Kau tidak mengenal siapapun dan seseorang tidak mengenalmu, di saat yang sama kau tidak merasa asing.
Tapi kini kau mengenal siapapun dan siapapun mengenalmu, kesepian menyelimutimu.
Kamu lah jiwa-jiwa yang sepi, tak jarang tak menegur satu sama lain, selalu menghindari keramaian, karena pikiran yang terbebani. Dia pedulikah? Dia kenal kah? Begitu banyak asumsi yang muncul dari kepala si pendiam, sesuatu yang muncul dari kekhawatiran itu sendiri. Sedang orang lain hanya menatap sekilas dan berlalu.
Bisakah kekhawatiran itu lepas? Apakah aku terlihat seperti orang tak berdaya? Bisakah mereka mengajakku berbicara? Tidak, dia hanya menilaimu dari apa yang kau perbuat. Ayo lakukan satu langkah agar merubah pandangan mereka, namun tak satupun langkah yang dilakukan dan kamu kembali ke titik awalmu.
Terlalu banyak pertanyaan di waktu yang bersamaaan, sebenarnya juga pertanyaan tersebut tidak penting untuk dijawab, sia-sia untuk dilontarkan.
Sebaiknya kamu memandang kucing tersebut, kucing milik pak Topik. Kau pikir dia kesepian, dan sepertinya ia mau mendekati kucing betina, namun tidak ada bahan. Ya sudah, dia kabur cari topik agar ada bahan berbincang dengan kucing berparas itu. Beranjak dewasa dia sadar, cari makan ternyata susah, dan dekat dengan yang lain tiada artinya bila nanti mati, akhirnya dia kembali cari Topik lagi. Tapi Topik yg dia cari ialah tuannya yang telah meninggal, sungguh malang sekali nasibmu.
kemanakah terbangnya burung itu?
Dengan nada yang ragu, suara yang parau
"Oh Hai" sial, aku harus terbiasa dengan ini
Inspired by life (lief)
30 Desember 2022





0 komentar:
Posting Komentar