Pergi ke luar negeri itu sekali kali boleh lah
bukan untuk refreshing
Tapi untuk memperkaya perspektif
Tahun ini merupakan tahun yang berbeda dari sebelumnya, sudah tidak mengemban amanah lagi di organisasi, sudah mencapai tahap akhir dari masa kuliah (skripsian), mendekatkan diri dengan hal yang berbau jurusan ku yaitu Teknik Industri, dan yang paling spesial ialah mendapatkan kesempatan untuk ikut berkompetisi di negeri tetangga yaitu negeri Malaysia.
Sudah hal biasa, ketika kita berkunjung ke luar negeri, hal yang pertama kita rasakan tak lain tak bukan adalah "takjub". sehebat itu Allah SWT menciptakan manusia yang bisa membuat kota yang lumayan indah yang bernama Kuala Lumpur. Mungkin menurut saya itu adalah salah satu kota indah yang saya kunjungi (Mungkin karena kota ku masih tahap berkembang atau saya kurang jauh mainnya blm liat jakarta atau surabaya). Satu hal yang saya sadari sebagai sesama ras asia dan memiliki darah melayu. Orang disana itu memiliki lifestyle yang tertib. berbeda di Indonesia antri makan aja banyak yang nyelak, ngebut di jalanan, banyak pak ogah di tempat putar balik kendaraan, penjual berserakan dimana-mana yang membuat kota terlihat tidak rapih. Pertanyaannya kenapa mereka bisa sedangkan kami tidak?
Sekedar pengetahuan aja, disana ada 3 ras. Ras melayu, China, dan India. jadi jangan kaget disana banyak penjual roti Canai yang nikmatnya ngalahin restoran2 di Indonesia, dan harganya pun murah meriah. Mungkin yang membuat negara mereka maju dikarenakan 3 ras tersebut saling bersaing, sehingga membuat hidup mereka keluar dari zona nyaman. mereka tidak akan berleha-leha, karena kapan pun mereka santai pasti akan langsung digilas oleh ras lain. Sedangkan di Indonesia, masih sibuk tawuran antar suku. Bukankah hal ini yang harus kita ubah
Saya tidak ingin kita berpusing-pusing disini, karena sang penulis hanya ingin menceritakan pengalaman dan pemandangan yang didapat di negeri jiran. dan bagaimana caranya agar kita juga bisa pergi kesana.
Singkat Cerita sang penulis beserta tim (Ardi, Gue, dan Fia) anak teknik Industri yang kebetulan mendapat kesempatan berlomba tentang entrepreneur. yaa sudah jadi ajang yang sering dijumpai di kampusku, begitu banyak lomba dan workshop yang telah diikuti jadi apa salahnya kita mengikuti lomba tersebut. Kita mendapat undangan untuk mengikuti acara, dimana acara ini kami membayar separuh, dikarenakan dari pihak fakultas hanya menyediakan dana setengah (Particial Fund) untuk kami dalam mengikuti lomba Global Youth Entrepreneur Summit.
Gambar 1.1 Berfoto di depan gedung MaGIC
Jadi, di Malaysia tuh, tepatnya di Selangor adalah kawasan teknologi, segala hal yang berbau daring pusatnya ada di selangor, ya sekitaran gedung MaGIC. MaGIC sendiri merupakan kepanjangan dari Malaysian Global Innovation Center. Jadi, banyak start up yang ada dikembangkan di gedung tersebut, ada Co-Working Space, ada MaGIC Central yang mana meneydiakan informasi tentang wirausaha dan fasilitasnya dimana telah berkolaborasi dengan berbagai agensi, ada mentorship juga, dan masih banyak aktivitas inovasi lainnya yang berjalan di gedung tersebut. Untuk mengakses lokasinya, kami sendiri menaiki kereta terlebih dahulu ke Cyberjaya, yang memakan uang sekitar 5 ringgit lah. terlihat sedikit tapi kalo di rupiahkan udah seharga nasi kuning pake ayam dan telur. lalu untuk pergi ke Apartemen yang lokasinya gak jauh dari gedung MaGIC sekitar 15-20 ringgit dengan menggunakan aplikasi grab. jadi per orang membayar lagi 5 ringgit. Dari Apartemen kesana naik aplikasi grab itu membayar lagi sebanyak 9 ringgit. Oh ya, grab di Indonesia dan di Malaysia itu beda jauh loh. malahan bagusan di Indonesia, karena mereka memiliki pesaing yang hebat yaitu Go-JEK. sekali lagi, saingan itu sangat bagus untuk meningkatkan potensi diri dan bisa benchmarking dengan perusahaan saingan juga. Di Malaysia Grab nya hanya sebatas Mobil saja, dan relatif mahal. ada mobil yang hanya bisa menampung 1-4 orang, dan ada juga yang menampung hinggga 7 orang. Disana gak ada Grab motor, juga baru ada yang namanya grabfood, itupun pembayarannya gabisa cash ditempat, jelek kan dan masih banyak lagi, coba kalian buktikan sendiri kalau ada kesempatan untuk ke malaysia. hehe
Apartemen di Malaysia juga gak mahal-mahal amat. Malahan lengkap banget, ada kulkas, kamar mandi dengan air panas, ada mesin cuci, tv, setrika, kompor, peralatan dapur, kulkas, wifi, pokoknya ada semua deh dan yang paling mengejutkan, harganya hanya 300an ribu per malam. gilaa gak tuh. mana bisa cukup buat 5 orang lagi.
Kita mulai di hari pertama lomba. dimana kita dikumpul ke dalam satu ruangan yang terdapat 20 tim di dalamnya. disitu saya merasa sedikit waspada, jangan sampai ide kami ada yang sama dengan seseorang di ruangan, dan idenya lebih menarik. Seorang juri masuk dan tiba tiba menyuruh kami mengatakan AMMACAAM, katanya itu ibarat ucapan selamat pagi dalam Malaysia. Sang juri mengatakan sebelum sesi presentasi, kita diberikan waktu untuk mentoring terkait ide wirausaha kita, dan urutannya berdasarkan kertas yang diambil. karena tangan saya termasuk tangan beruntung , jadinya kelompok kami dapat urutan hampir terakhir.
Sembari menunggu, kelompok kami berkenalan dengan kelompok yg ada di dekat kami, tidak disangka bahwa orang yang kita ajak kenalan ternyata teman senior di kampus, akhirnya kita foto selfie bareng sama dia (namanya kak kevin). lalu berkenalan sama 3 remaja, 2 orang kembar dan satu orang yang masih sangat muda, walaupun muda tapi skill nya melebihi orang tua. Namanya Nanda dan Dinda mereka anak kembar yang terpisah, satu kuliah di UGM dan satunya di UB, lalu yang masih kecil itu bernama Nadya, masih umur 15 tapi udah kuliah semester 3 di UGM. Panutan anak muda emang.
Video 1.1 Bersama teman pertama
Jadi yang paling depan itu namanya nanda, pertama kenal orangnya friendly, pede nya overload jadinya gampang ngobrol ama dia, nah kembarannya itu namanya adinda, orangnya humble dan strong, karena suka mendaki. mendaki kasih sayang yang fana. disampingnya itu namanya Nadya, anak baru gede yang sendirian nekat ke Malaysia untuk mengikui lomba ini. walaupun gitu ternyata sebelumnya dia udah ke Malaysia juga ternyata. sisanya yaa teman satu tim ku, yang cewe namanya Fia cikal bakal mawapres Unhas. lalu partner saya yang namanya Ardi.
Nah, setelah kita ngobrol sama mereka akhirnya yang lain juga pada ikutan ngobrol dan kita sempat bercakap dan tawa dengan teman sekitar bangku. wah ternyata semua orang disini asik juga. Sempat bercakap dengan orang nepal yang pernah terjun dari atas langit, tapi dianya pakai parasut yaa haha.
Hingga akhirnya tiba giliran tim kami untuk mentoring tentang ide yang akan kita bawa ke salah satu juri. Ide kami adalah distribusi bahan pangan seperti beras, telur, daging melalui perantara daring. Yaitu E-SCM (Electronic- Suppply Chain Management) dimana kita membuat e-commerce buat para supplier bahan pangan, agar langsung memotong rantai pasok dari tengkulak hingga langsung ke wholeseller sehingga jatuhnya dengan harga lebih murah. Namun, juri berpendapat lain. bahkan dia menilai bahwa project tim kami hampir mirip dan tidak ada bedanya dengan Grab/Go-JEK. sepertinya disini ada misunderstanding antara kami dan juri, karena jurinya logat british sehingga ada sedikit kendala di mentoring kami. Pastinya kami tidak tinggal diam, dan Fia sebagai orang terpintar pertama bahasa inggris beraksi (saya yang kedua). seperti apakah aksinya??!!
See u on Part 2
salam goresan amatir
Alief Karunia R
Pangkep, 13 Mei 2019