Selamat pagi malam senja para pembaca
Begitu banyaknya tekanan hidup, pertanyaan misterius yang terus menggentayangi pikiranku, hingga akhirnya sang penulis ingin membuat sebuah konten bernama PeSoLO yang berarti "Pemikiran Sok fiLosofis"
Mengapa saya menamakan pemikiran sok filosofis? kita sendiri tahu bahwa filosofi secara etimologi terdiri dari kata filo dan sophia yang berarti pecinta kebijaksanaan, dengan catatan bahwa dengan mencintai sebuah kebijaksanaan bukan berarti apa yang saya tulis dan pikir itu bijak dan benar secara mutlak yaa. Misalnya saya mencintai dia "ada apanya" belum tentu saya ini orang yang ada apanya hahah.
Disini saya hanya memaksa akal saya agar tetap bekerja, agar ia sehat dengan terus diasah dengan pertanyaan-pertanyaan dasar dan sederhana tentang kehidupan ini. Apabila terdapat kekeliruan dalam tulisan dan pikiran saya tolong koreksi, karena hal yang sangat wajar untuk seorang manunsia untuk melakukan hal tersebut, namun jika jawaban yang saya paparkan keliatan benar, berarti itu hanya kebetulan saja atau mungkin pada masa ini dianggap benar dalam sudut pandang tertentu, bisa jadi pasca tulisan ini akan ada pemikiran-pemikiran baru yang dianggap lebih benar, jadi jikalau kebetulan benar berarti itu karena saya yang sok filosofis atau lebih tepatnya kebenaran sementara. Sudahi basa-basi, mari kita mulai!
Mari kita mulai pembahasan dengan quote berikut
Semua yang kita dengar adalah opini bukan fakta, semua yang kita lihat adalah perspektif bukan kebenaran
- Marcus Aurelius
Kalimat tersebut telah berlangsung begitu lamanya, semenjak Abad ke-2 M seorang kaisar sekaligus filsuf mengemukakan pendapatnya tentang kebenaran. Lantas apakah kebenaran itu?
apakah kebenaran itu sesuatu yang bersifat menguntungkan?
apakah kebenaran itu jelas bentuknya?
apakah kebenaran itu bersifat tidak merugikan orang lain?
atau apakah kebenaran itu bersifat netral, tidak merugikan dan tidak menguntungkan?
tidak ada jawaban yang jelas, hingga sekarang pertanyaan tersebut hanya dipikirkan sebagian orang, dan sebagian besar lainnya melupakan atau mulai terbiasa melupakan apakah ada batasan dari kebenaran itu sendiri, mereka menjalani kehidupan ini dan tak pernah lagi berfikir apakah itu kebenaran. Bagaimana kah kebenaran absolut itu, apakah bersifat konkret? atau bersifat abstrak?
Sekali lagi tidak ada jawaban yang mutlak, mungkin sebagai orang Indonesia kita bisa punya panutan sebagai landasan tentang apakah kebenaran itu sendiri, mungkin seorang aktivis yang meninggal di usia dini bisa menjadi landasan pemikiran kita terkait kebenaran
Kebenaran hanya ada di langit dan dunia hanyalah palsu dan palsu
- So Hok Gie
Sekali lagi, dari ungkapan beliau apakah akhirnya kita dapat mengetahui apa itu kebnaran? kebenaran di dunia hanyalah palsu dan palsu. orang menganggap sesuatu benar apabila itu baik untuk dia, dan pada akhirnya semua bergantung selama hasrat dari manusia itu terpuaskan.
Belum sampai disitu, Seorang sastrawan kita yang sudah cukup tua pun punya pandangan namun bukan tentang kebenaran, melainkan tentang opini dan fakta sebagaimana diungkapkan oleh Marcus Aurelius belasan abad sebelumnya. Bapak Sapardi Djoko Damono pun memiliki pandangan bahwa buku yang kita baca, berita, fakta, kolom opini yang kita baca semuanya adalah fiksi dan opini. mengapa demikian? karena pada dasarnya apa yang kita baca, apa yang kita dengar itu menurut sudut pandang sang narasumber, orang yang mengungkap hal tersebut. Contoh surat kabar dengan berita kebahagiaan. Mereka berkata bahwa seseorang yang bahagia menari di acara pesta itu karena mendapatkan kekasih baru, namun apakah benar ia menari karena itu. atau apakah benar ia menari? atau ia sedang bersedih? fakta atau opini apapun itu akan berubah dari sudut pandang masing-masing orang sehingga kembali lagi tolak ukur kebenaran hanyalah bersifat kesepakatan dan berlangsung sementara. Apa yang kita anggap benar saat ini belum tntu benar di masa depan. Kebenaran teruslah berevolusi dan sepertinya moral, etika, kebenaran akan terus tergerus dengan perubahan jaman.
Namun, setiap waktu saya selalu dihujani apakah kebenaran itu? argumen diatas menjadi salah satu faktor bagiku untuk menyingkap kebenaran yang bersembunyi dalam tirai abu-abu saat ini. Dalam pandanganku, apa yang tertulis maupun terucap oleh siapapun pastinya akan berubah menjadi sebuah opini. Baik yang diucapkannya adalah fakta maupun yang tersirat itu tetaplah sebuah opini, karena yang menulis dan mengucapnya adalah Manusia. Sumbernya dari akal manusia itu sendiri. Beda dengan Al-Kitab, Furqan atau biasa kita sebut kitab suci yaitu Al-Qur'an. Semua yang berada didalamnya berasal dari Tuhan itu sendiri sehingga tidak terdapat kekeliruan di dalamnya. Al-Quran turun sebagai kabar gembira dan peringatan akan adanya hari kebangkitan buat masnusia di bumi, khususnya orang Mukmin. Jadi, pada kesimpulan kali ini, sesuatu itu dianggap benar, jikalau hanya bersumber dari Tuhan. dan percayalah itu
Salam Goresan Amatir
11 Juni 2020
AKR





0 komentar:
Posting Komentar