"Lihatlah akhir jalan, sementara kau masih di depan gagasan. Berapa lama kau habiskan waktu dengan kata-kata?"
- Jalaluddin Rumi
Puisi diatas hanya reminder untuk diriku yang kebanyakan berkata-kata namun minim dalam pelaksanaan, semua hanya berakhir dengan gagasan dalam pikiran dan berujung wacana.
Disclaimer!! Tulisan ini mengandung self proud, harap diabaikan kenarsisan penulis!
Sering terjadi,
Ketika kita menulis cerita, puisi, balada, naskah drama, dan apapun yang tertuah diatas kertas pasti suatu saat akan terjadi mandeg. Hampir semua orang pernah mengalami hal tersebut, bahkan penulis terkenal seperti Tere Liye pun pernah merasakannya. Saya sendiri sebagai seorang blogger sering diterpa rasa malas dalam memulai atau melanjutkan tulisan saya heheh. Disini saya berbicara bukan sebagai orang yang berkapabilitas (etos) namun hanya ingin berbagi pengalaman dan insight yang selama ini kudapatkan apabila terjadi stuck ketika menulis.
Saya ingin bercerita sedikit tentang masa lalu saya sebagai pelajar, dimana saya masih jarang sekali menulis apapun, baik essay atau tulisan lain. Ketika saya SMP buku yang pertama kali saya baca adalah buku kisah tentang kisah Abu Nawas yang selalu saya bawa kemana-mana selama 3 bulan awal di pondok pesantren Gontor. Karena selama SMP anak gontor dididik untuk membawa buku kemanapun ia beranjak, kita mempelajari mahfudzot yang berbunyi "Teman terbaik dalam duduk adalah buku" jadi jangan heran kalo ke Gontor orang-orang disana rata-rata membawa buku dimanapun.
Singkat saja, di gontor pelajarannya sangat banyak, dalam satu semester harus menghafal 50-an mahfudzot, 40-an hadits, dan puluhan tafsir beserta 20-an mata pelajaran lainnya dalam satu semester. Sehingga jarang sekali kami mendapatkan waktu untuk membaca buku lepas. Saya sendiri pertama kali membaca novel adalah novel milik Ahmad Fuadi, karena di Gontor orang-orang yang mengikuti seminar, bedah buku, dibolehkan untuk tidak mengikuti pelajaran berlangsung, sehingga bisa libur sesaat dan mengikuti seminar buku yang diadakan. Buku novel yg saya ingat baca selama SMP sangat sedikit, bahkan masih bisa kuingat sampai sekarang. Berikut judul-judul novel yang pernah saya naca : Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Kemi (Cinta Kebebasan yang sesat)*Novel terseru. Saya tidak akan membahas pandangan saya terkait novel tersebut karena bisa jadi tulisan saya akan terlalu panjang.
Nah, disini nih poin dari postingan ini, ketika saya beranjak SMA, dan SMA saya bukan pesantren yang sangat disiplin dan keras seperti Gontor, saya tidak terlalu banyak dituntut hapalan dan pelajaran. Lalu di tengah semester diadakan event yang sangat menarik oleh OSIS SMAI NFBS diadakan lah seminar buku, yang bernama KOPI BUBUK (Konfrensi Pintar Buka-Bukaan Tentang Buku) pemateri yang diundang kala itu bernama Tere Liye, jujur saya sendiri bahkan belum tahu beliau. Mungkin karena kurang banyak melihat dunia luar heheh.
Jujur saja, awal saya akan mengikuti seminar tersebut agak setengah hati, karena waktu itu adalah hari sabtu (hari libur pesantren) namun karena dipaksa oleh senior akhirnya saya mengikuti KOPI BUBUK yang diadakan oleh OSIS SMAI NFBS kala itu. Satu hal yang saya sesali adalah bahwa saya masih belum bisa menghargai tamu undangan ini, dulu saya hanya menghargai orang terkenal atau yang kukenal saja. Namun, betapa indahnya jikalau kita menghargai setiap insan yang kita temui. Kita tak pernah tahu mereka lah orang yang akan sangat mengubah hidup kita ke depannya nanti. Yap, ketika saya mengikuti seminar tersebut, ekspektasi saya tentang kebosanan seminar terpatahkan, baru kali ini realitas tak sesuai ekspektasi terjadi begitu menyenangkan. Pria kelahiran Sumatera yang akrab disapa sebagai Darwis pun membuka mata saya, tidak selamanya mengikuti seminar itu membosankan. Bahkan saya merasa sangat dekat dengan beliau mungkin dari teknik dan gaya nya dalam membawakan acara, bahkan beliau tidak sungkan membeberkan fakta istrinya yang dulu tidak bisa masak dan fakta-fakta lainnya tentang kehidupannya sehingga acara tersebut begitu menarik diikuti.
Pada seminar kali itu, saya menyesal karena membuat pemateri menunggu sehingga waktu seminar yang dirasa begitu sangat singkat. Banyak hal yang bisa dipelajari, dan pada saat itu beliau menekankan pentingnya membaca dan menulis. Namun kali ini saya hanya ingin berfokus pada scoope menulis agar sesuai dengan judul. Beliau menekankan bahwa menulis itu sangat penting dijelaskan dengan dua analogi:
1. Ialah dokter dengan 500an pasien per tahunnya, dan dia berhasil menyembuhkannya, sebagian dia menggratiskannya, dan sangat banyak orang yang menyukainya
2. Dokter dengan yang tidak sempat membuka praktek, karena dia harus fokus untuk merawat ibunya yang terkena penyakit stroke, hari demi hari, bulan demi bulan ia lewati, hingga akhirnya sang dokter dapat menyembuhkan ibunya. Di waktu senggang sembari merawat ibunya dengan kasih sayang, ia juga menyempatkan menulis cara merawat ibunya yang terkena penyakit tersebut dan menyelesaikan bukunya dengan judul catatan merawat ibu dengan sangat detil. Tak lama setelah itu bukunya laris dan dicetak berulang kali.
Mana yang lebih bermanfaat? tentunya dua-duanya sama bermanfaatnya, namun dengan menulis banyak orang yang tercurahkan dan mudah mendapatkan bukunya, karena terus dicetak dan dicetak sehingga banyak orang yang membacanya dapat membantu orang-orang yang memiliki penyakit yang sama dengan ibunya karena buku yang telah termaktub. Daripadanya kita mengetahui, betapa bermanfaatnya apabila kita menulis, kau tidak akan langsung menyadarinya secara singkat kawan.
Tak sampai disitu, Tere Liye tak hanya memberitahu se bermanfaat apakah orang menulis, ia juga memberitahu tips-tips ampuh dalam menulis. Bagaiamana agar kita dapat menulis banyak hal dan tidak stuck dalam menulis sesuatu. Dia memberi tips pertama.
Dalam menulis, orang terlalu miskin kata-kata, mereka membatasi kosa-kata yang sudah ada dalam pikirannya tersebut, semisal banyak sekali orang mengkonotasikan sebuah kosa-kata memiliki arti yang negatif. Misalnya, hitam selalu dipandang sebagai kata-kata yang jelek. Padahal setiap kata yang telah tercipta itu bisa saja menjadi indah, apabila kita rangkai dengan baik.
Tak sampai disitu, Tere Liye tak hanya memberitahu se bermanfaat apakah orang menulis, ia juga memberitahu tips-tips ampuh dalam menulis. Bagaiamana agar kita dapat menulis banyak hal dan tidak stuck dalam menulis sesuatu. Dia memberi tips pertama.
Dalam menulis, orang terlalu miskin kata-kata, mereka membatasi kosa-kata yang sudah ada dalam pikirannya tersebut, semisal banyak sekali orang mengkonotasikan sebuah kosa-kata memiliki arti yang negatif. Misalnya, hitam selalu dipandang sebagai kata-kata yang jelek. Padahal setiap kata yang telah tercipta itu bisa saja menjadi indah, apabila kita rangkai dengan baik.
Lalu untuk mengasah kreativitas peserta seminar kala itu, Tere Liye membuat tantangan agar membuat membuat satu kalimat dengan mengembangkan kata "Hitam" dan tulisan yang dikembangkan tersebut akan dibacakan oleh beliau di depan umum. Banyak orang kreatif yang berani mengajukan kalimatnya, semuanya keren-keren, sehingga saya juga termotivasi untuk membuat kalimat dengan kata "Hitam". Karena saya orangnya tidak ingin sama dengan yang lain, saya membuat kalimat dengan konteks berbeda, karena dari dulu saya adalah penganut adagium "Kalau tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah berbeda" sehingga saya menulis kalimat yang berbeda pada secarik kertas putih, dan saya serahkan kepada Tere Liye, dan kira-kira beliau pun membacanya seperti ini " Seekor kuda hitam melaju dengan kecepatan 20 KM/Jam disusul oleh mobil Lamborghini hitam dengan kecepatan 40 KM/Jam, kapan kah kuda hitam dan mobil lamborghini hitam akan bertemu?" Yaa, yang lain berlomba-lomba membuat membuat kalimat se puitis mungkin, sedangkan saya malah membuat soal fisika heheheh. Tak disangka respon para peserta malah ramai dan saya dipukul pukuli teman saya karena punchline yang saya berikan ke Tere Liye dapat menghiburnya. Bahkan beliau berkata " Saya sudah berkeliling seminar seperti ini ke berbagai tempat, dan baru kali ini saya mendapatkan orang yang malah membuat kalimat soal ujian di sesi belajar menulis ini. Kertas ini akan saya simpan, dan akan saya bacakan di seminar-seminar saya selanjutnya" dan apabila ada para pembaca yang pernah mengikuti seminar Tere Liye dan mendapat contoh pengembangan kata "hitam" tersebut, berarti kalimat tersebut adalah kata-kata saya pada tahun 2013 lalu, dan mungkin hanya itu yang bisa saya banggakan hingga saaat ini hahahah.
Yah, tak hanya disitu, tips lainnya agar tidak stuck dalam menulis adalah dengan perbanyak membaca, ibarat tulisan adalah pistol, sedangkan bahan bacaan adalah amunisinya. maka semakin banyak kita membaca referensi, maka semakin banyak pula yang kita tulis. Saya jadi teringat perkataan pemateri dikala saya juga mengikuti seminar pas semester 3 menjadi Mahasiswa, yang diadakan oleh UKM Pantun dan Seni Kreatif, pematerinya berkata seperti ini "Ide itu seperti binatang liar, tangkaplah ia dengan pikiran, dan ikatlah dengan tulisan" jadi jakalau ada ide yang terlintas, membayangi pikiranmu, segeralah tulis dan kembangkanlah sendiri di lain waktu, secara perlahan dan akan bermuara ke samudra luas yang indah *ngomong apasi gua.
Terakhir, apabila sudah melakukan hal diatas dan masih saja mengalami stuck dalam kurun waktu yang lama, maka hanya ada satu cara. Cara ini juga disampaikan oleh Tere Liye di akhir seminarnya, dari saat ia mengucapkannya hingga tulisan ini ditulis, sayapun secara konsisten melakukannya. Tahukah anda? bahwa cara terakhir adalah dengan menulis titik di akhir kalimat, dan berikan kalimat penutup untuk mengakhiri sebuah tulisan. FYI, Hafalan Shola Delisa itu berakhir karena Tere Liye sudah kehabisan kata-kata lagi untuk melanjutkan tulisannya, sebagian postingan saya sebelumnya di blog ini pun ada yang berakhir dengan hanya menaruh titik, namun tidak disadari oleh pembaca. Bahkan mungkin tulisanku yang ini dan kedepannya, adalah hasil dari tips terakhir yang diberikan oleh Tere Liye. Terima kasih pihak-pihak yang sudah mendukungku baik secara aktif maupun pasif dalam menulis, salah satunya adalah Tere Liye dan teman sebangku taman literasiku, bang Juru Tulis dan DakwaTillTheEnd yang membuat saya masih memiliki hobi untuk menulis hingga saat ini.
Salam Goresan Amatir!
Sekian
AKR, 7 Juli 2020





0 komentar:
Posting Komentar