara aktif maupun pasif dalam menulis, salah satunya adalah Tere Liye dan teman sebangku taman literasiku, bang Juru Tulis dan DakwaTillTheEnd yang membuat saya masih memiliki hobi untuk menulis hingga saat ini.

Salam Goresan Amatir!
Sekian

AKR, 7 Juli 2020

Sabtu, 13 Juni 2020

Malam Minggu

[Malam Minggu]


Tau kabar baik hari ini?
Bahwa langit masih elok dengan bulan sabit nya
Angin malam yg usaikan letihmu
Kilau cahaya pada atap langit
Atau kabar bahwa rupiah menguat di angka 13

Mungkin saja tidak
Atau mungkin kau sudah terbiasa
Kawan, kita hanya melihat apa yang menarik untuk kita
Meteor jatuh pun takkan terlihat jika kita tak tertarik tentangnya
Orang mulai abai dengan indahnya bintang di langit
Yang indahnya redup oleh remang lampu di perkotaan
Orang lebih asik menyaksikan gawai
Bias lampunya mungkin lebih bersinar dibanding pendar bulan

Mungkin ini bisa jadi justifikasi puisi Wira

Yang mengungkap
"Kelip bintang dan terang bulan terasa biasa,  entahlah mungkin mereka kalah meriah, oleh hatiku yang kian merekah"