Sejauh manakah cakrawala etika kita? ujung-ujungnya permasalahan ini kembali kepada pertanyaan tentang identitas. Apakah manusia itu? dan siapakah aku? jika aku hanya diriku --- badan yang sedang duduk dan menulis ini --- maka aku adalah sekadar suatu ciptaan tanpa harapan. Dalam penegertian yang luas. Namun, aku memiliki sebuah identitas yang lebih mendalam ketimbang sekadar badanku dan masa hidupku yang singkat di bumi ini. Aku adalah bagian dari --- aku juga mengambil bagian dalam --- sesuatu yang lebih besar dan lebih berkuasa ketimbang diriku sendiri.
Jika aku dapat memilih antara mati saat ini, tapi dengan jaminan bahwa umat manusia akan terus lestari ribuan tahun ke depan, atau hidup dalam kondisi sehat sampai umurku seratus tahun, lalu seluruh kemanusiaan ikut mati bersamaku --- maka aku tidak akan ragu-ragu dengan pilihanku. Aku pasti akan memilih mati saat ini juga --- dan tidak sebagai korban, melainkan karena sebagian dari apa yang aku anggap sebagai "aku" mewakili keseluruhan umat manusia. Dan aku takut kehilangan bagian dari diriku ini. Hanya sekadar pikiran bahwa itu dapat terjadi, sudah membuatku ketakutan setengah mati. Aku lebih khawatir akan umat manusia yang akan musnah dalam waktu seratus atau seribu tahun ketimbang badanku sendiri yang akan hancur terurai --- hal ini, toh sudah pasti akan terjadi pada suatu hari.
Lagi pula dalam hal ini aku berpikir sebagai wakil dari keseluruhan planet tempat hidupku. Itu semua menjadi aku. Aku peduli dengan nasib planet ini karena aku takut kehilangan bagian inti terdalam dari jati diriku.
Gambar 1.1 Dunia Anna ( Sumber Google)
Diambil dari buku
Dunia Anna - Jostein Gaarder





0 komentar:
Posting Komentar